Perjuangan bocah pemulung demi mewujudkan cita-cita jadi tentara

Langkah Bagus siang itu begitu cepat. Kepalanya menunduk di sepanjang aspal Jalan Kali Besar Timur, Taman Sari, Jakarta Barat.

Baju putih bocah itu begitu lusuh dan longgar. Kain tipis bertuliskan 'Bali' itu seakan jadi pertahanan terakhir tubuh bocah berusia 13 tahun itu kala bertarung dengan sinar Matahari pukul 13.45 WIB.

Celana pendek merah bergaris putihnya pun tak kalah kusam. Telapak kakinya begitu hitam terbungkus balutan sandal jepit berbahan karet

Sesekali dia memandang langit. Akan tetapi sang mata tidak menyipit sedikit pun. Mungkin sudah terbiasa dengan jilatan sinar surya.

Sambil berjalan, Jumat (4-11) siang itu, matanya kembali sibuk meneropong botol plastik yang mana layak dibawa.

Satu botol plastik berisi seperempat air pun menyita mata. Botol plastik itu berdiri di ujung meja yang dikelilingi pria dewasa.

Dengan sopan, dia meminta izin orang sekitar. "Botolnya masih dipakai, Bang ?," tanya dia.

"Enggak-enggak, ambil aja," kata pria asing itu.

Bagus pun segera menunduk dan menyergap botol itu dengan tangan kanan.

Dengan tangan yang sama, dia buka tutup botol itu dan ditumpahkannya air ke Kali Besar yang ada di depan muka.

Di satu sisi, tangan kirinya sibuk menopang karung di punggung. Usai air terbuang, Bagus kembali menutup botol tersebut dan memasukkan ke karung.

Saat mau beranjak, dilihatnya tong sampah kecil setengah penuh. Seakan terpancing rasa penasaran, Bagus lalu memorakporandakan isi tong itu.

Siapa tau ada yang bisa diambil. Mungkin begitu kata Bagus dalam hati.

Agus terlihat sedikit kecewa lantaran tak satu pun barang yang pas di hati ditemukan di dalam tong.

Bagus lalu beranjak dengan gaya jalan yang sama.

Tidak jauh dari sana, dua teman Bagus sudah menunggu di bawah pohon kelapa.

Mereka duduk dengan lemas seakan meminta izin kepada sang daun untuk berteduh.

Selagi dua temannya yang juga membawa karung berteduh, Bagus justru bertindak lain.

Dengan cepat dia taruh karung dan dilepaskannya sandal jepit itu. Bagus langsung pasang badan memanjat pohon untuk mengincar buah yang ada di pucuk.

Badan begitu tambun dan hitam, menggeliat lambat mencapai puncak.

Dua kawan di bawah yang tadinya duduk pun langsung berdiri dan antusias.

Berharap Bagus mau mengambilkan satu buah untuk masing-masing dari mereka.

"Ambilin gua dong, ambilin gua dong," teriak dua teman di bawah tak tahu diri.

Bagus pun bergeming dan tetap fokus menatap buah. Kali ini matanya jauh lebih tajam dibandingkan dengan tatapan mencari botol.

Lagi-lagi Bagus harus melawan sinar Matahari kala mencoba mengalahkan tegaknya pohon kelapa.

Namun, nampaknya panas Matahari tidak menyurutkan Bagus untuk mengincar buah yang sudah menghijau itu.

Ketika sampai di pucuk, Bagus gapai buah tersebut dengan tangan kanannya.

Dia putar satu persatu buah hingga terputus dari tangkainya.

Dia lalu memberikan buah tersebut kepada dua temannya yang sudah menunggu.

Akhirnya, masing-masing dari mereka memiliki buah hasil keringat Bagus.

Sesampai di bawah, Bagus ambil buah miliknya dan dibenturkannya ke sisi ubin Kota Tua yang tidak beraturan itu.

Satu kali benturan tidak berdampak. Dua kali juga tidak. Ketika ke tiga kali, sisi ujung buah mulai retak.

Sedikit demi sedikit tetesan air pun mulai terlihat.

