Perintah Jokowi ke Panglima TNI dan KSAL

Siti Ruqoyah, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Presiden Jokowi memerintahkan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Yudo Margono untuk terus berada di lapangan terkait proses pencarian kapal selam KRI Nanggala-402 yang dikabarkan hilang kontak di Perairan Bali bagian utara.

Jokowi menegaskan, proses pencarian itu diminta mengutamakan keselamatan awak kapal.

"Prioritas utama adalah keselamatan 53 awak kapal," kata Jokowi dalam keterangan persnya, Kamis 22 April 2021.

Jokowi juga meminta, Panglima, KASAL, dan Basarnas mengerahkan kekuatan penuh. Jokowi juga menyebut telah mendapatkan laporan peristiwa tersebut dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

“Pada keluarga awak kapal saya memahami betul perasaan bapak ibu semuanya saat ini tapi sekali lagi pemerintah telah dan akan terus menguapayakan yang terbaik dalam pencarian dan penyelamatan seluruh awak yang ada di dalam kapal selam tersebut,” ucap Jokowi.

Kepala Negara pun mengajak seluruh masyarakat, untuk berdoa agar proses pencarian yang dilakukan saat ini bisa berjalan baik dan lancar.

"Diberikan kemudahan untuk menemukan kembali KRI Nanggala 402, dan seluruh awaknya dalam keadaan selamat," katanya.

Pada Rabu kemarin, tepatnya pukul 03.45 Wita, KRI Nanggala melaksanakan penyelaman, kemudian pukul 04.00 Wita melaksanakan penggenangan peluncur torpedo nomor 8 dan bukan rudal. Komunikasi terakhir dengan KRI Nanggala pada pukul 04.25 saat komandan gugus tugas latihan akan memberikan otorisasi penembakan torpedo.

Sementara itu, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono memperkirakan kemampuan oksigen KRI Nanggala apabila berada dalam kondisi blackout mampu 72 jam atau kurang lebih 3 hari.


Jadi, kalau kemarin saat hilang kontak pukul 03.00 Wita, sampai Sabtu pukul 03.00 Wita. Mudah-mudahan ini segera ditemukan sehingga cadangan oksigen masih ada," kata Yudo saat konferensi pers di Base Ops Lanud Ngurah Rai, Bali, Kamis, 22 April 2021.

Yudo menyatakan, bahwa kapal KRI Nanggala dalam keadaan siap, baik personel maupun material.

Ia menegaskan personel lengkap serta material sudah ada dan sudah mendapat surat kelaikan. KRI Nanggala dibuat tahun 1977 dan diterima angkatan laut delivery tahun 1981 buatan HDW Jerman.

Riwayat kapal itu, katanya, sudah menembak torpedo latihan sebanyak 15 kali dan menembak torpedo perang dua kali dengan sasaran kapal eks KRI, keduanya tenggelam.

"Jadi, KRI Nanggala ini dalam kondisi siap tempur sehingga kami libatkan untuk latihan penembakan torpedo latihan maupun perang," katanya menjelaskan.