Perjalanan Peparnas dalam bingkai sejarah

·Bacaan 4 menit

Pekan paralimpik nasional (Peparnas) akan memasuki edisi ke-16 di Papua yang akan bertindak sebagai tuan rumah dan tepatnya akan dibuka di Stadion Mandala, Jayapura, malam (5/11).

Pembukaan Peparnas Papua XVI ini dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia KH. Ma'aruf Amin. Sejumlah artis terkenal seperti Anggun C. Sasmi dan Edo Kondologit pun turut hadir memeriahkan acara tersebut.

Peparnas memiliki sejarah yang cukup panjang dan pertama kali digelar pada tahun 1957 lalu di Surakarta, Jawa Tengah, dengan nama Pekan Olahraga Cacat Nasional.

Pekan Olahraga Cacat Nasional

Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) pertama kali digelar pada tahun 1957 dan Surakarta ditunjuk untuk menjadi tuan rumah.

Pada gelaran Porcanas pertama ini, tempat utama penyelenggaraan dilakukan di Stadion Manahan dan pada akhirnya mengeluarkan kontingen Jawa Tengah sebagai juara umum.

Porcanas dalam dua edisi selanjutnya, tetap diadakan di Surakarta tepatnya pada tahun 1959 dan 1964 yang mengeluarkan juara umum Jawa Tengah lalu Jawa Barat.

Setelah tiga kali digelar di Surakarta, Porcanas 1969 diadakan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berhasil dimenangkan oleh kontingen Jawa Barat.

Usai berhasil menjadi juara umum dalam dua edisi sebelumnya, Jawa Barat tepatnya Kota Bandung ditunjuk menjadi tuan rumah Porcanas pada tahun 1972 di mana DKI Jakarta berhasil keluar sebagai juara umum.

Edisi Porcanas selanjutnya digelar pada 1975 dan Kota Makassar berlaku sebagai tuan rumah gelaran kelimanya setelah pertama kali digelar pada tahun 1957 silam.

Di gelaran ini, tuan rumah Sulawesi Selatan berhasil keluar sebagai juara umum dan selanjutnya Porcanas digelar pada tahun 1980 di Surakarta yang berhasil dijuarai oleh DKI Jakarta.

Empat tahunn setelahnya, Surakarta kembali menjadi tuan rumah dari Pocarnas dan Jawa Tengah berhasil keluar sebagai juara umum.

Pada tahun 1988, Jawa Timur bertindak sebagai tuan rumah yang berhasil dimenangkan oleh kontingen DKI Jakarta yang keluar sebagai juara umum.

Gelaran Porcanas selanjutnya dihelat pada tahun 1993 di Daerah Istimewa Yogyakarta yang gelar juara umumnya berhasil didapatkan oleh DKI Jakarta.

Berselang lima tahun, Jawa Barat kembali menjadi tuan rumah tepatnya pada tahun 1998 dan kontingen tuan rumah berhasil keluar sebagai juara umum.

Setelah edisi ke-11 ini, gelaran Porcanas (selanjutnya menjadi Peparnas) rutin dilaksanakan empat tahun sekali dan biasanya tuan rumah merupakan dari tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON).

Baca juga: Menelisik potensi penyandang disabilitas di pentas olahraga

Selanjutnya : perubahan nama

NPC Indonesia menjadi satu-satunya o<span>rganisasi pembina atlet penyandang disabilitas di Tanah Air (ANTARA/Juns)</span>
NPC Indonesia menjadi satu-satunya organisasi pembina atlet penyandang disabilitas di Tanah Air (ANTARA/Juns)


Perubahan Nama dari Porcanas ke Peparnas

Pada gelaran ke-13 yang digelar di Kalimantan Timur, Pekan Olahraga Cacat Nasional secara resmi berganti nama menjadi Pekan Paralimpik Nasional.

Hal ini terjadi regulasi internasional sekarang ini telah melarang penggunaan kata “cacat” dalam penggunaan kata pada semua acara yang diselenggarakan, karena istilah cacat dianggap memarginalkan sebagian kaum/manusia yang berbeda.

Perubahan nama dari Porcanas menjadi Peparnas terjadi saat Komite Paralimpik Internasional (International Paralympic Committe/IPC) menggelar Sidang Umum di Bonn, Jerman, 18 November 2005.

Hasil Sidang Umum memutuskan bahwa seluruh anggota IPC termasuk Indonesia wajib memakai kata paralimpik untuk kegiatan atau gerakan berkaitan dengan olahraga penyandang disabilitas.

Oleh karena hal tersebut NPC Indonesia merubah istilah Porcanas menjadi Peparnas. Peparnas merupakan ajang pembuktian prestasi bagi olahragawan defabel yang bersekala nasional.

Mereka mewakili Provinsi dan sekaligus NPC Pengprov masing-masing daerah. Peparnas mempertandingkan cabang-cabang olahraga yang resmi mengikuti regulasi cabang olahraga yang dipertandingkan di IPC (International Paralympic Committee) yang saat ini jumlah cabang olahraga di IPC sudah berkembang sebanyak 26 cabang olahraga.

Secara keseluruhan, nama gelaran Peparnas digunakan pada tahun 2008, 2012, 2016, dan 2021 ini yang mulai digelar hari ini dengan Papua sebagai tuan rumah.

Baca juga: Papua pastikan siap jadi tuan rumah Peparnas XVI

Baca juga: Mahfud minta sukses pengamanan PON XX dilanjutkan di Peparnas Papua


Selanjutnya : Peparnas Papua

Logo dan Maskot Peparnas XVI Papua (ANTARA/Juns)
Logo dan Maskot Peparnas XVI Papua (ANTARA/Juns)


Peparnas XVI Papua

Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) yang ke-16 ini akan dilakukan di provinsi Papua, tepatnya di kota dan kabupaten Jayapura dari tanggal 5-15 November 2021.

Pada gelaran Peparnas Papua XVI, terdapat 12 cabang olahraga yang dipertandingkan yaitu angkat berat, atletik, boccia, bulutangkis, catur, judo, menembak, panahan, renang, sepak bola, tenis dan tenis meja.

Pelaksanaan Peparnas XVI Papua menggunakan 12 venue olahraga, enam di Kota Jayapura dan enam di Kabupaten Jayapura.

Pembukaan akan dilakukan di Stadion Mandala, Jayapura, Jumat (5/11) ini dan akan dibuka langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia KH. Ma'aruf Amin.

Soal fasilitas, Menteri Pemuda dan Olahraga Zainuddin Amali mengatakan gelaran Peparnas XVI akan difasilitasi serupa dengan Pekan Olahraga Nasional XX yang sama-sama digelar di Papua.

"Tidak ada bedanya PON dan Peparnas, semua kita fasilitasi sama," tegas Zainudin Amali dalam diskusi virtual Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk "Peparnas XVI: Kesetaraan dan Prestasi Disabilitas", Senin (1/11) lalu.

Selanjutnya Wakil Ketua PB Peparnas XVI Papua Hans Hamadi mengatakan, kesuksesan penyelenggaraan Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVI adalah harga diri masyarakat Papua.

"Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Papua mampu menyelenggarakan kegiatan berskala nasional. Peparnas adalah harga diri bagi masyarakat Papua. Jadi harus berhasil dari semua sisi," ujar Hans Hamadi seperti dikutip siaran pers dari Media Center Kominfo Peparnas Papua, Senin (1/11) lalu.

Baca juga: Menpora yakin Peparnas Papua berjalan aman dan nyaman
Baca juga: Peparnas Papua 2021 untuk Indonesia yang setara nan inklusif

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel