Perjuangan Hidup Mati Dokter Bedah Sembuh dari COVID-19

Lutfi Dwi Puji Astuti, Sumiyati
·Bacaan 5 menit

VIVA – Terjun dan turun tangan langsung menangani pasien virus corona atau COVID-19, membuat petugas medis paling rentan terinfeksi. Hal ini, dialami oleh dokter bedah di sebuah rumah sakit di Wonogiri, Jawa Tengah, dr Sriyanto Sp B.

Melalui rilis yang diterima VIVA, dokter Sriyanto bercerita dirinya baru saja menyelesaikan masa isolasi. Bersama sang putra semata wayang, Sriyanto harus merasakan 12 hari “nikmatnya” ruang isolasi pada 18 - 30 November 2020.

"Alhamdulillah, saat ini kami berdua sudah sembuh dan dapat bernapas dengan lega. Bahkan saat ini kami sudah dapat beraktivitas seperti sedia kala. Saya ingin berbagi cerita beratnya perjuangan antara hidup dan mati pada masa isolasi. Sebuah pengalaman yang tak akan mungkin saya lupakan seumur hidup," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat 4 Desember 2020.

Sriyanto menjelaskan, pada 18 November 2020, hasil tes swab dia dan anaknya positif. Lalu, keduanya segera mengisolasi diri di RS Moewardi, Solo, Jawa Tengah. "Saya dan anak saya mengalami kondisi demam dan batuk. Sepanjang perjalanan antara Wonogiri ke Solo, tubuh saya terus menggigil. Kondisi ini diperparah karena keluarga besar kami sedang mendapatkan musibah. Ayah mertua saya yang juga dokter bedah sedang berada dalam ruangan ICU RS Karyadi Semarang karena positif COVID-19. Usianya yang sudah 78 tahun, menjadikannya sangat rapuh menghadapi serangan virus ini. Sudah ada total 8 orang dari keluarga kami yang positif COVID-19," lanjut dia.

Sesampainya di ruangan isolasi, kondisi Sriyanto tambah buruk dengan demam yang masih tinggi. Setiap hari dia menggigil kedinginan, bahkan setiap 6 jam sekali harus mengonsumsi obat pamol agar tidak menggigil akut. "Di hari keempat masa isolasi, saya mulai batuk dengan badan terasa sakit semua. Ketika menerima telepon dari keluarga atau sahabat, batuk semakin parah, bahasa Jawanya batuk ‘ngekel’. Setiap bergerak juga batuk seperti ketika salat yang banyak gerakan, dari ruku' ke sujud, atau dari sujud ke berdiri, maka otomatis akan batuk. Saya sangat tersiksa dan rasanya sulit sekali untuk bernapas lega," kata dia.

Di hari keenam isolasi, kondisi Sriyanto semakin parah. Saat itu, dia sudah tak bisa merasakan indra penciuman, bahkan tidak bisa mengunyah dengan baik. Meski sudah berusaha, namun Sriyanto tetap gagal mengunyah. "Kerongkonganku terasa sangat sakit. Berkali-kali berusaha mengunyah nasi, tapi tak bisa sampai akhirnya saya muntahkan kembali nasi yang masih utuh itu. Saya sampai protes ke bagian gizi rumah sakit. Saya marah karena merasa mereka tidak memasak nasi dengan benar. Saya mengira koki Rumah sakit lalai. Saya keluarkan semua unek-unek ini untuk meminta penjelasan," tuturnya.

Setelah mendapat penjelasan, Sriyanto merasa sangat kaget karena sebenarnya nasi tersebut lunak. Akhirnya, dia tersadar bahwa COVID-19 lah yang membuat dirinya seperti itu. Menurut Sriyanto, virus corona sudah mengganggu semua fungsi mulut dan tenggorokannya.

Berikutnya Puncak Penderitaan

"Hari ketujuh masa isolasi merupakan puncak penderitaan. Batuk yang semakin parah, ditambah dengan komorbid penyakit diabetes. Memang, sudah dua tahun ini saya harus melakukan suntik insulin novomik. Saya hampir menyerah kalah. Beberapa sahabat juga berpikir demikian, karena risiko orang yang diabetes terkena COVID-19 biasanya berujung kematian," tambah dia.

Tetapi, malam itu menjadi mukjizat bagi Sriyanto, karena dia mendapat kiriman plasma dari Jakarta, yang beberapa hari sebelumnya, memang sudah dipesan oleh dia. Yakin bahwa plasma dan tosilizumab ampuh mengobati COVID-19, malam itu Sriyanto mendapat injeksi 1 kantong plasma.

