Perempuan dinilai berperan besar dalam transisi energi

Kelik Dewanto
·Bacaan 2 menit

Co-Founder Energy Academy Indonesia (Ecadin) Desti Alkano menilai perempuan mempunyai peran besar dalam transisi energi seperti yang tertuang dalam agenda dunia sustainable development goals (SDGs) nomor lima terkait kesetaraan gender.

"Peran besar perempuan dalam transisi energi lebih kepada nature yang berusaha membawa seluruh anggota keluarga maju dan sehat, istilah kerennya no one left behind," kata Desti dalam diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Rabu.

Di Indonesia, peran perempuan masih lekat dengan peran-peran domestik sebagai penentu dalam efisiensi energi dan pengurangan emisi skala rumah tangga, sekaligus menjadi pihak yang rentan terkena dampak konsumsi energi.

Ketersediaan energi bersih sangat membantu perempuan dalam meringankan beban mereka, karena perempuan yang tinggal di desa-desa masih menggunakan sumber energi berupa kayu bakar untuk memasak atau listrik dari genset berbahan bakar bensin.

Desti menjelaskan peran perempuan dalam transisi energi bisa sebagai energy professional entrepreneur, energy decision makers, ataupun energy consumers sehingga perempuan harus bisa dipercaya untuk dapat memperkaya perspektif dalam pengambilan kebijakan dan meningkatkan semangat kolaborasi dalam proyek pengembangan energi bersih.

Merujuk data sensus penduduk Indonesia pada 2020, rasio jumlah penduduk laki-laki mencapai 136,66 juta jiwa atau 50,58 persen dari total penduduk, adapun jumlah penduduk perempuan tercatat sebanyak 133,54 juta jiwa atau 49,42 persen.

Dalam beberapa kajian, lanjut Desti, ada yang mengklaim besar-besaran bahwa kepemimpinan perempuan itu penting dalam transisi energi bersih.

"Karakter feminim di sini has to do with empathy, flexibility, intuition, humanity and passion. Bila banyak perempuan semakin melek kondisi lingkungan dengan intuisi, empati, dan mencoba berkolaborasi, maka saya yakin kekuatan perempuan itu untuk mendorong transisi sangat besar," kata Desti.

Dia menambahkan bahwa transisi energi tidak hanya bicara tentang inovasi teknologi seperti yang banyak dilakukan laki-laki, tetapi transisi energi juga membutuhkan banyak inovasi sosial, inovasi ekonomi, dan inovasi regulasi di mana multidisipliner ini lebih women frendly.

Baca juga: BSI : peran perempuan dalam pengembangan ekonomi syariah meningkat
Baca juga: Srikandi BNI dukung perempuan UMKM ekspor produk ke luar negeri
Baca juga: Menhub: Sektor transportasi dukung kesetaraan perempuan