Perez Bisa Ubah Stigma Verstappen Sentris di Red Bull

Tri Cahyo Nugroho
·Bacaan 3 menit

Dengan resminya Sergio Perez menggantikan Alex Albon – kini menjadi pembalap ketiga – enam hari lalu, Red Bull Racing kini memiliki dua pembalap yang mampu menghancurkan dominasi Tim Mercedes-AMG Petronas dalam tujuh tahun terakhir Formula 1.

Kini pertanyaannya, apakah Prinsipal Tim Red Bull, Christian Horner, akan menyamakan posisi Perez dengan Max Verstappen?

Jika iya, bagaimana strategi yang akan dipakai Horner karena Perez juga memiliki kemampuan untuk menjadi juara dunia seperti Verstappen. Dengan masuknya Perez, apakah peluang Red Bull untuk merebut gelar juara dunia konstruktor kian besar?

Sejak era mesin hybrid diberlakukan di F1 mulai 2014, Mercedes tidak tersentuh di klasemen akhir pembalap dan konstruktor. Red Bull sendiri merebut empat gelar kampiun pembalap dan konstruktor empat kali beruntun pada 2010-2013 bersama Sebastian Vettel.

Max Verstappen mulai memperkuat Red Bull sejak putaran kelima F1 musim 2016 menggantikan Daniil Kvyat.

Di Red Bull, Verstappen berduet dengan Daniel Ricciardo (2016, 2017, 2018), Pierre Gasly (2019, sampai lomba ke-12), dan Alex Albon (sejak balapan ke-13 F1 2018 sampai akhir 2020).

Sergio Perez, Racing Point RP20, berada di depan Max Verstappen, Red Bull Racing RB16, dalam sebuah balapan di F1 2020 lalu.

Sergio Perez, Racing Point RP20, berada di depan Max Verstappen, Red Bull Racing RB16, dalam sebuah balapan di F1 2020 lalu. <span class="copyright">Steven Tee / Motorsport Images</span>
Sergio Perez, Racing Point RP20, berada di depan Max Verstappen, Red Bull Racing RB16, dalam sebuah balapan di F1 2020 lalu. Steven Tee / Motorsport Images

Steven Tee / Motorsport Images

Statistik karier Perez di F1 memang masih jauh di bawah Verstappen. Perez memang sudah 191 kali turun berbanding 119 milik Verstappen. Namun, Verstappen sudah 10 kali menang dibandingkan dengan satu milik pembalap asal Meksiko tersebut.

Verstappen sudah 42 kali naik podium (termasuk 10 kemenangan) sedangkan Perez baru 10. Perez belum pernah merebut pole position sedangkan Verstappen sudah tiga kali.

Namun, sepanjang F1 2020 bersama Racing Point, Perez mampu sangat konsisten merebut poin jika tidak mengalami masalah teknis (Bahrain dan Abu Dhabi).

Empat kali tidak mampu merebut poin – dua lainnya, Inggris dan 70th Anniversary, absen karena terjangkit Covid-19 – Perez masih mampu meraup 125 poin untuk berada di P4 klasemen pembalap.

Perez juga salah satu pembalap dengan kemampuan pengenalan ban (Pirelli) yang sangat baik. Kapasitasnya untuk urusan tire management diyakini setara dengan Lewis Hamilton, juara dunia tujuh kali (2008, 2014, 2015, 2017, 2018, 2019, 2020) dari Mercedes.

Kemenangan di GP Sakhir bukan satu-satunya bukti kehebatan Perez dalam urusan ban. Cara Perez berlomba dengan ban intermediate juga berujung pada finis podium kedua di GP Turki.

Pengalaman lama turun dengan power unit Mercedes sejak 2013 (McLaren, Force India, dan Racing Point) membuat Perez jelas tahu apa saja kelemahan pabrikan asal Jerman itu yang bisa dimanfaatkan oleh Red Bull musim depan.

Sejumlah kelebihan Perez tersebut memaksa Helmut Marko (penasihat Red Bull) dan Horner meninggalkan kebijakan mempromosikan pembalap muda yang sudah berjalan sejak 2007.

Di sisi lain, setelah sekian lama memperkuat tim medioker, F1 2021 menjadi kesempatan emas bagi Perez untuk membuktikan diri layak direkrut tim elite sekelas Red Bull.

Bagi Red Bull, keputusan memilih Sergio Perez jelas menjadi bagian dari strategi dan target mereka untuk merebut gelar juara dunia konstruktor musim depan. Merebut trofi pembalap sepertinya masih sangat berat selama pembalap “kanibal” sekelas Lewis Hamilton.

Helmut Marko dan Christian Horner, memang sudah saatnya mengubah mentalitas mereka. Pandangan sebagai tim Verstappen sentris yang membuat Daniel Ricciardo kehilangan senyum, mengharuskan mereka mengubah sistem yang mampu mengakomodasi kemampuan Sergio Perez.

Stigma Verstappen sentris harus diubah sendiri oleh Red Bull jika ingin memberikan kado indah, juara dunia konstruktor, untuk pemasok power unit mereka, Honda, yang akan pergi pada akhir F1 2021 nanti.