Perjalanan Firman Utina dan 3 Sosok yang Menginspirasinya Jadi Gelandang Papan Atas Indonesia

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Makassar - Firman Utina tercatat 18 tahun secara beruntun konsisten berkiprah di kompetisi kasta tertinggi Tanah Air. Pencapaiannya pun terbilang lumayan. Trofi juara Liga Indonesia bersama Sriwijaya FC, Persib Bandung, dan Bhayangkara FC, serta bersama Arema Malang berjaya di Copa Dji Sam Soe (Piala Indonesia). Ia pun pernah membawa Timnas Indonesia menembus final Piala AFF 2010.

Setelah pensiun sebagai pemain, Firman Utina fokus dalam dunia kepelatihan dengan mendirikan Akademi Sepak Bola FU15 di Tangerang. Selain itu, ia juga membuka usaha konveksi berkerja sama dengan rekannya di Bandung.

Pencapaian ini merupakan buah kerja keras dan tekadnya yang besar memwujudkan mimpi menjadikan sepak bola bagian dari kehidupan. Dalam channel Republik Bobotoh TV, Firman menceritakan perjalanan panjangnya yang dimulai dengan bergabung di SSB Indonesia Muda Manado dan kemudian pindah ke SSB Bina Taruna Manado.

Selama menimba ilmu di level junior, Firman banyak mengalami masa pahit. Apalagi, tekadnya menjadi pesepak bola awalnya tidak mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Sejak kecil, Firman sudah merasakan kerasnya kehidupan. Ayahnya adalah seorang kuli bangunan sementara ibunya berjualan kue di pasar.

"Saya dilarang main sepak bola. Ayah malah mengarahkan saya jadi petinju karena Manado dikenal sebagai gudang petinju andal. Saya sering diadu dengan rekan seusia di ring dadakan pasar. Biasanya, saya sengaja cepat kalah agar bisa pergi bermain sepak bola," kenang Firman.

Tak hanya itu, karena minimnya materi keluarga, Firman harus mengalami masa sulit agar sekadar bisa bertahan dengan impiannya di sepak bola, di antaranya harus berenang menyeberangi sungai agar bisa mengikuti latihan SSB Bina Taruna Manado.

"Saya terpaksa berenang. Kalau lewat darat, saya harus menempuh jarak yang jauh dan naik angkot untuk sampai ke lokasi latihan. Kalau pun naik perahu harus membayar ongkos sewa Rp100 sekali menyeberang," papar Firman.

Peruntungan Firman di sepak bola mulai terkuak ketika namanya masuk dalam tim Soeratin Manado yang berkiprah sampai putaran nasional pada 1989. Pada momen ini, kedua orang tuanya mulai mendukung meski lebih berharap Firman bisa menjadi polisi selepas lulus bangku SMA.

Setelah memperkuat tim Soeratin Manado, Firman mencoba mengikuti seleksi tim Pra-PON Sulut di Stadion Klabat Manado. Tapi, Firman mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan. Ia ditolak mengikuti seleksi karena posturnya pendek dan kecil.

Beruntung, Firman tak langsung pulang ke rumah. Kebetulan, pada lapangan yang sama, Persma Manado sedang bersiap menatap Liga Indonesia musim 1999-2000. Firman yang sedang menonton rekan-rekannya seleksi ditegur oleh Benny Dollo, pelatih Persma.

"Om Benny mengajak saya ikut berlatih di Persma. Malamnya, beliau datang ke rumah untuk meminta izin orang tua agar saya bisa bergabung di Persma," kata Firman.

Maka jadilah Firman berstatus pemain Persma saat masih duduk di bangku kelas dua SMA. Sentuhan pelatih berkelas seperti Benny Dollo membuat kemampuan Firman berkembang pesat. Ketika berada di Persma, Firman tak lagi bermain di posisi striker, Benny memainkannya sebagai gelandang menggantikan peran seniornya, Francis Wawengkang, yang hengkang ke Persijatim.

Pada momen ini, Firman sudah bisa membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa sepak bola bisa menjadi pekerjaan yang bisa menafkahi keluarga.

"Alhamdulillah meski hanya mendapat gaji Rp250 ribu per bulan, saya bisa membeli televisi ukuran 14 inch sehingga ibu tak perlu lagi menumpang nonton di rumah tetangga," papar Firman Utina.

3 Sosok Inspirasi

Benny Dollo dan Firman Utina. (Bola.com/Dody Iryawan)
Benny Dollo dan Firman Utina. (Bola.com/Dody Iryawan)

Seperti diketahui, Firman Utina kemudian menjelma sebagai gelandang papan atas Indonesia. Ia mulai melakoni perannya tersebut saat memperkuat Persma.

Menurut Benny Dollo, Firman bakal lebih efektif dan menonjol bila bermain di lini tengah. Layaknya seorang pemain pada umumnya, Firman pun mencari sosok gelandang yang akan ia jadikan anutan dan inspirasi di lapangan hijau.

Ia pun mendapatkan tiga nama. Yang pertama adalah Ansyari Lubis, yang menjadi gelandang termahal era Galatama ketika direkrut Pelita Jaya dari Medan Jaya.

"Ansyari memiliki visi bermain yang baik. Ia sering menceritakan tentang gol di tim yang dibelanya serta awet berstatus pemain Timnas Indonesia," ungkap Firman yang menjadikan status pemain timnas sebagai tujuan utamanya di sepak bola.

Sosok kedua adalah Fakhri Husaini. Menurut Firman, gelandang PKT Bontang dan Timnas Indonesia adalah sosok yang cerdas di lapangan hijau serta memiliki karakter dan jiwa kepemimpinan yang kuat.

Selain kedua nama itu, Firman juga menjadikan Carlos de Mello sebagai role model. Apalagi setelah ia bermain bersama Carlos dalam satu tim di Persita.

Seperti diketahui, semusim bersama Persma, Firman diajak Benny Dollo ke Persita Tangerang yang langsung dibawanya menembus semifinal Liga Indonesia 2002.

Tiga musim bersama Persita dan sempat menjadi PNS di Pemkab Tangerang, Firman menerima ajakan sang mentor yang diplot menangani Arema Malang. Bersama Arema, Firman meraih gelar pertama di level atas dengan meraih trofi juara Copa Dji Sam Soe (Piala Indonesia) 2005.

Setelah memperkuat Arema, ia kemudian berturut-turut berkostum Persita, Pelita Jaya, Persija Jakarta, Sriwijaya FC, Persib Bandung, Bhayangkara dan Kalteng Putera. Bersama klub terakhir, ia kemudian memutuskan pensiun sebagai pemain.

Video