Seakan tidak sabar menunggu lubang lebih besar, mulut hitam bagus langsung menyongsong sisi yang retak itu.

Kepalanya mendongak sambil meminum isi kelapa dari sisi yang retak.

Jakun di leher terlihat bergerak naik turun. Matanya terbuka dan kala menyambut tegukan demi tegukan air kelapa.

Bagus begitu menikmati buah itu, seakan lupa dengan orang sekitar yang mulai memperhatikannya.

Ketika sudah sampai tetes terakhir, Bagus tampak tidak terima.

Kelapa itu akhirnya dikocok dengan keras seakan menuntut air tambahan keluar dari dalam.

Pemandangan yang sama juga terlihat di dua teman Bagus.

Satu buah kelapa pun kembali diambil Bagus dari pohon yang sama.

Buah itu bukan untuk dia minum, namun untuk disiramkan ke wajah dan rambutnya.

Bak oasis di tengah padang gurun, buah kelapa itu seakan menyajikan kesegaran tidak tertandingi di tengah teriknya Matahari.

Bagus tidak mau menikmati itu sendiri. Dia bagikan sisa air kelapa kepada temannya.

Mereka mulai saling mengguyur kepala dan mencuci muka dengan air kelapa itu.

Tawa pun terdengar saling bersahutan. Ada senyum yang melebar kala wajah dibasah dengan air kelapa.

Gigi putih mereka pun terlihat jelas di antara kusamnya kulit wajah yang ditabrak debu dan terbakar sinar Matahari.

Setelah hiburan singkat itu selesai, Bagus kembali berjalan bersama dua temannya menyusuri jalan kawasan Kota Tua mengincar sampah yang ada.

Begitulah keseharian Bagus. Masa kecilnya dihabiskan untuk bekerja sebagai pemulung.

Saat ini Bagus duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas 6 di Sekolah Darurat Kartini. Namun tanggung jawab yang dia emban saat ini bukan hanya sebatas menjadi siswa saja.

Dia harus membantu keluarganya mencari nafkah sebagai pemulung. Sudah bertahun-tahun dia geluti profesi ini.

Sepulang sekolah, dia harus berjalan dari rumahnya di Kebon Pisang, Jakarta Barat menuju Kota Tua untuk mencari sampah.

Dia biasa berjalan dari siang hingga tengah malam. Tidak membawa uang, tidak membawa bekal.

Hanya karung dan semangat yang jadi temannya menyusuri jalan.

Penghasilannya pun tidak didapatkan dalam sehari. "Biasanya ngumpulin sampai 3 hari. Kalau sudah dikumpulin dijual paling dapat 35 ribu rupiah," kata dia polos.

Dengan uang itu, dia harus membantu kedua orang tuanya yang kerjanya sebagai "bantu-bantu tetangga".

Bagus tidak mau menjelaskan secara rinci kala ditanya soal keluarga dan pekerjaan orang tuannya.

Jika dilihat, tidak ada raut kecewa yang terpancar dari wajah Bagus kala menceritakan hal itu. Dia hanya senyum-senyum saja.

Dia terlihat bersyukur dengan apa yang dia punya. Entah bersyukur atau tidak sadar betapa besar beban yang dia tanggung untuk ukuran anak kecil.

Saat ditanya apakah ingin melanjutkan sekolah, Bagus menjawab, "Maulah". Dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk terus mengenyam bangku pendidikan.

Karena ada cita-cita di angan Bagus yang harus dikejar. "Mau jadi tentara" kata dia polos.

Bagus bercerita dahulu kakeknya seorang tentara. Namun lagi-lagi, dia enggan menjelaskan dengan rinci kisah kakeknya itu.

Karena sosok kakeknya itulah, Bagus bertekad ingin menjadi seorang abdi negara.

Bak anak kecil pada umumnya, Bagus berhak menggantungkan cita-cita.

Apakah 5 sampai 10 tahun lagi Bagus bisa mengenakan seragam loreng hijau yang dia dambakan?

Atau Bagus akan berakhir seperti anak-anak jalanan pada umumnya ?

