Perempuan-Perempuan Iran Demo Bakar Hijab di Jalanan

Merdeka.com - Merdeka.com - Selama lima malam berturut-turut, perempuan Iran melakukan demonstrasi melawan rezim pemerintah mereka. Demonstrasi itu telah menyebar ke berbagai kota besar dan kota kecil di Iran.

Menurut organisasi kemanusiaan Hengaw, 38 orang setidaknya terluka dalam demonstrasi pada Sabtu dan Ahad pekan lalu. Polisi bahkan melepaskan peluru aktif, peluru karet, dan gas air mata untuk melawan demonstran.

Bahkan pada demonstrasi Senin lalu, polisi melepas tembakan ke demonstran hingga tiga orang kehilangan nyawanya.

Dikutip dari BBC, Rabu (21/9), perempuan-perempuan di Ibu Kota Teheran, Iran melepas penutup kepala mereka dan berteriak "kematian untuk diktator". Ada juga yang berteriak "keadilan, kebebasan, dan tidak ada hijab wajib". Seorang wanita pun terlihat menaiki kap mobil dan membakar hijabnya.

Namun polisi setempat melawan pada demonstran.

Seorang demonstran perempuan berkata "polisi terus menembakkan gas air mata. Mata kami terbakar," jelasnya.

"Kami melarikan diri, tetapi mereka memojokkan saya dan memukuli saya. Mereka memanggil saya pelacur dan mengatakan saya keluar di jalan untuk menjual diri saya sendiri," lanjutnya.

Berbeda dengan salah seorang perempuan di kota Isfahan yang mengatakan "saat kami melambai-lambaikan hijab kami di langit, saya merasa sangat emosional dikelilingi dan dilindungi oleh pria lain. Senang rasanya melihat kebersamaan ini. Saya harap dunia mendukung kami".

Kematian Mahsa Amini, seorang perempuan yang berasal dari Provinsi Kurdistan, Iran yang ditangkap di Teheran pekan lalu oleh polisi moral adalah pemantik dari demonstrasi itu.

Amini ditangkap karena melanggar hukum yang mewajibkan perempuan untuk menutup rambut mereka dengan hijab dan harus mengenakan pakaian longgar untuk lengan dan kaki.

Tak lama setelah ditangkap dan dibawa ke tahanan, Amini jatuh pingsan dan mengalami koma. Pada Jumat pekan lalu, Amini meninggal di rumah sakit setelah tiga hari dirawat.

Hingga kini kematian Amini masih diselidiki. Namun kematiannya diduga akibat kekerasan.

“Ada laporan polisi memukul kepala Amini dengan tongkat dan membenturkan kepalanya ke salah satu kendaraan mereka,” ujar Pejabat Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Nada al-Nashif.

Kepolisian Iran pun menyangkal adanya indikasi kekerasan dan menyebut dia mengalami gagal jantung tiba-tiba. Namun keluarga Amini mengungkapkan perempuan itu dalam keadaan sehat.

Keluarga Amini turut dikunjungi oleh ajudan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei pada Senin lalu. Dia berkata “semua lembaga akan mengambil tindakan untuk membela hak-hak yang dilanggar”.

Jalal Rashidi Koochi, anggota parlemen senior Iran mengatakan “dibentuknya polisi moral Iran adalah sebuah kesalahan karena hanya membuat kerugian dan kerusakan bagi Iran”.

Sebelumnya peraturan pemakaian hijab dan pakaian longgar adalah keharusan bagi seluruh wanita Iran yang terbit setelah Revolusi Islam 1979.

Pemerintah Iran membentuk Gasht-e Ershad atau polisi moral yang bertujuan untuk memastikan wanita memakai pakaian layak.

Petugas polisi moral memiliki kekuatan untuk menghentikan perempuan dan menilai apakah mereka memperlihatkan banyak rambut, apakah celana mereka pendek atau pas, atau apakah mereka memakai banyak kosmetik.

Jika polisi moral menemukan pelanggaran, maka hukuman dari denda, penjara hingga cambuk menanti.

Namun perempuan Iran enggan untuk menaati aturan itu, seperti yang terjadi pada 2014 di mana perempuan-perempuan Iran mengunggah foto dan video mereka di media sosial. Protes kala itu disebut dengan My Stealthy Freedom atau Kebebasan Terselubung Saya.

Protes itu memantik gerakan lain, termasuk White Wednesday atau Rabu Putih dan Girls Revolution Street atau Revolusi Jalanan Perempuan.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]