Perempuan Sulung Mudah Menyemangati Orang Lain, tapi Sering Babak Belur Hadapi Masalah Sendiri

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Membahas persoalan dan kehidupan perempuan sulung sepertinya tidak ada habisnya. Begitu banyak aspek dan lapisan kehidupannya yang memiliki warna berbeda. Tentu saja kehidupan perempuan sulung tak bisa disamaratakan pada tiap orang, sebab latar belakang keluarga dan pengalaman hidup masing-masing pastinya tak sama.

Ada satu hal yang sepertinya cukup sering dialami oleh perempuan sulung. Seorang perempuan sulung bisa dengan mudah menyemangati orang lain atau memotivasi orang lain. Namun, ketika menghadapi masalah dan persoalannya sendiri, ia malah babak belur dan dihadapkan pada berbagai dilema. Hm, kenapa bisa begitu?

Terbiasa Mendahulukan Kepentingan Orang Lain

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/PRImageFactory
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/PRImageFactory

Seorang perempuan sulung umumnya terbiasa untuk mendahulukan kepentingan orang lain. Misal, ketika masih kecil sudah terbiasa untuk berbagi dengan adik-adik atau malah mendahulukan kepenting adiknya dibandingkan dirinya. Saat masih kecil berusaha untuk senantiasa meringankan beban orangtua juga telah menempa mental seorang perempuan sulung jadi lebih kuat. Terbiasa mendahulukan kepentingan orang lain, seorang perempuan sulung akan merasa bahagia ketika melihat orang lain bisa bahagia dengan semangat yang ia berikan, meski sebenarnya dia sendiri punya masalah pribadi yang masih begitu rumit.

Tak Terbiasa Membebani Orang Lain

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/atiger
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/atiger

“No one knows what you have been through or what your pretty little eyes have seen, but I can reassure you ~ whatever you have conquered, it shines through your mind.”― Nikki Rowe

Seorang perempuan sulung bisa begitu lihai menyembunyikan masalahnya sendiri. Hal ini karena ia tak terbiasa membebani orang lain. Tak terbiasa pula membuat orang lain khawatir atau cemas dengan persoalan yang dihadapinya. Jadi, dia akan berusaha untuk bisa tampak kuat dan menyemangati orang lain meski dirinya sendiri sebenarnya butuh semangat dari orang lain.

Sudah Terlatih untuk Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Terlatih untuk tegar./Copyright shutterstock.com/g/leszekglasner
Terlatih untuk tegar./Copyright shutterstock.com/g/leszekglasner

“Dear self,Be brave enough to face every obstacle that comes in waves. It helps you to become a great warrior.”― sophieya

Alih-alih mengasihani diri sendiri, seorang perempuan sulung justru terlatih untuk berdiri di atas kaki sendiri. Alih-alih membanding-bandingkan masalah pribadi dengan masalah orang lain, seorang perempuan sulung lebih memilih untuk menguatkan diri dengan menyemangati orang lain. Melihat orang lain bisa termotivasi dan terpacu untuk bangkit sudah menjadi sumber kekuatannya sendiri untuk mengatasi persoalannya sendiri.

Meski begitu, kita sebagai perempuan sulung juga boleh-boleh saja meminta bantuan orang lain. Tak semua persoalan bisa kita hadapi sendiri. Kita memang sering babak belur saat dihadapkan pada sebuah masalah. Kita memang sudah berulang kali jatuh bangun sendiri saat mencoba mencari sebuah jalan keluar. Maka, sesekali meminta bantuan orang lain atau meminta untuk diberi semangat dari orang lain itu hal yang sangat boleh sekali dilakukan.

Untuk yang sudah berjuang dan bertahan hingga saat ini, terima kasih atas semua hal yang sudah kamu perjuangkan, ya. Memang tak mudah untuk menghadapi persoalan hidup seorang diri, tapi kita selalu yakin bahwa selalu ada kekuatan baru yang akan kita peroleh dari setiap tantangan baru yang berhasil kita taklukkan.

#ElevateWomen