Peringati Mosi M. Natsir, PKS: Komitmen Tokoh Islam Terhadap NKRI

Hardani Triyoga
·Bacaan 2 menit

VIVA – Mosi integral yang diinisiasi tokoh pejuang kemerdekaan RI, Mohammad Natsir dinilai jadi bagian sejarah penting terkait Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mosi integral tersebut bertujuan penghapusan Republik Indonesia Serikat atau RIS.

Demikian dibahas dalam webinar Peringatan Mosi Integral M. Natsir 3 April 1950 dengan tema 'NKRI Harga Mati' yang digelar Fraksi PKS di DPR. Sejumlah tokoh antara lain hadir dalam diskusi ini seperti Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Muhyiddin Junaidi, dan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Adian Husaini, dan Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini.

Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini menyampaikan mosi integral Natsir harus jadi perhatian khusus masyarakat. Ia bilang baguian ini adalah sejarah penting terkait mata rantai sejarah perjalanan bangsa Indonesia diingat dan tak terputus.

Menurutnya, melalui tahapan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, membuat Indonesia masih di bawah bayang-bayang Belanda. Meskipun saat itu Indonesia menjadi negara RIS.

"Muhammad Natsir sebagai Ketua Fraksi Masyumi di Parlemen RIS, mengusulkan pembubaran RIS untuk kembali menjadi NKRI. Hari ini siapapun yang mengaku menegakkan NKRI, mengatakan NKRI harga mati, harus ingat jasa besar Muhammad Natsir," kata Jazuli, dalam keterangannya, Minggu, 4 April 2021.

Menurut dia, mosi integral Natsir juga sebagai bukti peran tokoh muslim untuk menjaga, menyatukan, dan menyelamatkan NKRI dari perpecahan.

"Mosi itu merupakan bukti komitmen tokoh-tokoh Islam terhadap NKRI bahkan yang melahirkan NKRI itu sendiri. Inilah keteladanan yang diwariskan Pak Natsir kita semua untuk mencintai dan menjaga Indonesia," jelasnya.

Maka itu, Jazuli melanjutkan, pihak mana pun yang merusak NKRI dengan berbagai cara seperti komunisme, sekularisme, dan terorisme harus dilawan bersama. Sebab, dinilainya menciderai amanat para pendiri bangsa terutama M. Natsir yang pernah menjadi mantan Perdana Menteri Indonesia.

Sementara, Ketua Umum DDII Adian Husaini mengingatkan pentingnya masyarakat terutama muslim bisa meneladani Natsir. Menurut dia, Natsir sebagai pejuang kemerdekaan memiliki keteladanan yang luar biasa sehingga mampu melobi tokoh-tokoh nasional maupun negara bagian RIS sepakat untuk bersatu mengembalikan NKRI.

Kata dia, saat itu, Natsir butuh 2,5 bulan untuk meyakinkan para tokoh tersebut bisa sepakat kembali bergabung dalam bingkai NKRI.

"Kesuksesan mosi integral ini tak lepas dari cara pandang beliau yang integral, sudah melihat keindonesiaan dan keislaman sebagai satu kesatuan. Semua ditunjang oleh integritas akhlak dan kecerdasan intelektual beliau " ujar Adian.

Pun, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Muhyiddin Junaidi berpesan agar umat Islam saat ini bisa memunculkan Natsir baru di era sekarang. Bagi dia, figur Natsir sebagai cendikiawan, politisi dan praktisi hebat yang jadi bagian penting NKRI dengan mosi integralnya.

"Umat memiliki tantangan besar untuk melahirkan kembali tokoh seperti Mohammad Natsir," sebutnya.