Perempuan Sulung Tangguh: Demi Ibu dan Adik-Adik, Aku Bekerja Berjauhan dari Suami

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Dinda

Hai, namaku Dinda, perempuan 29 tahun yang sudah menikah dan sedang merantau di Jakarta. Aku bekerja sebagai kepala bagian di salah satu perusahaan pengembangan SDM di Jakarta. Jabatan yang cukup penting di perusahaanku ini. Senang memang, tapi ada hal yang harus kurelakan demi menjalankan tugasku dengan baik. Aku berpisah kota dengan suamiku dan menjalani pernikahan jarak jauh.

Aku bukan terlahir di keluarga yang segalanya serba mudah. Aku terbiasa tertatih sejak kecil. Aku sulung dari tiga bersaudara. Saat usiaku 22 tahun ayahku berhenti bekerja dan sejak saat itu perekonomian keluargaku turun drastis.

Aku sebagai sulung mau tidak mau harus ikut memikul beban keluarga meskipun hanya sedikit. Umur 25 tahun aku menikah, dengan lelaki yang secara finansial biasa saja. Saat itu aku sudah memulai karierku sebagai trainer di beberapa perusahaan di Jawa Timur. Aku masih tinggal satu atap dengan suami dan orang tuaku saat itu, namun karena orang tuaku sudah tidak bekerja maka akulah yang menanggung kehidupan orang tuaku dan adik-adikku.

Aku tidak mau memberatkan suamiku, karena aku sadar dia tidak semestinya terbebani oleh keluargaku. Berat? Pasti terasa sangat berat. Adikku yang pertama sedang menempuh kuliah semester akhir. Adikku yang kedua baru saja masuk SMP. Kedunya butuh biaya yang tidak sedikit. Aku harus kuat, aku harus mampu.

Awal 2018 bebanku semakin berat. Orang tuaku bercerai. Ayahku menikah lagi dan melepas tanggung jawab untuk adik-adikku. Mamaku tidak bekerja. Rumah yang kutempati akan dijual karena itu merupakan harta gono gini sehingga ayahku meminta bagiannya.

Aku Bekerja di Ibu Kota

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Aku harus segera pindah dan memboyong mama serta adik-adikku. September 2018 aku memutuskan untuk pindah ke ibu kota karena tawaran jabatan yang lebih tinggi. Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya aku pindah ke Jakarta dan suami tetap di Jawa Timur karena pekerjaannya.

Ini bukan keputusan mudah, tapi aku butuh pemasukan yang lebih besar untuk membiayai semuanya. Adik-adikku tidak boleh putus sekolah, aku harus menyekolahkan sampai mereka lulus kuliah.

Setelah dua tahun di Jakarta akhirnya perekonomianku mulai membaik. Aku membeli rumah mungil yang dihuni suami, mama, dan adik-adikku. Beberapa bulan sekali aku pulang ke Jawa Timur. Pendidikan adik-adikku masih tetap jadi prioritas utama. Tapi hidup akan terus bergelut dengan masalah.

Tetap Kuat Menghadapi Berbagai Cibiran

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Tidak jarang aku dicemooh orang karena memutuskan berpisah dengan suami hanya karena sebuah pekerjaan. Bukan hanya di belakangku, bahkan banyak yang bicara langsung denganku "Nggak takut suamimu diambil orang?" "Gimana mau punya anak kalau pisah-pisahan?" "Ngapain nikah kalau ujung-ujungnya pisahan?". Aku sudah kebal dengan semua itu. Orang lain hanya bisa menilai luarnya saja kan? Senyumin aja.

Aku bangga dengan diriku sendiri. Bagiku aku adalah lady boss karena dengan semua masalah yang datang, aku bisa memenangkannya. Bagiku kata lady boss bukan hanya soal jabatan pekerjaan. Tapi saat wanita yang stigmanya lemah bisa menjadi kuat menghadapi masalah apa pun yang menerpanya, dia lah lady boss.

Saat wanita bisa sekuat lelaki dalam menghadapi masalah, dia lah lady boss. Saat wanita lebih banyak memikirkan solusi dari suatu masalah alih-alih menangis, dia lah lady boss.

Untuk para wanita yang membaca tulisanku ini, saat kalian menghadapi masalah yang menurut kalian berat, percayalah di luar sana banyak yang masalahnya lebih berat dari kalian. Jangan habiskan waktumu untuk sekadar berpikir kenapa kalian diberi ujian itu dan menangis. Menangkan dirimu atas masalahmu. Kalian semua hebat.

#ChangeMaker