Perjalanan Kamus Akustik, dari gemar tawuran menjadi pemusik handal

Pelaku tawuran kerap kali diarahkan untuk bergabung ke dalam komunitas karang taruna agar bisa dibina menjadi lebih baik dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun belum banyak yang tahu apakah hasil dari karang taruna memang benar-benar memberi dampak positif bagi para pelaku.

Mengingat kelompok karang taruna kerap hanya dianggap kumpulan orang-orang yang kerjanya rapat tanpa ada kontribusi yang nyata di lingkungan.

Namun opini tersebut terpatahkan saat bertemu La Ode Hardian Ketua Karang Taruna Kebon Baru yang berjuang menjadikan organisasi yang dipimpinnya mampu berprestasi bahkan membanggakan lingkungannya.

Pria berusia 32 tahun ini berinisiatif mengajak rekan-rekan sesama anak muda ke dalam satu wadah yakni grup musik karang taruna.

La Ode akhirnya berjumpa dengan Bimo yang ditunjuk menjadi ketua grup musik karang taruna pada 6 Januari 2019.

Berawal dengan nama 'Katakustik' yang kependekan dari karang taruna musik, Bimo mengajak dua teman lainnya untuk bergabung menyalurkan hobi mereka yang suka bermain musik. Hingga akhirnya mengubah nama mereka menjadi 'Kamus Akustik'.

"Nah kita mau menghapus paradigma kalau karang taruna tak hanya aktif saat menjelang perayaan 17 Agustus saja. Di sini itu ada kegiatan seru contohnya bermusik," ucap Bimo.

Bimo mengatakan setelah mengenal anggota lainnya yang bernama Farhan, Kamus Akustik menjadi lebih berkembang dengan tampil di sebuah kafe jalanan (coffee street) pada Desember 2021.

Namun penampilan pertama itu malah membuat mereka tidak ingin dibayar lantaran kegiatan ini dilakukan sukarela sehingga hanya ingin menyalurkan hobi bermusik saja.

Baca juga: Sudin Pendidikan dan polisi patroli antisipasi tawuran usai sekolah

Selembar dua puluh ribuan pun pernah diterima mereka secara sukarela saat sekali tampil. Semua itu dilakukan hanya untuk kesenangan batin.

Bahkan anggota Kamus Akustik juga rela membawa alat musik sendiri mulai dari gitar hingga kajon dengan menaiki motor dari satu tempat ke tempat lainnya.

"Kita tekankan grup ini bukan untuk cari uang karena saat kita tampil dimana-mana paradigma itu pasti main terus terus dibayar. Nah disini gak dibayar," tegas Bimo.

Lama kelamaan, penampilan Kamus Akustik semakin dikenal banyak orang hingga akhirnya pemilik usaha tersebut memberikan bayaran pertama kali yakni Rp150 ribu pada akhir 2020.

Bimo dan teman-temannya pun mulai berani mematok harga setiap kali tampil di sebuah acara karena semakin banyak kafe maupun warung jalanan yang memanggil mereka. Saat ini mereka bisa mencapai penghasilan sebanyak Rp500 ribu untuk sekali tampil.

"Bayaran itu kita masukin ke kas buat maintenance alat seperti senar, service sistem suara, beli bensin atau konsumsi saat latihan," ujar Bimo.

Kebersamaan personel Kamus Akustik dengan Wali Kota Jakarta Selatan Munjirin beserta jajarannya. ANTARA/Dokumen Pribadi
Kebersamaan personel Kamus Akustik dengan Wali Kota Jakarta Selatan Munjirin beserta jajarannya. ANTARA/Dokumen Pribadi


Mantan anak tawuran

Siapa sangka kalau anggota Kamus Akustik dulunya jebolan pelaku tawuran.

Mereka pada akhirnya sadar diri dengan berprinsip ingin berkumpul dengan teman dan bisa menghasilkan sesuatu.

Kamus Akustik tak punya syarat khusus untuk menjadi anggota, bahkan para mantan pelaku tawuran juga bisa bergabung jika memang memiliki potensi dalam bermusik.

La Ode selaku ketua Karang Taruna Kebon Baru memiliki perhatian kepada para mantan pelaku tawuran yang membutuhkan binaan.

"Kita ajak ngobrol Babinsa, Bimaspol, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) dan lainnya agar teman-teman ini jangan dieksekusi dulu. Mereka punya hak, itu peran kita untuk menggandeng jangan langsung dimasukkan ke penjara," kata La Ode.

Baca juga: Pemerintah tambah kapasitas pengunjung kafe di DKI jadi 75 persen

Menurut pria yang sempat kuliah di jurusan pertanian tersebut, membenarkan para pelaku tawuran punya kesalahan. Namun hal itu bisa dirundingkan dulu dengan melihat potensi yang sebenarnya ada dalam diri mereka.

"Ya udah kita ajak mereka ikut karang taruna dengan lihat hobinya. Kita punya bidang pertanian, grup musik, teater, dan futsal. Jadi kita rohnya untuk mencegah konflik sosial," tegasnya.

Membaca situasi

Dibentuk sejak 2019, mustahil jika grup musik dengan delapan personel tetap ini tak memiliki banyak pengalaman selama manggung. Bahkan setiap penampilan mereka bisa mengubah genre lagu dengan membaca situasi di tempat mengikuti selera penonton.

