Perhatikan 5 Hal ini Jika Ingin Mulai Bisnis Online

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop dan UKM) kembali menyajikan unggahan di akun resmi instagram @kemenkopukm tentang “Tips 60 Detik Berbisnis di Era Pandemi”. Tips ini ditujukan untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak covid-19, agar pelaku UMKM bisa bertahan dalam keadaan saat ini.

Berikut tips yang disampaikan Kemenkop dan UKM yang menggandeng Founder Bixbux.com dan Affiliate Marketer yakni Wientor Rah Mada. Berikut simak tipsnya yang dikutip oleh Liputan6.com, Minggu (7/6/2020).

1. Toko online

Buka toko online pertama kali, itu sama persis seperti Anda buka toko offline. Pertama buka toko, ya kayak buka toko di tengah hutan. Tidak ada yang mau datang, traffic-nya nyaris tidak ada, oleh karena itu harus dilakukan sesuatu, misalnya dengan Search Engine Optimization (SEO). Dengan SEO ini berarti Anda akan memanfaatkan Search Engine terutama Google untuk mendapatkan traffic.

“Prosesnya lama agak mahal tapi kalau berhasil, Anda akan merasakan manfaat yang lama. Contohnya kalau Anda jualan Madu Sumbawa, SEO akan membantu membuat toko online Anda berada di nomor satu. Hasil pencarian ketika orang mengetik “Madu Sumbawa” di Google,” jelas Wientor.

Sehingga hasilnya 67 persen orang akan ng-klik pencarian yang dinomor satu, yaitu website Anda, Boom! Sales naik.

2. Customer Service

Customer service | pexels.com/@picjumbo-com-55570

Apabila Anda punya toko online, pasti tahu persis bahwa konsumen di Indonesia suka ngobrol dan bertanya. Padahal sudah detail sekali Anda mencantumkan spek produk, harga, gambar, warna, dan ukuran, pokoknya semua sudah dicantumkan di website dan sebetulnya bisa dibaca sendiri.

“Eh ditanya lagi, ya begitulah konsumen kita enggak percayaan, pengennya diomongin sendiri di depan mukanya,” katanya.

Makannya berikan jalan bagi konsumen ini untuk bertanya. Checkout page yang seharusnya otomatis seperti mengisi data, alamat kirim, dan pembayaran. Kalau di Indonesia ya tidak bisa, penjualan bisa terjadi lewat Whatsapp. Makannya harus ada customer service yang menangkap konsumen model beginian.

Jangan sampe terlena customer service juga harus dibekali dengan skill softselling dan hardselling. Tahu kapan harus push untuk menjual dan tahu kapan harus santai sama customer.

 

3. Traffic

Tanpa ketujuh elemen ini, tokomu hanyalah 'semi offline shop!'

Ada tiga jenis traffic digital yang Anda harus tahu, yakni pertama, cold traffic artinya orang yang sama sekali belum pernah tahu bisnis Anda. Kalau Anda pertama kali mengiklan yang lihat iklan Anda pertama kali itu namanya cold traffic.

Kedua, warm traffic yaitu orang yang sudah tahu tentang bisnis Anda, merek Anda, atau bahkan produk yang Anda bawa. Mungkin mereka pernah klik iklan Anda, follow di Instagram atau twitter, atau subscribe di mailing list yang Anda punya tapi belum beli.

Ketiga, hot traffic, adalah orang yang sudah pernah beli dari Anda. Jadi mereka sudah sangat paham dengan kualitas produk yang Anda tawarkan. Bahkan ada kemungkinan beli lagi dengan upsell atau cross-selling.

“Maka ketiga traffic ini memerlukan perlakuan yang berbeda, terutama di landing page yang Anda pakai,” jelas Wientor.

 

4. Landing Page

Ilustrasi ecommerce, e-commerce, toko online. Kredit: athree23 via Pixabay

Kesalahan terbesar toko online ketika beriklan adalah selalu menarik traffic yang masuk ke homepage. Homepage merupakan halaman depan toko online Anda, biasanya ada banyak display produk di situ.

“Saya bisa pastikan iklan ke homepage akan sia-sia dan pemborosan besar kalau tujuan kita adalah sales. Yang benar kita buat landing page khusus untuk produk yang akan kita iklankan,” ujar Wientor.

Lalu pakai copywriting yang memikat, video yang engaging, harga yang menarik, dan tonjolkan keunggulan dari produk Anda dengan jujur, bahkan sisipkan gambar-gambar yang menarik.

Perhatikan betul alur emosional konsumen ketika membaca copywriting yang ada di landing page. Jangan biarkan efek emosionalnya menjadi turun ketika mendekati akhir halaman.

 

5. Kinerja

Toko elektronik Best Denki kini hadir di iLOTTE.com. Cek, yuk! (foto: shutterstock.com)

“Sebelumnya saya pernah membahas betapa pentingnya mempunyai customer service. Seorang teman saya, reseller produk kecantikan bahkan mempunyai 50 karyawan, dan hampir semuanya customer service. Tugasnya tidak cuma mengurusi pelanggan yang komplen, tapi juga jualan sampai closing,” ungkapnya.

Wientor mengatakan di masa pandemi covid-19 ini, semua customer service-nya tetap bekerja, hanya dari rumah.

“Teman saya ini sempat bingung, bagaimana cara mengetahui kinerja karyawannya. Saya bilang, dibuat simpel saja,” ujarnya.

Kemudian tarik dua data yakni jumlah closingan dan total penjualan perbulan setiap customer service. Buat rata-rata setiap bulannya, jadikan itu target.

Komposisi harga dibuat sedemikian rupa, sehingga persentase untuk cutomer service-nya lebih besar daripada untuk bosnya. Walhasil semua karyawannya terpacu untuk jualan lebih banyak. Volume adalah segalanya.