Perjalanan Johor Darul Ta'zim dari Tim Nirprestasi Jadi Klub Sepak Bola yang Disegani

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Mendengar nama Johor Darul Ta'zim (JDT), maka satu hal pertama yang terbesit adalah klub asal Malaysia yang pernah dibantai Persija Jakarta 0-4 pada Piala AFC 2017/2018 silam. Kekalahan itu bakal mudah dilupakan oleh pendukungnya, sebab kejayaan tim berjulukan Southern Tigers itu sudah di depan mata.

Meski dicap klub baru di Malaysia, JDT sebetulnya sudah berdiri sejak 1972. Saat itu masih bernama Johor FC, hingga pada 2013 berubah nama seperti sekarang.

Sejak kemunculannya di kancah persepakbolaan Malaysia, prestasi Johor FC tidaklah mentereng. Mereka bahkan dicap sebagai tim papan tengah saja alias medioker.

Di Negeri Johor (seperti Negara Bagian di Amerika Serikat), Johor FC yang dahulu bernama Perbadanan Kemajuan Ekonomi Negeri Johor FC (PKENJ FC) juga merupakan tim nomor dua. Saudara tuanya, Johor FA, sudah ada lebih dulu, tepatnya pada 1955.

Rivalitas berlanjut hingga pada akhirnya Johor FC bisa mengangkangi Johor FA. Namun tetap saja keduanya urung meraih prestasi di Malaysia. Hingga akhirnya, 'reformasi' dibawa oleh Putra Mahkota Johor, Tunku Ismail Idris.

Pada 2012, setelah ia diangkat sebagai Presiden Persatuan Bolasepak Negeri Johor (di Malaysia tiap negara bagian umumnya memiliki presiden atau ketua asosiasi di bawah PSSI-nya Malaysia atau FAM), Tunku Ismail Idris menginisiasi merger antara kedua klub, Johor FC dan Johor FA.

Berdirilah Johor Darul Ta'zim, sebuah klub yang melambangkan persatuan di Negeri Johor. Kala itu,karena kedua kesebelasan bermain di kasta berbeda, Johor FA yang bermain di Liga Primer Malaysia berganti nama menjadi Johor Darul Ta'zim II.

Ambisi Besar JDT

Barulah pada 2013, JDT meresmikan diri sebagai satu-satunya klub sepak bola yang mewakili Negeri Johor. Prestasi yang didapat JDT tidaklah instan, sebab meski mereka berhasil merekrut nama-nama tenar dari Eropa, tetap saja mereka nirprestasi.

Ambisi besar Tunku Ismail Idris menjadikan JDT sebagai tim terkuat di Malaysia mulai membuahkan hasil pada musim 'keduanya'. Pablo Aimar yang diimpor membawa JDT sukses memberikan gelar juara Liga Super Malaysia.

Bak singa yang kelaparan, JDT tak gampang puas dengan prestasi tersebut dan justru makin beringas memperbaiki tim, baik dari segi teknis maupun non-teknis. Konsistensi jadi sebuah kewajiban, hingga kini menjadi klub sepak bola paling disegani di Malaysia.

Tuah Mario Gomez

Suporter Arema tentu masih ingat Roberto Carlos Mario Gomez. Ya, pelatih asal Argentina ini menetapkan standar baku buat JDT. Berkat tangan dinginnya, pada 2015, ia membawa Harimau Selatan meraih juara Piala AFC, atau Liga Europa-nya Asia.

JDT menjadi klub Malaysia pertama yang memenangi kompetisi elite Asia tersebut. Puas? Belum.

Keberhasilan JDT 'menaklukkan' Asia membuat manajemen klub berani meningkatkan lagi standar tim. Markas latihan, stadion, dan fasilitas pendukung lainnya dipermak habis guna satu tujuan, raja Asia Tenggara.

Liga Champions Asia

Kesuksesan di Piala AFC coba ditularkan ke Liga Champions Asia. Ambisi ini jelas tidak mudah dan membutuhkan waktu. Tapi buat manajemen klub JDT, itu adalah sebuah target yang tak bisa ditawar.

Melakoni debut pada musim 2019, JDT tak mampu berbicara banyak dan masih tertinggal jauh dari klub-klub mapan seperti Jepang, China, dan Korea Selatan.

Musim berikutnya, saat JDT berhasil menunjukkan perbaikan dari sisi teknis, di antaranya menumbangkan dua tim kuat, Kashima Antlers dan Suwon Bluewings, Liga Champions Asia dihentikan sementara karena pandemi virus corona, kemudian pemerintah Malaysia tidak memberikan izin kepada JDT untuk bepergian ke negara lain, yang berarti laju mereka praktis terhenti.

Pengakuan Praktisi Sepak Bola Indonesia

Penasihat Teknik dan Direktur Teknik PSSI, Danurwindo, mengatakan bahwa Johor Darul Ta'zim (JDT) adalah contoh baik pengelolaan sepak bola, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

"Jangan heran kalau JDT sering dibicarakan di Indonesia. Banyak klub di sini berkiblat pada JDT," kata Danurwindo lagi.

"Kami terkesan dengan karakter dan kepemimpinan Pangeran Johor. Jadi kami harap bisa mengaplikasikan metode JDT di Indonesia."

Bos Borneo FC, Nabil Husein, tanpa segan mengakui bahwa ia belajar pada pengelolaan klub JDT. "Panutan (Tunku Muda Johor). Seharusnya kita melihat apa yang dia buat. Borneo dalam perjalanan menuju sukses seperti JDT."

Video