Peringati Hari Ibu, Mayjen TNI Dudung Ingat Ketulusan Ibu Nasyati

Rifki Arsilan
·Bacaan 3 menit

VIVA – Siapa yang tidak kenal dengan sosok Mayjen TNI Dudung Abdurachman. Seorang Perwira Tinggi TNI yang kini menjabat sebagai Panglima Kodam Jaya/Jayakarta itu ternyata memiliki kisah haru semasa kecilnya. Perwira Tinggi berpangkat dua bintang emas itu ternyata pernah hidup susah sehingga dia harus berjualan klepon dan gorengan yang dibuat oleh ibu kandungnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ya, kisah kecil Mayjen TNI Dudung Abdurachman sangat memprihatinkan. Pangdam Jaya itu mengisahkan, Sang Ibu tercinta pada tahun 1981 harus berjuang sendirian setelah ayahnya meninggal dunia karena mengidap penyakit Liver ketika Mayjen TNI Dudung Abdurachman masih berusia 12 tahun. Sejak itu, kata Dudung, Sang Ibu tercinta harus berusaha memenuhi kehidupan dirinya bersama tujuh orang saudaranya yang lain.

Sebagai anak keenam dari delapan bersaudara, lanjut Dudung, sepeninggalnya almarhum Bapak Tercinta, dia harus membantu Ibunya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan cara menjadi loper koran, hingga menjual klepon, pastel, dan krupuk yang dibuat oleh Sang Ibu tercinta ke kantin di komplek Kodam III/Siliwangi dan sekolah-sekolah di sekitar Kota Bandung.

"Itu saya lakukan sendiri, karena saya kasihan dengan Ibu, setelah bapak meninggal untuk menopang kehidupan keluarga. Itu saya lakukan setiap hari untuk menjual makanan yang dibuat sendiri oleh ibu," kata Mayjen TNI Dudung Abdurachman dikutip VIVA Militer dari kanal Youtube KAB TV, Selasa, 22 Desember 2020.

Dengan mata berkaca-kaca, Mayjen TNI Dudung Abdurachman mengingat sosok tangguh seorang Ibu tercinta. Menurut Dudung, ditengah keterbatasannya Sang Ibu tercinta masih mengajarkan kepada semua anak-anaknya agar membiasakan diri untuk berbagi antar sesama di lingkungannya.

"Saya melihat sosok ibu saya itu sangat luar biasa. Ibu itu sangat murah hati. Ibu itu kalau misalnya punya makanan itu sampai semua tetangga-tetangga itu dikasih semua, padahal waktu itu keluarga saya kekurangan. Itu yang saya pelajari dari sosok seorang ibu saya," ungkapnya.

"Ibu bilang rejeki itu datangnya dari Yang Maha Kuasa, sehingga saya berfikir ketika itu ketika orang bermurah hati pasti akan dibukakan kembali pintu rejekinya. Saya sangat bangga dengan ibu saya," tambahnya mengenang kepergian Sang Ibu tercinta.

Pada momentum peringatan Hari Ibu Nasional tahun ini, mantan Gubernur Akademi Militer itu berpesan kepada kaum ibu dan seluruh generasi muda Indonesia untuk selalu berbakti kepada sosok seorang ibu di tengah-tengah kita. Karena Mayjen TNI Dudung Abdurachman meyakini, perjalanan karir militernya hingga saat ini tidak lepas dari doa dari Sang Ibu tercinta, Ibu Nasyati yang sudah berpulang ke Rahmatullah pada tahun 2012 silam.

"Saya selalu berpedoman kalau kita ingin sukses itu ada dua bidadari cantik di lingkungan kehidupan kita. Pertama ibu kita, kedua istri. Bagi yang belum beristri, berbaktilah kepada ibu mu. Kata Nabi Muhammad SAW juga begitu, siapa yang harus ditaati? Ibu mu, Ibu mu, Ibu mu, baru bapak mu. Karena ibu ini pasti doanya manjur, kalau ingin sukses berbuat baiklah kepada ibu, apa yang kita punya berikanlah kepada ibu mu, dan jangan sekali-kali membantah ibu mu," kata Mayjen TNI Dudung Abdurachman.

"Alhamdulillah saya selama hidup, saya belum pernah melawan, saya belum pernah membantah. Untuk kaum ibu, kasihilah anak-anaknya, sayangilah anak-anaknya, dan ikhlas tulus untuk mengabdi, karena seorang ibu itu pengabiannya luar biasa dan merupakan ridho dari Yang Maha Kuasa. Seperti apa generasi mendatang bangsa ini tergantung Ibu. Selamat Hari Ibu," tutupnya.