AS peringkat teratas dunia jumlah kasus virus dan pengangguran capai rekor

Washington (AFP) - Amerika Serikat kini memiliki kasus infeksi COVID-19 yang paling banyak dibandingkan dengan negara lain dan mencatat rekor jumlah pengangguran baru ketika krisis virus corona kian mendalam di seluruh dunia.

Sistem perawatan kesehatan di negara-negara yang paling maju pun diregangkan untuk mencapai titik puncak dengan peringatan suram bahwa mereka akan segera kewalahan - dan sebuah prediksi menyebutkan bahwa 1,8 juta orang bisa meninggal dunia akibat penyakit itu tahun ini.

China, yang tampaknya sudah bisa mengatasi wabahnya, mulai Jumat melarang orang asing karena mengkhawatirkan lonjakan kasus impor corona yang melukiskan kesulitan dalam membendung virus di dunia yang sudah saling terhubung itu.

Langkah itu dilakukan ketika Wuhan, kota tempat virus corona baru pertama kali muncul akhir tahun silam, bersiap mencabut aturan pembatasan pergerakan keras yang diberlakukan selama dua bulan.

Lockdown seperti itu sekarang telah diterapkan di seluruh dunia, dengan tiga miliar orang diperintahkan diam di rumah.

Lebih dari 530.000 orang di seluruh dunia telah jatuh sakit karena penyakit ini yang seperenamnya ada di AS, yang pada Kamis menyalip Italia sebagai negara yang paling parah terkena dampak virus corona.

"Kita melancarkan perang melawan virus ini dengan menggunakan segala sumber daya keuangan, ilmiah, medis, farmasi, dan militer, untuk menghentikan penyebarannya dan melindungi warga negara kami," kata Presiden AS Donald Trump.

Dengan sekitar 40 persen warga Amerika berada di bawah lockdown, Trump mendesak warganya untuk melakukan bagian mereka dengan mempraktikkan jaga jarak sosial: "Tetap di rumah. Santai saja, tetap di rumah."

Bahkan dengan langkah-langkah ketat yang diterapkan, para peneliti pada Imperial College London mengatakan Kamis bahwa jumlah kematian global bisa mengejutkan.

Model yang dikembangkan mereka menunjukkan 1,86 juta orang bisa mati, dengan hampir 470 juta orang terinfeksi sepanjang tahun ini.

Kegagalan bertindak cepat dalam memaksakan lockdown dan jaga jarak sosial yang ketat bisa membuat angka-angka itu jauh lebih tinggi lagi, kata para peneliti memperingatkan.

"Analisis kami menggarisbawahi keputusan yang menantang yang dihadapi oleh semua pemerintah dalam beberapa pekan dan bulan mendatang, namun menunjukkan sejauh mana tindakan cepat, tegas dan kolektif saat ini bisa menyelamatkan jutaan nyawa," kata para peneliti tersebut.

Setelah kekhawatiran terjadinya resesi global kian memuncak yang bahkan bisa mengecilkan Depresi Besar pada 1930-an, para pemimpin Kelompok 20 mengadakan pembicaraan krisis melalui tautan video pada Kamis.

Mereka menjanjikan sebuah "front bersatu" untuk melawan wabah ini - bersama dengan paket penyelamatan keuangan besar-besaran.

"Virus tidak mengenal perbatasan," kata para pemimpin dalam sebuah pernyataan.

"Kami menyuntikkan lebih dari $ 5 triliun ke dalam ekonomi global, sebagai bagian dari kebijakan fiskal tersasar, langkah-langkah ekonomi, dan skema-skema penjaminan guna menangkal dampak sosial, ekonomi dan keuangan dari pandemi."

Mereka juga menjanjikan dukungan "kuat" kepada negara-negara berkembang, di mana para ahli khawatir virus corona bisa menciptakan malapetaka.

Ketika rumah sakit-rumah sakit di bawah tekanan berat, para pekerja medis di Italia dan Spanyol harus mengambil pilihan yang menyakitkan.

"Jika saya punya lima pasien dan hanya satu tempat tidur, saya harus memilih siapa yang mendapatkannya," kata Sara Chinchilla, dokter anak pada sebuah rumah sakit di dekat Madrid, kepada AFP.

"Orang-orang sekarat yang bisa diselamatkan tetapi sudah tidak ada ruang dia perawatan intensif."

Di Inggris, Badan Kesehatan Nasional (NHS) mengatakan rumah sakit-rumah sakit di London menghadapi "tsunami terus menerus" dari pasien COVID-19 yang sakit parah, meskipun dalam keadaan lockdown pekan ini.

Dan di New York, di mana puluhan ribu orang sakit, Gubernur Andrew Cuomo memperingatkan kekurangan tempat tidur di rumah sakit.

"Hampir setiap skenario bahwa adalah realistis melebihi kapasitas sistem perawatan kesehatan saat ini," kata dia.

Pandemi ini telah menjadi bencana besar bagi perekonomian global.

Di Amerika Serikat, ekonomi terbesar di dunia, Departemen Tenaga Kerja melaporkan bahwa 3,3 juta orang mengajukan tunjangan pengangguran pekan lalu yang sejauh ini merupakan jumlah tertinggi yang pernah tercatat.

Kehilangan pekerjaan telah melanda berbagai sektor mulai dari layanan makanan hingga ritel sampai transportasi, karena hampir separuh negara telah menutup bisnis yang tidak penting.

"Ini sangat mengejutkan. Kami hanya melihat angka awal; sayangnya, angka-angka itu kian bertambah buruk," kata Walikota New York Bill de Blasio kepada wartawan, seraya memperkirakan bahwa setengah juta orang di kota itu bakal kehilangan pekerjaan.

Tetapi pasar saham terus naik pada Jumat, dengan bursa Asia dalam posisi hijau (naik) setelah dalam tiga hari berturut-turut naik di Wall Street.

burs-hg/kaf