"Tempat kopi itu random dan tugas kita ngebaca situasi dan customer. Karena kita dibayar untuk menghibur customer bukan menghibur diri sendiri," kata Bimo.

Adapun tempat berjualan kopi memiliki perbedaan tergantung tempatnya. Jika di kafe jalanan maka mereka lebih bisa menerima segala lagu mulai dari reggae, pop melayu, hingga dangdut.

Menurut Bimo, hal ini karena kafe jalanan lebih menjual kebersamaan dengan berlatar belakang trotoar disertai suara kendaraan roda dua dan empat yang berlalulalang.

Berbeda lagi jika tampil di kafe yang menetap maka mereka memilih lagu terbaru dan viral karena di tempat tersebut suasana dan kenyamanan lebih diutamakan.

Adapun mereka tak hanya sekedar tampil, namun juga berinteraksi dengan penonton layaknya diperlakukan seperti teman tongkrongan. Jika para penonton menikmati penampilan mereka, maka dari situ mereka menilai penampilan berhasil menghidupkan suasana.

"Meski tampilan kita gak terlalu ganteng, kita bisa bangun suasana," kata personel bernama Farhan.

Penampilan Kamus Akustik saat tampil di salah satu kafe jalanan. ANTARA/Dokumen Pribadi
Penampilan Kamus Akustik saat tampil di salah satu kafe jalanan. ANTARA/Dokumen Pribadi

Pengalaman tak terlupakan

Sejumlah pengalaman tak terlupakan pernah dialami sejumlah personel Kamus Akustik, salah satunya adalah saat digerebek satpol PP ketika masa pandemi COVID-19 pada tahun 2020.

Diceritakan Bimo, waktu itu mereka tampil di kawasan Tebet dan saat itu PPKM level dua yang membatasi tempat umum ditutup sampai jam 10 malam.

Sang pemilik kafe tersebut mengatakan agar mereka terus menyanyikan lagu. Namun pada jam 12 malam datanglah polisi dengan enam mobilnya beserta para wartawan yang meliput mereka yang melanggar aturan PPKM kala itu.

Alat musik yang dibawa Kamus Akustik sempat disita polisi, namun mereka menawar kalau alat tersebut dipakai mencari uang. Alhasil KTP salah satu personel, Farhan yang ditahan dan harus mengambilnya langsung ke kantor Wali Kota Jakarta Selatan.

Baca juga: FLAVS Festival 2022 hadirkan rangkaian lima kompetisi di Jakarta

"Kita saking seringnya digerebek sampe foto bareng polisi. Dikenal sama polisi ya jadinya ngobrol aja sama polisi. Gak ada panik-paniknya sekarang," kata Farhan.

Selain itu, sang vokalis, Raja juga tak mau kalah menceritakan pengalamannya selama tampil yakni pernah ada yang tawuran.

"Pas tampil belum keluar ada sekumpulan anak yang lempar batu ke kita. Akhirnya ada tawuran terus kita langsung cabut dan turunin pengeras suara," tambah Raja.

Penonton pun langsung disarankan untuk bubar dan beruntung tidak ada korban dalam peristiwa tersebut.

Efektivitas karang taruna

Sementara itu, La Ode menilai karang taruna bisa menjadi solusi efektif untuk mengatasi tawuran yang sering terjadi di wilayahnya.

Namun semua kembali bagaimana pengaruh antara kelompok baik dan buruk yang dipandang masyarakat.

"Anggaplah karang taruna ini kelompok yang baik tapi kelompok buruknya yang lebih besar ya kita kalah. Makanya gimana caranya kita perbesar dulu nih pengaruh kita di wilayah," kata La Ode.

Menurutnya jika para pelaku tawuran diarahkan ke karang taruna, seharusnya karang taruna juga aktif menyediakan berbagai program agar bisa membuahkan hasil bagi kedua belah pihak.

Adapun cara meyakinkan mantan pelaku tawuran untuk mau bergabung yakni dengan mengenal kesukaan sang mantan pelaku tawuran. Lalu mereka dimasukkan ke dalam program yang dimiliki karang taruna dan ditunjukkan sejumlah prestasinya, kata dia.

Bahkan La Ode tak segan menunjukkan setiap anggota karang taruna untuk melatih kemampuan kepemimpinan dengan cara menunjuknya sebagai ketua acara salah satunya saat 17 Agustus mendatang.

Baca juga: Pemkot Jakbar ajak 17 sekolah tergabung dalam Satgas Santun

Selain itu, Raja juga menambahkan kalau biasanya laki-laki cenderung menyukai bermain bola seperti futsal. Maka dari itu awalnya mantan pelaku tawuran akan diajak main futsal gratis sembari dibina oleh karang taruna.

"Saya selipin lu jangan mau gratis mulu dong. Ayo gabung kita sama-sama biar jangan main futsal mulu. Kita ikutin alurnya mereka lama-lama mereka juga bakal sadar sendiri," kata Raja.

Dengan demikian, para remaja karang taruna ini berharap agar kegiatan positif yang digencarkan mereka terus berkembang.

Harapannya bisa menjadi daya tarik bagi pemuda untuk berbuat yang positif di masyarakat.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel