Perjalanan hidup Hamilton hingga gelar juara dunia ketujuhnya

Teguh Handoko
·Bacaan 4 menit

Lewis Hamilton menyematkan dirinya sebagai salah satu pebalap terhebat di Formula 1 setelah menyamai rekor tujuh gelar juara dunia Michael Schumacher pada Minggu.

Suatu capaian yang luar biasa bagi seseorang yang tumbuh di lingkungan yang sederhana.

Kemenangannya di Grand Prix Turki, ke-94 dalam karirnya, menambahkan titel 2020 dalam capaiannya setelah berjaya pada 2008, 2014, 2015, 2017, 2018 dan 2019.

Baca juga: Hamilton samai rekor tujuh titel Schumacher, berikut perbandingannya

Hamilton, putra dari seorang ayah yang berkulit hitam dan ibu berkulit putih, semasa kecilnya harus tinggal di council house, semacam perumahan rakyat yang disediakan pemerinah Inggris, setelah kedua orang tuanya berpisah.

Anthony, sang ayah, kala itu harus bekerja di tiga tempat berbeda untuk membiayai karir membalap putranya di karting.



Seperti dilansir AFP, Hamilton memulai karirnya tanpa hak istimewa maupun kemewahan, namun jelas terlihat sejak dini bahwa dia memiliki bakat istimewa dalam hal kecepatan dan terlahir dengan bakat murni membalap.

Baca juga: Hamilton raih titel ketujuhnya di F1 dengan kemenangan di Turki

Pada 1995, ketika usianya 10 tahun, mengenakan jaket dan sepatu yang dipinjam dari pendahulunya sebagai juara turnamen karting British Formula Cadet, Hamilton naik mimbar upacara penyerahan penghargaan di London di mana ia bertemu bos McLaren saat itu, Ron Dennis.

Dia meminta tanda tangan dan mengatakan kepadanya, "suatu hari saya akan membalap untuk Anda". Dennis membalas; "telfon saya sembilan tahun lagi dan saya akan buatkan kamu kontrak."

Kegigihannya hampir membuat Hamilton menjadi juara dunia di musim pertamanya sebagai pebalap Formula 1 setelah finis podium sembilan kali secara beruntun sejak debut di Melbourne, Australia pada 2007.

Baca juga: Verstappen kecewa kecolongan pole position di Grand Prix Turki
Baca juga: Stroll pertahankan pole position GP Turki, duet McLaren kena penalti


Hamilton membuktikan dirinya sebagai pebalap yang cepat dan bahkan terlibat perseteruan sengit dengan rekan satu timnya saat itu di McLaren, juara dunia dua kali Fernando Alonso.

Hal itu menjadi sinyal bagaimana tangguhnya menjadi calon rekan satu tim Hamilton. Di tahun berikutnya, Hamilton muncul sebagai juara dunia setelah finis peringkat lima secara dramatis di Brazil.

Dia juga sempat dibuat frustasi ketika McLaren gagal menandingi kecepatan Sebastian Vettel dan Red Bull, yang memborong empat gelar juara dunia dari 2010-2013, yang pada akhirnya memaksa Hamilton pindah ke Mercedes.

Terlepas dari rezim manajemen Dennis dan sang ayah, Hamilton menemui kebebasan di Mercedes sebagai tandem Nico Rosberg, teman sekaligus rival ketika masa-masa membalap di karting.

Hamilton lebih bisa mengekspresikan dirinya dan muncul kembali sebagai juara dunia pada 2014 dan 2015.

Rosberg menghentikan rentetan supremasi Hamilton pada 2016 dan kemudian pensiun, meninggalkan Hamilton yang dominan hingga sekarang.

Mantan rekan satu timnya di McLaren Jenson Button menyimpulkan kecepatan alamiah Hamilton ketika ia mengatakan,"Bagi saya, dalam satu putaran, saya kira tidak ada orang lain yang secepat Lewis dan saya kira tidak pernah ada sebelumnya."



Sementara itu bos tim Mercedes Toto Wolff mengungkapkan bahwa Hamilton "tidak pernah puas."

"Dia tidak pernah senang dengan di mana (posisinya) sebagai pebalap dan manusia."

Dengan prestasi yang begitu banyaknya di dunia olahraga, Hamilton belakangan ini juga lebih kencang menyuarakan perhatiannya terhadap isu sosial.

Musim lalu ia mulai mengungkapkan kekhawatirannya soal masalah lingkungan dan lewat Instagram mengatakan bahwa planet ini suatu "tempat yang berantakan" dan bahkan ia sempat ingin menyerah.

Komentar tersebut, termasuk keputusannya mengikuti gaya hidup vegan, membawa pria yang sering menggunakan jet pribadi dan hidup dari olahraga yang tidak memiliki kredensial ramah lingkungan dituduh sebagai hipokrit, meski pada akhirnya ia menjual jet pribadinya dan beralih mengendarai mobil elektrik untuk urusan sehari-hari.

"Saya hanya manusia," kata Hamilton. "Seperti setiap orang, kita memiliki hari-hari baik dan buruk. Itulah yang saya berusaha sampaikan."

Tahun ini Hamilton semakin menekankan pentingnya keberagaman di paddock, setelah didorong oleh dukungannya terhadap gerakan Black Lives Matter.



Karir dan pencariannya terhadap ekspresi diri dan kebebasan telah menginspirasi Hamilton untuk berpesan kepada para pebalap muda.

"Apa yang bisa saya sarankan kepada siapapun bocah di luar sana yang mencoba balapan adalah jangan dengarkan orang yang mengatakan bahwa kalian perlu pelatih mental atau kalian perlu seseorang untuk mengendalikan pikiran kalian," kata Hamilton.

"Kalian perlu membiarkannya bebas dan temukan diri kalian sendiri. Ini adalah soal pencarian. Dan hanya kalian yang bisa melakukan itu."

Ketika Hamilton merebut gelar juara dunia keenamnya di Texas tahun lalu, sang ayah menyimpulkan prestasi sang putra: "Sangat luar biasa dan tak terlalu buruk bagi seorang bocah dari perumahan rakyat Stevenage."