Perdana, Terawan Suntikan Vaksin Nusantara ke Aburizal Bakrie

Dedy Priatmojo, Siti Ruqoyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Aburizal Bakrie (ARB) menerima suntikan vaksin Nusantara, Jumat, 16 April 2021. Sepekan sebelumnya, Aburizal Bakrie telah diambil sampel darahnya di RSPAD Gatot Soebroto untuk kemudian dipisahkan sel dendritiknya dan disuntikkan kembali ke pasien hari ini.

Juru bicara Aburizal Bakrie, Lalu Mara Satria Wangsa membenarkan petinggi Golkar itu telah disuntik vaksin Nusantara hari ini. Ia mengatakan ARB telah diambil sampel darahnya pekan lalu, kemudian diteliti dan diproses oleh tim dokter yang menangani, dan pada siang ini disuntikan kembali.

"Pak Aburizal sudah suntik vaksin Nusantara. Tadi jam 14.00 Wib di RSPAD," kata Lalu Mara kepada VIVA.

ARB mendukung dan mendoakan agar vaksin Nusantara sukses dan bermanfaat bagi masyarakat, pun dengan vaksin-vaksin buatan dalam negeri lainnya.

Dari foto-foto yang diterima redaksi VIVA, Aburizal Bakrie yang mengenakan kaos berkerah biru kombinasi hitam duduk di sebuah ruangan bersama mantan Menkes Terawan Agus Putranto.

Aburizal sempat mendapat penjelasan dan ditunjukkan cairan yang akan disuntikkan oleh Terawan. Kemudian, Terawan sendiri yang menyuntikkan vaksin Nusantara kepada Aburizal Bakrie disaksikan tim medis lainnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Aburizal Bakrie menjadi orang pertama yang disuntik vaksin nusantara yang digagas oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Meskipun, vaksin nusantara belum mendapat izin dari Badan POM.

Lalu Mara menjelaskan alasan Aburizal bersedia menjadi relawan untuk disuntik vaksin nusantara, meskipun belum ada izinnya. Menurutnya, Aburizal sangat yakin dengan kemampuan kapasitas dokter Terawan.

"Beliau yakin dengan kemampuan Pak Terawan, karena beliau selama ini juga tindakan medis lewat metode brain wash-nya sama Pak Terawan. Jadi mendukung (vaksin nusantara)," ujarnya.

Vaksin Nusantara ini diinisiasi Dokter Terawan bekerja sama dengan Litbangkes Universitas Diponegoro, tim laboratorium RSUP Dr. Kariadi Semarang, dan Aivita Biomedical Corporation dari Amerika Serikat, dan Rama Pharma.

Vaksin Nusantara sangat berbeda dengan vaksin COVID-19 yang sudah ada. Jika vaksin yang sudah dipakai saat ini ada yang dibuat dengan memakai virus yang dimatikan seperti buatan Sinovac misalnya, atau ada juga yang terbuat dari materi mRNA seperti buatan Pfizer Biontech, maka Vaksin Nusantara dibuat dengan materi sel dendritik.

Sel dendritik merupakan komponen dari sel darah putih yang diambil dari darah subyek pasien yang sehat. Kemudian sel tersebut dipaparkan dengan antigen protein S dari SARS-CoV-2. Sel dendritik yang telah mengenal antigen akan diinjeksikan kedalam tubuh subyek kembali.

"Di dalam tubuh, sel dendritik tersebut akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap SARS-CoV-2, sehingga diharapkan mampu melindungi penerima vaksin dari infeksi COVID-19 di masa yang akan datang," kata pneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang yang ikut ambil bagian dalam pembuatan Vaksin Nusantara, dr. Yetty Movieta Nency, Sp.A (K), IBCLC.

Meski demikian, BPOM memastikan belum mengeluarkan izin Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) uji klinis fase II untuk vaksin Nusantara. BPOM menilai masih banyak ditemukan kejanggalan dan pengabaian standar atau tahapan ilmiah yang dipersyaratkan, sehinggatidak bisa lanjut ke proses berikutnya.