"Di samping injeksi plasma, saya juga minta disuntik tosilizumab. Saya mengutamakan pengobatan medis daripada segala saran tak jelas tentang pengobatan alternatif. Saat kondisi kritis, saya berusaha berpikir logis karena pengobatan medis sudah teruji.

Itulah alasannya, Sriyanto bersikeras meminta suntikan tosilizumab yang harganya mencapai Rp8 juta. Setelah mendapat satu tosilizumab, dokter itu langsung merasakan khasiatnya. Hanya selang 6 jam pasca suntikan, Sriyanto sudah bisa makan pisang.

"Di hari kedelapan, saya mendapat injeksi plasma yang kedua kalinya. Setelah itu saya tertidur selama 12 jam. Seluruh badan terpasang alat EKG, oksigen 5 liter, dan infus 2 jalur. Seharian itu saya hanya tertidur. Begitu terbangun, badan terasa lebih ringan dan segar. Batuk juga sudah berkurang banyak dan demam perlahan menurun," tuturnya.

Pertarungan Hidup Mati

Memasuki hari ke-9 isolasi, demam Sriyanto sudah turun. Suhu tubuh normal meskipun tidak minum obat penurun panas. Batuk berkurang hingga 75 persen. Tidak hanya tubuh yang terasa lebih ringan, Sriyanto pun mengaku bahagia, karena masa kritis dan pertarungan hidup dan mati sudah berhasil ia lewati.

"Di hari ini saya sudah bisa merasakan empuknya nasi, tidak keras lagi seperti kemarin. Alhamdulillah saya bersyukur sekali bisa mendapatkan tosilizumab dan plasma. Dari pengalaman masa isolasi kemarin, terbukti acterma dan plasma sangat cocok mengobati pasien COVID-19, bahkan yang memiliki komorbid diabates," ungkapnya.

Sriyanto menuturkan, saat ini kondisinya sudah membaik dan sedang masa pemulihan. Begitu pula dengan anak semata wayangnya. Mereka sudah pulang ke Wonogiri, bahkan sudah bisa bersepeda di sekitar rumah. Namun, ada kisah yang juga menyedihkan. Simak cerita pilu dr Sriyanto di halaman berikutnya.

Kehilangan Keluarga

"Namun, sedihnya kondisi ayah mertua tak dapat tertolong. Beliau tak bisa bertahan dan menghembuskan napas terakhir pada 21 November 2020. Beliau dimakamkan secara protokoler COVID-19. Saat mendengar kabar duka itu, saya sedang berada di ruang isolasi. Semua kesedihan sepertinya menimpa saya, mulai tak bisa menelan makanan, demam tinggi, batuk parah, anak diisolasi dan mertua meninggal, rasanya segala kepedihan muncul bersamaan," kata dia.

Tapi, Sriyanto mengatakan tetap berusaha tegar dan tidak mau menyerah. Tidak mau larut dalam kesedihan, dokter bedah itu bangkit dan akhirnya sembuh dari COVID-19. Tekad itu tertanam kuat dalam hatinya, karena dia masih ingin hidup untuk menambah amal shalih.

Bekal saya belum cukup untuk pulang ke negeri keabadian. Dengan iringan doa dari seluruh kerabat dan sahabat, saya berusaha bangkit. Dukungan dari teman-teman di grup WhatsApp tiada henti mendoakan. Sungguh doa mereka sangat berarti serasa guyuran air di gurun Sahara. Ada yang mendoakan melalui telepon, Facebook, dan juga yang mendoakan dalam diam," cerita dia.

Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Sriyanto dan juga semua orang di masa pandemi ini. Menurut dia, saat kondisi kritis hendaknya kita tetap percayakan pada pengobatan medis, di mana obat medis sudah teruji, sedangkan pengobatan alternatif baru sebatas coba-coba.

"Kita harus tetap rasional. Doa juga menjadi penyembuh. Doa-doa yang tulus serta perhatian dari orang sekeliling sangat membantu percepatan pengobatan. Jangan pernah lelah memberikan perhatian dan doa untuk mereka yang sedang sakit. Sungguh pelukan doa dari orang-orang terkasih begitu berharga," tutup dr Sriyanto.

Seperti diketahui, jumlah kasus COVID-19 saat ini masih tinggi. Untuk itu, cara yang paling efektif dilakukan untuk mencegah penularan yaitu dengan mematuhi protokol kesehatan dan selalu melakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak dan jauhi kerumunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun.

#ingatpesanibu
#satgascovid19
#pakaimasker
#cucitanganpakaisabun
#jagajarak