Perintah 2 Jenderal Kopassus TNI Bikin SBY Manut, Tak Berani Bantah

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Siapa pun yang menyebut Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bukan prajurit tempur, dipastikan salah besar. Sebab, Presiden Republik Indonesia (RI) ke-6 ini pernah mempertaruhkan nyawa demi berkibarnya merah putih di Bumi Lorosae.

Jangan pernah menganggap jika SBY tak punya kemampuan tempur. Sebab dalam catatan yang dikutip VIVA Militer dari buku "SBY Sang Demokrat", disebut bahwa SBY pernah memimpin salah satu pasukan paling sangar di Operasi Seroja, Timor-Timur.

Ya, sejumlah prajurit TNI jago perang yang dipimpin SBY tergabung di Batalyon Infanteri Raider Khusus 744/Satya Yudha Bhakti (Yonif Raider Sus 744/SYB). Jelas tak semudah membalik telapak tangan menjadi orang nomor satu di batalyon ini.

Sebab, SBY harus memimpin batalyon yang punya peran besar dalam penyergapan pentolan kelompok pemberontak Front Revolusi Kemerdekaan Timor-Leste (Fretilin), Nioclau dos Reis Lobato. Kesuksesan itu lah yang membuat SBY punya beban tersendiri untuk memimpin Yonif Raider Sus 744/SYB.

Sebelum dianggap sah menjadi Komandan Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bhakti, SBY lebih dulu harus berjuang keras. Meski pangkatnya sudah mencapai Mayor TNI, SBY harus menerima perlakuan layaknya seorang Taruna Akademi Militer (Akmil).

Ada dua sosok perwira yang berasal dari satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus), yang harus ditemui SBY. Nama pertama adalah Brigjen TNI Wismoyo Arismunandar (pangkat terakhir Jenderal TNI), yang saat itu menduduki posisi sebagai Kepala Staf Komando Daerah (Kasdam) Militer IX/Udayana.

Wismoyo sempat ragu setelah melihat sosok SBY yang punya kulit bersih. Dalam benak Wismoyo, SBY seperti tak memiliki kemampuan tempur. Sementara, daerah tugasnya adalah salah satu wilayah yang dilanda konflik. Sebelum berangkat ke Timor-Timur, Wismoyo pun meminta SBY melatih sejumlah Bintara TNI di Resimen Induk Kodam (Rindam) IX/Udayana.

Dua minggu SBY menjalankan tugas yang diberikan, Wismoyo akhirnya memberi restu untuk terbang ke Dili. SBY sendiri takkan menyangka, akan ada ujian yang lebih berat lagi yang menanti.

Usai tiba di Bandara Komoro, SBY mendapat perintah dari Komandan Komando Resor Militer (Danrem) 164/Wiradharma, Kolonel Inf Muhammad Yunus Yosfiah, yang pensiun dengan pangkat Letjen TNI. Lagi-lagi, SBY mendapat perintah yang cukup berat untuk membuktikan kapasitasnya sebagai prajurit TNI yang punya fisik dan mental sekuat baja.

Perintah dari Danrem 164/Wiradharma disampaikan oleh Letda Inf Wiyarto, yang datang menjemput SBY di Bandara Komoro. Wiyarto mengatakan bahwa SBY harus datang ke markas Yonif 744/SYB di Taibesi dengan berlari. Gilanya lagi, jarak dari Bandara Komoro ke Taibesi mencapai 15 kilometer.

Layaknya prajurit TNI yang sedang bertempur, SBY juga membawa perlengkapan mulai dari ransel seberat 25 kilogram, senapan serbu, hingga helm baja.

Di sini lah letak fakta bahwa SBY tak seperti yang dibayangkan oleh Wismoyo pada awalnya. Dengan tekad yang kuat, SBY mampu membuktikan diri layak untuk menjadi Danyon 744/SYB, pasukan legendaris Kodam IX/Udayana.