'Perdamaian di Papua Tak Bisa Terwujud, Jika Masih ada Jual Beli Senjata'

Merdeka.com - Merdeka.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyoroti kejadian yang menimpa empat warga Kampung Pigapu, Distrik Mimika Timur, Mimika. Mereka tewas dimutilasi setelah menjadi korban perampokan.

Komisioner Komnas HAM Choirul Anam meminta, pengusutan modus jual-beli senjata pada kasus tersebut. Pihaknya ingin kasus itu jadi prioritas dalam perkara ini.

"Yang juga paling penting di luar konteks ini ya kalau itu memang benar misalnya ada pemberitaan terkait membawa duit katanya juga untuk jual-beli senjata, isu ini isu signifikan. Jadi ya kami memang berharap disamping kasus ini bisa terang benderang dan sebagainya," kata Anam kepada wartawan, Kamis (1/9).

"Kalau memang ada soal-soal jual beli senjata dan sebagainya, kami minta itu juga diprioritaskan," sambungnya.

Selain itu, Anam ingin agar isu jual-beli senjata dapat diungkap secara terang benderang. Karena, ia juga ingin Papua menjadi damai dan kesejahteraan meningkat.

"Kita ingin Papua itu damai. Kita ingin Papua enggak ada kekerasan, kita ingin Papua kesejahteraan semakin meningkat dan lain sebagainya," ujarnya.

Akan tetapi, hal itu menurutnya tidak akan terwujud apabila masih adanya jual-beli senjata.

"Tapi itu tidak mungkin bisa terwujud, karena senjata masih bisa diperjualbelikan dan itu terjadi di mana saja. Jadi di belahan dunia lain pun tidak mungkin ada perdamaian, kalau masih ada jual beli senjata," tutupnya.

4 Warga di Mimika Dimutilasi

Polisi sebelumnya menangkap dan menahan tiga terduga pembunuh empat warga sipil di Timika, Mimika, Papua. Tiga terduga pelaku ditahan di Polres Mimika terkait pembunuhan warga yang jenazahnya ditemukan secara terpisah di beberapa tempat di Timika.

Direktur Reskrimum Polda Papua Kombes Faizal Rahmadani mengatakan, tiga terduga pelaku yaitu APL alias Jeck, DU dan R. Ketiganya diduga melakukan pembunuhan pada tanggal 22 Agustus lalu ditangkap di lokasi berbeda.

Para pelaku diduga lebih dari tiga orang. Namun untuk memastikan polisi masih melakukan pendalaman.

Dari penyelidikan dilakukan polisi, pembunuhan terjadi tanggal 22 Agustus sekitar pukul 21.50 WIT di kawasan SP 1, Distrik Mimika Baru.

Korban bernama Arnold Lokbere, Irian Nirigi, Leman Nirigi dan seorang korban lainnnya belum diketahui identitasnya. Jasadnya dibuang di sekitar sungai Kampung Pigapu, Distrik Iwaka.

Mobil rental yang awalnya digunakan salah satu korban yakni Toyota Calya warna merah tanpa plat nomor dibakar.

Pada Jumat (26/8) jenazah Arnold Lokbere ditemukan dalam kondisi mengenaskan dan Sabtu (27/8) kembali ditemukan sesosok jenazah yang juga dalam kondisi mengenaskan dengan identitas yang belum diketahui.

"Dua jenazah lainnya hingga kini belum ditemukan, dan apa motif pembunuhan sadis itu juga belum dipastikan," kata Faizal di Jayapura, Minggu (28/8).

6 Prajurit TNI Terlibat

Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Teguh Muji Angkasa mengakui enam anggota TNI AD yang bertugas di Brigif 20 Kostrad diduga terlibat dalam kasus pembunuhan yang menewaskan empat warga sipil di Timika, Papua. Teguh menyebut dua korban ditemukan dalam kondisi termutilasi.

"Memang betul telah terjadi dan telah ditemukan dua jenazah, di antaranya korban mutilasi yang terjadi di Timika. Saat ini keenam prajurit sudah ditahan di Den POM Timika. Motif dan latar belakangnya masih didalami," kata Mayjen TNI Teguh Angkasa di Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura, dilansir Antara, Senin (29/8).

Teguh Angkasa mengakui Panglima TNI dan Kasad telah memerintahkan untuk melakukan pemeriksaan dan investigasi terhadap kejadian tersebut. Kodam XVII Cenderawasih telah bekerjasama dengan Polda Papua untuk mengungkap fakta yang terjadi karena hukum harus ditegakkan.

"Bahkan tim sudah melakukan pemeriksaan terhadap keenam prajurit," jelas Teguh Angkasa.

Keenam anggota TNI-AD yang diduga terlibat dalam insiden pembunuhan empat warga sipil itu yakni Mayor Inf Hf, Kapten Inf Dk, Praka Pr, Pratu Ras, Pratu Pc dan Pratu R. [rnd]