Semoga semangat Bagus mengejar cita cita sekuat kakinya yang tak akan patah kala melewati beragam rintangan di jalan.

Sekuat bahunya yang kerap menjadi tumpuan keluarga mencari nafkah.

Setebal kulit tangan dan kakinya yang kapalan karena telah menerjang beragam hal.

Dan semoga ketulusan Bagus menjalani hidup setulus senyumnya kala melepas percakapan terakhir saat wawancara.


Agar tidak putus sekolah
Bagus mungkin satu dari ribuan anak di Jakarta Barat yang bekerja dan sekolah di saat yang sama. Bahkan diperkirakan ada ribuan anak yang diperkirakan putus sekolah karena masalah ekonomi.

Di Jakarta Barat sendiri tercatat ada 77.365 keluarga yang dikategorikan miskin pada tahun 2022.

Data tersebut merupakan jumlah keluarga pemegang Kartu Lansia Jakarta (KLJ), Kartu Anak Jakarta (KAJ), dan Kartu Penyandang Disabilitas Jakarta (KPDJ).

"Tahun ini untuk penerima KLJ ada 62.003, KAJ ada 7.644, dan KPDJ ada 7.718 warga," kata Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Barat, Suprapto, awal September lalu.

Diperkirakan anak-anak dari ribuan keluarga itu terancam dari segi kebutuhan pendidikan.

Oleh karena itu, Pemerintah Kota Jakarta Barat mengantisipasi anak-anak yang putus sekolah karena keadaan ekonomi.

Suku Dinas Pendidikan Jakarta Barat II berkoordinasi dengan setiap kecamatan dan kelurahan mendata berapa jumlah anak korban putus sekolah karena faktor perekonomian.

Kasudin Pendidikan Jakarta Barat Jumat II, Junaedi, mengatakan mereka merupakan aset bangsa yang harus diselamatkan.

Beberapa upaya yang dilakukan yakni mendata anak dari setiap wilayah agar bisa dimasukkan ke dalam Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

"Saat ini PKBM di Jakarta Barat ada enam ditambah beberapa yang swasta. Ini sangat membantu untuk memulihkan semangat anak anak untuk sekolah walaupun sudah tertinggal," kata Junaedi saat dihubungi di Jakarta.

PKBM merupakan wadah bagi warga yang ingin mengejar taraf pendidikan agar setara dengan anak-anak yang lainnya.

Di Jakarta Barat II sendiri, terdapat lima PKBM negeri dan 29 PKBM swasta.

Ada beragam pilihan seperti Paket A setara SD, B setara SMP, dan Paket C setara dengan SMA.

Di sana, para siswa tidak hanya diberikan materi pelajaran melainkan motivasi agar semangat belajar tetap tumbuh.

Setelah selesai mengenyam pendidikan, pihak pemerintah juga bertanggung jawab untuk mengarahkan siswa untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi lagi.

Kesadaran pentingnya pendidikan bukan hanya diberikan ke murid saja melainkan juga kepada orang tua.

Maka dari itu, pihaknya menggelar seminar kepada ratusan orang tua murid guna menyadarkan pentingnya pendidikan dan bahaya menggunakan anak sebagai alat pencari uang.

Setiap kecamatan ada 500 wali murid dan guru yang hadir untuk mengikuti seminar edukasi tersebut.

Guru di sekolah swasta dan negeri sendiri juga mendapat penyuluhan terkait cara mendidik siswa di seluruh tingkatan sekolah.

"Kita tidak hanya perhatian bagaimana strategi bimbingan kepada guru dan sekolah tapi juga memberikan teknis strategi pengasuhan atau parenting kepada orang tua," kata Junaedi.

Dengan pola asuh yang baik di sekolah maupun di rumah, anak usia dini akan memiliki pengetahuan dan karakter yang kuat sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam pergaulan yang buruk.

Dengan bimbingan dan dukungan tersebut, Bagus memiliki peluang mewujudkan cita-citanya menjadi tentara. Begitu pula teman-teman lain yang senasib dengan Bagus.






Editor: Achmad Zaenal M