Perdebatan China-RI soal Pembengkakan Biaya Kerata Cepat Jakarta-Bandung Tuntas

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim perdebatan soal pembengkakan biaya (cost overrun) yang terjadi di proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) antara Indonesia dan China sudah tuntas.

"Kereta Cepat (Jakarta-Bandung) saya kira bagus. Cost overrun sudah kita selesaikan," ujar Menko Luhut, Jumat (28/10).

Luhut pun menampik adanya beda perhitungan terkait penambahan biaya dalam proyek tersebut. "Enggak juga, sudah ketemu angkanya," sebut dia.

Menurut dia, diskusi alot soal pembengkakan biaya tersebut terjadi akibat adanya kerusakan kontur tanah pada proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. "Ada tiga panel yang saya kira terganggu, tapi saya kira sudah selesai," kata Luhut.

Sebelumnya, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) juga sempat menjelaskan soal adanya cost overrun yang terjadi di proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Direktur Utama PT KCIC Dwiyana Slamet Riyadi mengungkapkan, Pemerintah RI dan China punya versi masing-masing soal pembengkakan biaya proyek, dan ini masih dalam tahap negosiasi.

"Sekali lagi ya, ini masih negosiasi Pemerintah Indonesia dengan Tiongkok. Kemarin ada pemberitaan kenapa asumsi cost overrun Pemerintah dan Tiongkok berbeda, karena memang masing-masing punya konsultan. Konsultannya punya asumsi yang berbeda," jelasnya di Stasiun Tegalluar, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu.

Sebagai contoh, Dwiyana menyebut konsultan dari pihak China menghitung biaya GSMR untuk 900 MHz itu free charge, tidak dihitung sebagai pembiayaan. Pemerintah China menyediakan frekuensi itu yang didedikasikan untuk pengoperasian kereta api.

"Tapi kalau disini enggak bisa. Dari tahun 1992 900 MHz untuk GSMR sudah dipakai industri telekomunikasi. Jadi kami diminta untuk kerjasama dengan Telkomsel," papar dia.

"Di situ ada investasinya, hampir sekitar Rp 1,3 t untuk clearence frekuensi dan lain-lain. Sehingga tidak mengganggu antara frekuensi telekomunikasi dengan kami," ungkap Dwiyana. [idr]