Peringatan dini dalam sepuluh menit

MERDEKA.COM. Akhir Desember 2007, warga Dusun Ledoksari, Desa Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, tidak pernah menyangka akan terjadi longsor di wilayahnya. Bila hujan turun warga tidak pernah was-was, meski desa itu berada di kawasan lembah dilingkari bukit-bukit terjal dengan kemiringan tanah hingga 30 derajat. Nyaris sepanjang pengetahuan warga, tempat tinggal mereka tidak pernah mengalami longsor sebelumnya.

Minimnya pengetahuan warga akan longsor membuat mereka tidak berpikir macam-macam akan lingkungan mereka. Namun kepercayaan itu runtuh pada 25 Desember 2007. Malam saat warga terlelap, di tengah hujan deras tiba-tiba bukit di atas permukiman warga meluncur menjadi longsor hingga menimbun beberapa rumah. Ketinggian timbunan tanah sekitar tujuh meter.

Meski begitu, banyak warga sempat menyelamatkan diri setelah mendengar suara gemuruh tanah meluncur. Tim evakuasi berhasil menemukan 37 korban tewas. Itulah kisah diingat oleh Wagimin, 42 tahun, warga Dusun Ledoksari. Setelah kejadian itu, warga dievakuasi ke lokasi lebih aman. Lokasi longsor jaraknya sekitar dua kilometer dari Kecamatan Karanganyar dengan jalan menanjak menuju ke arah sana.

Sejak longsor besar itu, masyarakat mulai sadar akan lingkungannya. Bila musim hujan datang, bencana dianggap sudah mengintai. “Bila terjadi hujan, warga mendapat jatah ronda memiliki tugas mengecek jika akan terjadi longsor,” ujar Wagimin saat dihubungi merdeka.com, Jumat siang pekan lalu.

Kurangnya pengetahuan dan teknologi memaksa warga mengantisipasi longsor secara manual. Mengecek kawasan tinggi atau perbukitan dianggap rawan longsor hingga persiapan untuk memberitahukan warga segera evakuasi.

Baru pada 2008, warga Dusun Ledoksari mendapat bantuan alat pendeteksi longsor dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sebuah alat mampu mendeteksi ukuran retakan tanah. Alat dibuat oleh dua peneliti dari Fakultas Teknik, Dwikorita Karnawati dan Faisal Fathani.

Menurut penuturan Dwikorita, sistem dan pengelolaannya sengaja dibuat untuk awam dan tidak rumit. Selain itu, alat pendeteksi dalam pengelolaan di lapangan harus mengikutsertakan masyarakat, terutama terkait perawatan infrastruktur hingga memastikan tingkat ketelitian alat dengan kondisi di lapangan.

Mulanya alat itu akan memberikan tanda bahaya jika retakan tanah mencapai 5-7 sentimeter. Namun kenyataan di lapangan, angka pijakan itu belum terjadi longsor. "Oleh warga tanda bahaya lonsor diganti dengan standar baru, yakni bila rekahan tanah sudah 7-10 sentimeter,” kata Dwikorita saat dihubungi merdeka.com, Kamis siang pekan lalu.

Wagimin juga mengiyakan hal itu. Warga merasa alat itu membantu untuk deteksi dini longsor agar bisa mengevakuasi warga sebelum terjadi musibah.

Sejak diberikan, alat itu hampir selalu terpasang di beberapa rumah warga dianggap berada di lokasi rawan kena longsor atau di lereng bukit. Masalah perawatan dikelola bersama masyarakat. Bagian tersulit dalam perawatan adalah mengganti kawat baja dipasang di antara puncak dan kaki bukit yang sering putus karena gangguan binatang.

Dwikorita mengakui kendala itu. Sejak diluncurkan lima tahun lalu, Dwikora bersama Faisal Fathanah sudah mengembangkan alat itu hingga tahap keempat. Kini alat pendeteksi longsor itu disebut generasi keempat. Dwikorita menjelaskan pengembangan terakhir selesai tahun lalu dan mampu mengirim informasi kondisi tanah dengan sistem komputer. “Akhir tahun lalu, satu perusahaan di Myanmar memesan dan sudah kami kirimkan. Namun mereka meminta seratus pesanan lagi,” ujar Dwikorita.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.