Perempuan Menyatakan Cinta Duluan, Boleh Saja kan?

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

TERKAIT: Saling Menguatkan di Situasi Pandemi dengan Membuat Sabun dari Minyak Jelantah

TERKAIT: Menjadi Ibu yang Bekerja sebagai Tulang Punggung Keluarga, Hatiku Harus Lebih Tegar

TERKAIT: 5 Tips bagi Perempuan yang Ingin Melepaskan Cinta yang Tak Bisa Dimiliki

***

Oleh: Kelsi Sawitri

Menjadi perempuan di Indonesia itu susah-susah gampang. Salah satunya disebabkan oleh budaya patriarki yang masih mendominasi kehidupan masyarakat. Perempuan harus begini, perempuan harus begitu, perempuan tidak boleh ini, perempuan tidak boleh itu. Begitu banyak aturan dan pantangan yang menyertai perempuan-perempuan Indonesia.

Hal ini juga berpengaruh pada kisah romansa para perempuan Indonesia dan keberaniannya dalam mengungkapkan cinta. Masih sering saya mendengar pertanyaan serta keraguan teman-teman perempuan saya, “Memangnya boleh perempuan menyatakan cinta duluan?” Atau ketakutan dianggap sebagai perempuan agresif atau ganjen.

Pemikiran bahwa perempuan hanya harus menunggu laki-laki yang mendekati duluan, masih lekat sekali dengan masyarakat kita. Perempuan hanya bisa menunggu dan memantaskan diri. Memantaskan diri memang baik, apalagi jika kita sebagai perempuan terus berkembang menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Hanya saja, saya rasa perempuan boleh bergerak duluan, boleh maju duluan. Untungnya sudah banyak juga perempuan yang mulai berani mengambil langkah terlebih dahulu dalam urusan percintaan.

Saya juga merupakan tipe perempuan yang mengambil first move. Saya sering menjadi yang pertama mengontak laki-laki yang saya sukai, biasanya melalui chat. Jika percakapan berlanjut, saya juga tidak sungkan mengajaknya pergi berdua, misalnya ke bioskop atau makan siang bersama.

Hanya saja, pada saat menyatakan cinta, biasanya saya menuliskannya di blog, dan orang yang saya sukai pasti membacanya. Saya juga sering sekali menunjukkan perasaan saya secara terang-terangan melalui tingkah laku saya.

Menyatakan Perasaan

Cinta pada pandangan pertama./Copyright shutterstock.com
Cinta pada pandangan pertama./Copyright shutterstock.com

Pernah suatu ketika, saya menyukai seseorang, lalu menuliskan perasaan cinta saya di blog. Tentu saja, orang yang saya sukai membacanya. Tulisan saya ia balas, namun tidak dengan perasaan saya.

Pada saat itu saya patah hati sedikit, tapi setidaknya setelah itu kami berkencan sekali, intens berkomunikasi, meski pada akhirnya dia berpacaran dengan perempuan lain. Kali ini, baru saya patah hati sejadi-jadinya. Dan saya tidak melupakan dia hingga 5 tahun setelahnya, sampai saya berkencan dengan orang yang saat ini menjadi suami saya.

Dua tahun sebelumnya, saya juga pernah menyukai seseorang dengan terang-terangan. Saat itu saya masih kelas 2 SMA. Seisi kelas tahu saya menyukainya. Ia juga tahu dan kami tetap berteman baik.

Hingga suatu hari, ia mengetahui kalau saya sedang gemar menulis puisi. Melalui SMS, ia bilang akan membuatkan puisi untuk saya. Tentunya saya girang sekali, terlebih lagi pada saat saya menerima puisi buatannya. Sayangnya, dalam puisi itu, ia lugas sekali mengatakan saya akan selalu menjadi sahabat di hatinya, sampai kapan pun.

Berkali-kali menyatakan perasaan cinta duluan dan menyukai terang-terangan, bolak-balik patah hati dan tertolak, tidak membuat saya jera. Bagi saya kemungkinan terburuk yang akan saya terima adalah penolakan dan cap sebagai perempuan agresif. Akan tetapi, tidak lantas membuat saya tidak bernilai.

Saya tidak merasa kehilangan harga diri hanya karena berani menyampaikan perasaan secara terang-terangan. Jika orang yang saya sukai melabeli saya sebagai perempuan genit, bahkan mencap saya murahan hanya karena saya menyukainya terlebih dahulu, maka saya yakin bahwa he is not the one.

Begitu pula kita semua sebagai sesama perempuan, tidak ada salahnya jika kita membuat langkah pertama, sebab kita berhak. Dan saya mendukung seratus persen perempuan berani menyatakan perasaan cinta pada orang yang disukainya.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel