Perempuan & anak korban kekerasan seksual alami dampak lebih besar

·Bacaan 1 menit

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga mengatakan perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan seksual akan mengalami dampak negatif yang lebih besar dibandingkan dengan laki-laki.

"Meskipun kekerasan seksual dapat terjadi kepada siapa pun, kapanpun, termasuk laki-laki, tetapi perempuan dan anak lebih rentan menjadi korban dan lebih mengalami dampak negatif yang berkelanjutan," kata Menteri PPPA Bintang Puspayoga dalam talkshow Peringatan Hari Kartini bertajuk "Stop Kekerasan Seksual Perempuan dan Anak" yang diikuti di Jakarta, Rabu.

Hal tersebut, menurut dia, disebabkan karena perempuan dan anak masih dikategorikan sebagai kelompok rentan.

Dia mengatakan ketimpangan relasi kuasa ini merupakan akar permasalahan terjadinya kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

"Budaya patriarki yang telah dipraktikkan selama berabad-abad telah menciptakan kerentanan yang luar biasa, dimana perempuan diposisikan di bawah laki-laki," katanya.

Pihaknya menyebutkan hasil dari Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2021 menunjukkan bahwa prevalensi anak usia 13 sampai 17 tahun yang pernah mengalami satu jenis kekerasan atau lebih di sepanjang hidupnya menurun sebesar 21,7 persen bagi anak perempuan dan 28,31 persen bagi anak laki-laki dalam kurun waktu tiga tahun.

Meskipun demikian, Bintang mengatakan jumlah kasus kekerasan masih tinggi.

"Memang prevalensinya menurun, tapi kalau kita melihat angkanya, masih memprihatinkan," katanya.

Oleh karena itu, Bintang meminta semua pihak untuk memberikan perhatian yang serius terhadap masalah kekerasan seksual ini.

"Ini menjadi alarm bagi kita bersama untuk memberikan perhatian yang serius terhadap isu kekerasan ini," katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel