Perjalanan Panjang Kasus Kekerasan Seksual Motivator Julian Ekaputra

Merdeka.com - Merdeka.com - Kasus kekerasan seksual yang menjerat motivator Julianto Ekaputra (JE) mulai muncul di permukaan pada Sabtu, 29 Mei 2021. Saat itu Arist Merdeka Sirait, selaku Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) melaporkan ke Polda Jawa Timur.

Arist menyampaikan adanya kasus kekerasan seksual kategori berat yang dilakukan oleh JE, pendiri sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Batu, Jawa Timur. Korban diperkirakan mencapai puluhan orang yang mengalami kekerasan fisik, verbal dan eksploitasi ekonomi.

Kasus itu diduga terjadi sejak 2009. Saat para korbannya masih berusia 15 tahun dan duduk di bangku sekolah SPI. Komnas PA telah menerima laporan dari para korban pada Maret 2021 dan telah mengumpulkan keterangan dari siswa dan alumni SPI.

Atas data tersebut, Arist bersama dua korban melaporkan JE dengan tiga dugaan pasal berlapis yakni kekerasan seksual, kekerasan fisik dan verbal serta eksploitasi anak.

Korban mengalami pelecehan tidak hanya di kawasan sekolah, tetapi juga saat di luar negeri. Karena JE kerap menggajak korbannya jalan-jalan ke luar negeri dengan dalih sebagai hadiah.

Polda Jawa Timur membentuk Tim Khusus guna memproses kasus tersebut pada Senin, 31 Mei 2021. Olah TKP digelar, dilanjutkan pemeriksaan para saksi, termasuk 14 saksi pelapor. Saat itu juga dibuka hotline guna menerima kemungkinan laporan dari korban lain.

JE selanjutnya ditetapkan sebagai tersangka pada Jumat, 5 Agustus 2021. Namun kemudian mengajukan gugatan praperadilan kepada Polda Jatim karena menilai penetapan tersangka tersebut tidak sah. Pihak JE mengajukan permohonan penghentian proses penyidikan dan menggugurkan status tersangka, karena dianggap tidak cukup bukti.

Namun permohonan pihak JE tidak diterima hakim karena dianggap kurang syarat formil. Hakim Pengadilan Negeri Surabaya, Martin Ginting menolak permohonan praperadilan dalam persidangan Senin, 24 Januari 2022.

Kejaksaan Jawa Timur selanjutnya melimpahkan berkas JE ke Kejaksaan Negeri Kota Batu, Senin, 31 Januari 2022 untuk disidangkan di Pengadilan Negeri Malang. Namun tersangka JE tidak ditahan dengan alasan dinilai kooperatif selama masa penyidikan.

Sebenarnya sejak penetapan JE sebagai tersangka, sudah muncul desakan penahanan, mengingat ancaman hukumannya di atas 5 tahun penjara. Namun JE tetap bebas dan kembali pulang ke Surabaya, usai persidangan di PN Malang.

JPU Kejaksaan Negeri Kota Batu menjerat JE dengan Pasal 81 ayat 1 jo Pasal 76 D Undang-Undang Perlindungan Anak, juncto Pasal 64 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

JE juga dijerat pasal 81 ayat 2 Undang-Undang Perlindungan Anak, juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP, Pasal 82 ayat 1, juncto Pasal 76e UU Perlindungan Anak, juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP dan Pasal 294 ayat 2 ke-2 KUHP, juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

JE terancam hukuman penjara minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun.

Sidang perdana JE digelar pada Rabu, 16 Februari 2022 di PN Malang. Jadwal sidang juga sempat ditunda lantaran ketua majelis hakim terpapar Covid-19. Sidang selalu berlangsung tertutup dengan dua kali jadwal dalam sepekan yakni Senin dan Rabu.

JE baru ditahan setelah sidang ke-19 atau menjelang sidang tuntutan yang akan dibacakan pada Rabu, 20 Juli 2022. Jaksa sendiri mengaku sudah dua kali mengajukan penahanan dalam persidangan, namun baru dikabulkan pada Senin, 11 Juli 2022.

JE dijemput di rumahnya di Kawasan Citraland Surabaya sebelum kemudian ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1 Lowokwaru, Kota Malang.

Selain kasus kekerasan seksual yang tengah menunggu tuntutan, JE juga dijerat kasus eksploitasi ekonomi. Semula kasus tersebut ditangani oleh Polda Bali dan dilimpahkan ke Polda Jatim pada 26 April 2022.

Direktorat Reserse Tindak Pidana Umum (Direskrimum) Polda Jatim telah menggelar olah TKP untuk kasus tersebut di sekolah SPI, Bumiaji Kota Batu. JE dilaporkan melakukan kegiatan eksploitasi ekonomi dengan mempekerjakan anak-anak di berbagai kegiatan ekonomi.

Kegiatan eksploitasi ekonomi tersebut terjadi tahun 2009, saat para korban masih berusia 15 tahun. Jumlah korban sesuai limpahan Polda Bali sebanyak enam orang. Namun kemudian bertambah, setelah delapan orang lainnya mengadu melalui layanan hotline.

"Saat ini korban eksploitasi ekonomi yang dilakukan di Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) menjadi 14 orang," kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Dirmanto, Kamis (14/7). [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel