Peringatan, Kaum Muda Tak Kebal Virus Corona

Bola.com, Jakarta. - Belakangan ada kabar menyebut kaum lanjut usia (lansia) rentan terpapar virus Corona SARS-CoV-2 pembawa COVID-19 jika dibandingkan golongan usia lainnya.

Sebelumnya, peringatan yang muncul kebanyakan lebih berfokus pada perlindungan kelompok yang rentan, seperti lansia dan mereka yang memiliki masalah kesehatan bawaan.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memastikan informasi itu tidak sepenuhnya benar. WHO menyebut kaum muda juga sama rentannya terinfeksi virusi Corona.

"Meski orang yang lebih tua adalah yang paling terdampak, orang yang lebih muda juga rentan," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, seperti dikutip dari Business Insiders Singapore pada Senin (23/2/2020).

Dia menambahkan, saat ini terlihat ada penambahan kasus positif COVID-19 secara signifikan pada orang-orang berusia di bawah 50 tahun.

"Anda tidak kebal. Virus corona ini membuat Anda masuk rumah sakit selama berminggu-minggu atau bahkan membunuh Anda," kata Tedros dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

Hal itu seiring penjelasan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, bahwa tidak batasan usia orang-orang dapat terinfeksi virus Corona.

Namun, orang yang lebih tua, dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya (seperti asma, diabetes, penyakit jantung, atau tekanan darah tinggi) tampaknya lebih rentan untuk menderita sakit parah.

 

Gejala Parah

Ilustrasi Virus Corona 2019-nCoV (Public Domain/Centers for Disease Control and Prevention's Public Health Image)

Sementara itu, Antonio Pesenti, Dokter Kepala Unit Perawatan Krisis Intensif di Lombardy, Italia, tempat COVID-19 paling mewabah di Eropa, mengatakan banyak kelompok usia muda yang dirawat di rumah sakit dengan gejala parah.

"50 persen pasien di unit perawatan intensif kami, yang merupakan pasien terparah, berusia di atas 65 tahun. Namun, itu berarti bahwa 50 persen dari pasien kami, lebih muda, di bawah 65," kata Pesenti seperti dikutip dari Sky News.

Dia menambahkan, banyak pasien berusia 20 atau 30an tahun. Beberapa juga mengalami gejala parah seperti yang dialami para lansia.

Pesenti mengungkapkan alasan Italia memiliki angka kematian yang tinggi adalah karena tingginya populasi lansia. Namun, bukan berarti kelompok usia muda juga tidak akan terkena COVID-19 atau hanya mengalami gejala ringan.

Di Italia, hampir seperempat dari sekitar 28 ribu pasien COVID-19 berusia 19 sampai 50 tahun.

Tedros juga mengatakan bahwa meski tidak sakit, seseorang juga bisa memengaruhi kehidupan orang lain.

"Pilihan yang Anda ambil tentang ke mana Anda pergi, bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati untuk orang lain," ujarnya.

Selain itu, Tedros juga berterima kasih pada kaum muda yang menyebarkan kewaspadaan, bukan virusnya.

 

Disadur dari: Liputan6.com (Giovani Dio Prasasti/Fitri Syarifah. Published: 24/3/2020)