Perempuan yang Bisa Bertumpu di Atas Kakinya Sendiri Itu, Pesonanya Memukau

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Ida Umy Rasyidah

Menjadi seorang perempuan memang tak mudah, sudah menjadi stereotip bahwa perempuan itu manja. Apalagi penampilanmu tak menarik, sudah tak ada artinya kamu dalam lingkup sosial. Ketika SD, menurut kebanyakan orang penampilanku tidak menarik, rambut yang mengembang, pipi tembam, dan kurus sehingga penimapilanku seperti jamur dengan kepala yang besar karena rambut dan badan kurus.

Teman laki-lakiku ketika SD, selalu body shaming terhadapku menyebutku ‘rambut helm’ atau mengolok-olok tahi lalatku yang persis di tengah hidung. Sejak saat itu aku tidak percaya diri, aku takut terhadap mereka, aku tidak bisa mengekspresikan apa yang aku suka, terkadang aku takut untuk datang ke acara bersama mereka.

Sampai sekarang pun masih terjadi, di grup whatsapp alumni SD, mereka selalu menjodoh-jodohkan aku, bukan karena terlalu cantik, tapi mereka mengolok-olok aku, namaku dilempar lempar, tak ada yang menerimaku. Seakan-akan aku adalah wanita menjijikkan yang tidak pantas dicintai. Responsku? Tentu diam saja. Karena balas dendam terbaik kepada orang yang tidak penting adalah tidak memedulikannya.

Namun, prosesnya sangat sulit sekali. Aku terus menyalahkan diri karena memikirkan apa yang terjadi ketika aku SD, dalam pikiranku sekalu muncul, “Kok, aku tidak cantik seperti mereka?” “Mengapa pipiku sangat tembam?” dan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang membuatku semakin tidak percaya diri.

Di balik keterpurukanku saat itu, ada keluarga yang selalu mendukung. Sebagai anak perempuan satu-satunya, aku beruntung karena tumbuh dalam keluarga yang hangat dan tentunya tidak patriarikis. Sejak kecil orang tuaku membebaskan anaknya untuk menentukan pilihannya masing-masing. Namun karena ketika SD aku jadi korban body shaming, aku kehilangan kepercayaan diriku dan cenderung pendiam sehingga selalu dianggap sebelah mata oleh orang lain.

Di rumah, di sekolah aku semakin tertutup, semakin malas bersosialisasi dengan yang lain. Hanya ibuku yang selalu ada untukku, yang selalu mendukungku, yang selalu mengatakan aku adalah wanita yang cantik, dan dia menyuruhku untuk terus bersyukur atas apa yang Tuhan kasih kepada hamba-Nya.

Namun, keadaan berbalik ketika aku mulai kuliah, teman-teman yang kutemui sangat suportif, mereka selalu menyemangatiku dan berusaha membuat ku percaya diri ketika aku insecure. Sulit rasanya untuk mencoba percaya diri, tapi mereka tak henti-hentinya memberikan dukungan kepadaku untuk terus bersyukur dan percaya diri. Karena itulah, sekarang aku sedikit lebih percaya diri.

Meningkatkan Kemampuan dan Kualitas Diri

ilustrasi./photo created by lookstudio - www.freepik.com
ilustrasi./photo created by lookstudio - www.freepik.com

Aku mulai berani mengikuti organisasi di kampus. Bahkan, aku berani mencoba untuk mendaftar menjadi project officer dalam suatu kegiatan pengabdian. Awalnya aku ragu untuk mendaftar, tapi aku terus mengingat masa laluku yang menyedihkan, aku bertekad untk membuktikan bahwa aku tidak serendah apa yang teman laki-laki SD pandang.

Semua aku persiapkan dengan matang, mulai dari program yang akan kujalankan ketika terpilih dan rencana rencana lainnya. Usahaku tidak mengkhianati hasil, aku terpilih menjadi project officer.

Setelah terpilih, aku menyadari tugasku tidak akan mudah, aku akan bekerja dengan panitia yang lainnya. “Apakah aku bisa menjadi lady boss yang baik? Ataukah aku akan menjadi lady boss yang menyusahkan?” Pertanyaan itu terus berkecamuk dalam pikiranku.

Tapi ini adalah pilihanku, pastinya setiap pilihan mempunyai risiko. Aku yang memilih untuk menjadi lady boss dalam acara ini harus menerima nantinya jika ada perbedaan pendapat atau selisih paham dengan panitia yang lainnya.

Ketika hal itu tersebut, aku sebagai ketua tidak bisa memaksakan sesuai keinginanku, aku terus mendengar dan menerima masukan dari pantia lainnya sehingga bisa menciptakan acara yang sukses.

Dengan mencoba menjadi lady boss dalam acara ini, aku belajar memahami setiap sifat orang yang kutemui, aku juga belajar dari sosok mereka yang sudah lebih dulu menjadi seorang ketua. Namun, aku juga harus sabar menghadapi, komentar orang-orang yang tidak percaya akan kemampuanku, terlebih aku perempuan karena di lingkungan tersebut masih kental sekali budaya bahwa harus laki-laki yang memimpin.

Cara terbaik membuktikannya adalah membuat acara yang kupimpin berjalan lancar. Tidak hanya meriah ketika hari-h acaranya tapi juga memberikan kebermanfaatan dalam jangka panjang. Pada akhirnya, aku bisa membuktikannya, semua orang memuji acara tersebut karena mereka merasakan maanfaatnya. Aku senang sekali rasanya, aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Aku bisa membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku mampu, aku berhak untuk dihargai, aku layak dicintai.

Sekarang, aku fokus terhadap kemampuanku. Setiap hari aku selalu berlatih menulis karena inilah passion-ku, aku ingin bekerja di media yang akan mempublikasikan tulisan-tulisan bermanfaat yang menginspirasi, seperti Fimela.com.

Terlebih saat ini sedang pandemi, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena kampusku memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Selain kuliah daring, aku menulis artikel yang nantinya dikirim ke media atau blogku sendiri.

Selain itu, aku juga belajar mencintai diriku lebih dalam lagi dengan cara merawat tubuhku berbekal membaca artikel bermanfaat dari Fimela, selain itu setiap harinya aku menyempatkan satu jam untuk berolahraga. Karena kita bisa menjadi lady boss untuk orang lain, sebelum kita mengatur diri kita sendiri. Setelah kita berhasil memimpin diri sendiri menghargai apa yang kita mau dan suka, berusaha untuk mencapai goals, maka bisa dikatakan kita bisa menjadi lady boss untuk orang lain.

Aku juga bermimpi ingin menjadi menjadi lady boss ke depannya. Aku ingin menjadi bupati di kota kelahiranku, Kuningan, Jawa Barat. Untuk itu, mulai dari sekarang aku belajar memimpin diriku sendiri, menghargai diriku sendiri, dan mengenal diri sendiri agar agar bisa menyelesaikan permasalahan hidupku sendiri. Aku juga harus bisa bertumpu di atas kakiku sendiri dan membuktikan bahwa wanita itu hebat.

#ChangeMaker