Peristiwa Horor Istri Letnan TNI, Setahun Tidur Dengar Suara Misterius

Bayu Adi Wicaksono
·Bacaan 4 menit

VIVA – Banyak kisah menarik yang tercipta dalam kehidupan artis cantik Annisa Pohan ketika memutuskan untuk hidup bersama seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI). bernama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Dari sekian banyak kisah hidup Annisa bersama AHY ada satu yang menarik perhatian VIVA Militer dan sangat layak ditampilkan sebagai berita pilihan di edisi Senin 1 Maret 2021 ini.

Kisah itu terjadi belasan lalu, tepatnya 16 tahun lalu di Markas Batalyon Infanteri Para Raider 305/Tengkorak, Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di Teluk Jambe, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Dan yang menariknya lagi, kisah ini diutarakan sendiri oleh Annisa Pohan melalui media sosialnya.

Jadi begini, pada 2005 selepas melangsungkan pernikahan dengan AHY, wanita berdarah Batak itu langsung diboyong ke asrama Yonif Para Raider 305/Tengkorak.

Ketika itu AHY menjabat sebagai Komandan Kompi C dengan pangkat Letnan Satu (Lettu).

Mereka menempati salah satu rumah dinas khusus perwira. Rumahnya sangat sederhana. Kondisinya sangat jauh berbeda dengan kediaman mereka. Lettu AHY telah menempati rumah sejak 2001.

Semua pasti sudah mengetahui, Lettu AHY dan Annisa merupakan dua anak bangsa yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berada.

Annisa merupakan putri dari mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aulia Pohan. Sedangkan Lettu AHY putra sulung Presiden RI, Jenderal (HOR) Susilo Bambang Yudhoyono.

Tapi, walau begitu. Annisa sama sekali tak mengeluh. Baginya hidup di rumah sederhana pun tak masalah, asalkan bisa selalu berada di sisi suami tercinta.

Singkat cerita, Annisa resmi menjadi penghuni di rumah tepi sawah bernomor 25 itu. Dan resmi pula menjadi warga asrama salah satu batalyon pasukan tempur hebat TNI AD.

Rumah dinas yang mereka tempati tak begitu besar. Hanya terdiri dari beberapa ruang saja. Rumah beratap genting itu terdiri dari kamar utama, ruang kerja, kamar tamu dan dapur.

Seperti halnya warga asrama lainnya, kehidupan mereka berjalan sewajarnya. Tak ada jarak sosial yang tercipta meski Lettu AHY dan Annisa memiliki latar belakang keluarga yang wah.

Walau jauh berbeda dengan kondisi rumah keluarganya. Tapi Annisa cepat beradaptasi dan terbiasa hidup sederhana.

Awal-awal menempati rumah, tak ada hal-hal aneh. Namun, beberapa waktu kemudian barulah ada hal yang tak terduga terjadi di rumah itu.

Saat itu di tahun 2006 Lettu AHY mendapatkan kehormatan dari TNI untuk melaksanakan tugas sebagai pasukan keamanan dunia di bawah bendera PBB.

Lettu AHY mendapatkan tugas operasi kontingen Garuda XXIII-A, United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dan dengan terpaksa harus meninggalkan istri tercinta tinggal seorang diri di asrama.

"Banyak sekali kenangan yang kami miliki di sini, karena di sinilah pertama kali saya belajar menjadi seorang istri prajurit dengan segala suka dan dukanya, termasuk ditinggal tugas oleh suami selama satu tahun dan harus tinggal di rumah tersebut sendirian karena belum memiliki Almira," tulis Annisa mengenang cerita itu.

Sepeninggal Lettu AHY, Annisa seorang diri di rumah itu. Annisa memang harus tinggal, sebab sebagai istri prajurit TNI, dia memiliki tugas untuk membina para istri prajurit lainnya.

Sampailah pada suatu malam, Annisa berbaring seorang di kamar. Tiba-tiba saja dari plafon loteng rumahnya terdengar suara-suara tak biasa.

Peristiwa itu tak cuma terjadi sekali saja, tapi terus berulang di setiap malam hari. Dan kian hari suara misterius itu semakin ramai terdengar.

Annisa tak berpikir yang serem-serem soal kemunculan suara itu. "Pikiran saya saat itu adalah tikus. Kemudian semakin lama suara suara di atas semakin ramai dan keras. wah jangan-jangan mereka beranakpinak diatas plafon ya?," tulis Annisa.

Karena setiap malam suara-suara misterius terjadi terus menerus, akhirnya Annisa menjadi terbiasa dengan kehadiran makhluk yang tidak diketahui wujudnya oleh Annisa.

"Dalam kesendirian saya pun sudah terbiasa tidur ditemani suara-suara yang ada di atas plafon tersebut.
Sampai akhirnya di akhir tahun 2007 Mas Agus kembali dari Libanon, kembali menempati rumah dinas bersama saya dan tak lama saya pun hamil dan melahirkan Almira pada bulan Agustus 2008," tulis Annisa.

Waktu terus berlalu sampai akhirnya pada 2009, Lettu AHY dipindahtugaskan. Mau tak mau Annisa harus meninggalkan rumah dinas yang selama ini ditempatinya dengan segudang cerita.

Hari kepindahan pun tiba, Annisa sibuk mengemas barang-barang dibantu prajurit TNI anggota kompi yang dipimpin Lettu AHY. Namun, tiba-tiba saja terdengar suara keras seperti benda jatuh. Annisa pun mencari tahu asal suara itu, dia pun bertanya pada prajurit TNI yang membantunya.

"Ada apa om? suara apa itu om? apakah ada yg jatuh dari atas?," kata Annisa pada prajurit TNI yang berada di luar rumah.

Lalu, prajurit TNI itu menjawab dan memberitahu Annisa bahwa suara itu berasal dari plafon yang jebol akibat adanya biawak yang jatuh dari dalamnya.

Annisa terkejut dengan jawaban itu. "'Ini Bu ada yang jatuh dari atas plafon, sepertinya biawak'. Saya shock, hah biawak???," tulis Annisa.

Yang horornya ternyata tak cuma satu ekor saja, tapi saat ada anak dan induk biawak yang keluar dari plafon dan kabur dari rumah itu. Jadi selama itu Annisa tidur di bawah sarang biawak liar asrama TNI.

"Jadi ternyata selama saya sendirian di dalam rumah itu suara-suara yang ada di atas plafon itu adalah biawak, kemudian semakin keras semakin ramai itu si biawak punya anak juga sama seperti saya. Ketika saya siap-siap untuk pindah si keluarga biawak juga ikut keluar dari plafon," tulis Annisa.

Annisa sangat bersyukur para biawak itu tak mengganggunya. Dan lebih bersyukur lagi, biawak tak jatuh di kamar Annisa saat dia seorang diri malam-malam itu.