Perjuangan Ibu dengan Penyakit Kronis Bersama Putrinya selama Pandemi Virus Corona

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Pandemi virus corona membuat hidup banyak orang kian sulit. Termasuk Sarah, seorang ibu yang memiliki satu orang anak. Malam sebelum Sarah Erdreich dan putrinya yang berusia 4 tahun, Hanna pergi ke Philadelphia, ia dengan hati-hati memilih boneka binatang favoritnya, buku mewarnai, dan pakaian renang. Sedangkan Sarah dengan hati-hati memilih campuran obat yang tepat untuk memastikan ia mendapatkan pereda nyeri atau rasa sakit yang cukup untuk tidur.

Sebelumnya, Sarah ingin bepergian dengan Hannah, memenuhi undangan bibinya yang tinggal di pedesaan Florida. Selama puluhan tahun, Sarah menghadapi penyakit kronis di pergelangan tangan kanan, bahu, dan leher yang telah merusak otot dan persendiannya hingga ia tidak bisa membawa tas sendiri.

Sakit kronis adalah alasan perjalanan mereka ke Philadelphia hanya berlangsung 1 malam. Ini adalah percobaan bagi Sarah, untuk mengetahui perjalanan seperti apa yang bisa dilakukannya bersama Hannah.

Dua jam berkendara, sebuah hotel dalam jarak berjalan kaki dari beberapa museum, makan malam dengan teman-teman yang memahami keterbatasan Sarah, dan kemauan untuk berbelanja secara loyal pada layanan kamar, dan parkir valet. Ini seperti benteng yang bisa dibangun Sarah untuk melawan kejang otot dan nyeri sendi yang tak pernah berhenti.

Hannah berusia 8 tahun sekarang, ia sudah mulai memahami kondisi Sarah. Sarah tidak pernah mengalami patah tulang, rasa sakit yang dirasakannya dimulai secara spontan.

Hanna tidak lagi berada di sekolah sejak 12 Maret, karena pandemi virus corona. Pada hari yang sama, kantor Sarah dan suaminya tutup, sehingga kehidupan fisik mereka terbatas di rumah dan lingkungan terdekat mereka.

Sarah terbiasa menjalani kehidupan yang terbatas. Karena rasa sakit yang semakin memburuk sepanjang kehidupan dewasanya, Sarah telah kehilangan hobi dan hasrat seperti bermain alat musik, pergi ke gym, fotografi, atau membuat kue.

Hari-hari Sarah bersama Hannah adalah hari-hari terbaik yang pernah dimilikinya

Ilustrasi ibu dan anak. Sumber foto: unsplash,com/Courtney Kenady.
Ilustrasi ibu dan anak. Sumber foto: unsplash,com/Courtney Kenady.

Hari yang baik adalah ketika ia bisa bekerja, hadir untuk keluarganya, dan jika beruntung, bercakap-cakap dengan seorang teman. Ketika pandemi virus corona melanda, hidup Sarah sebagai seorang ibu secara paradoks terbuka.

Hannah tiba-tiba kehilangan teman-temannya, sehingga ia beralih ke hal terbaik berikutnya, yaitu orangtuanya. Lebih khusus lagi, Hannah beralih kepada Sarah yang memiliki jadwal kerja yang lebih fleksibel daripada jadwal suaminya.

Sarah dan Hannah mengubah ruang bawah tanah rumah mereka menjadi kerajaan imajiner, lengkap dengan perisai kardus, pensil warna, spidol, dan cat. Hannah sering bergabung dengan Sarah di dapur saat ia memanggang roti dan muffin dan mereka mendengarkan musik bersama.

Sarah pernah berakhir di ruang gawat darurat, tapi tak menyerah untuk putrinya

Ilustrasi ibu dan anak. Sumber foto: unsplash,com/Eldar Nazarov.
Ilustrasi ibu dan anak. Sumber foto: unsplash,com/Eldar Nazarov.

Di penghujung hari, ketika pergelangan tangan dan otot bahu Sarah terasa sakit luar biasa, ia tidak ingin berhenti. Gambar dan roti yang mereka buat adalah bukti nyata bahwa di tengah kesedihan dan kebingungan yang dihadapinya, mereka masih bisa menciptakan sesuatu yang indah.

Lebih dari itu, menghabiskan waktu bersama Hannah baik untuk kesehatan mental Sarah. Sarah seperti menemukan kembali aktivitas yang telah ia tinggalkan bertahun-tahun lalu, menikmati ketenangan, dan berhubungan dengan putrinya dengan cara baru.

Selama Sarah bisa minum obat pereda nyeri saat dibutuhkan dan mengompres persendiannya di malam hari, Sarah merasakan manfaatnya lebih dari kerugiannya. Tapi kerugian fisik tidak dapat disangkal dan pilihan pengobatan Sarah dibatasi.

Dengan tutupnya praktik dokter, prosedur yang bisa diandalkan Sarah untuk membantu mengendalikan rasa sakit ditangguhkan tanpa batas. Akibatnya, Sarah pernah berakhir di ruang gawat darurat 2 kali, terisak-isak sampai maskernya basah kuyup, gemetar karena kesakitan, dan merasa gagal.

Rasa sakitnya akhirnya kembali ke tingkat yang bisa dikendalikan, tapi Hannah kehilangan teman dalam seni dan membuat kue. Inilah yang akhirnya yang menyakinkan Sarah untuk melakukan perjalanan ke Philadelphia.

Ada sebuah kolam di hotel yang mereka tempati dan itu pertama kalinya Sarah berenang dengan Hannah, serta pertama kalinya Sarah menggendong Hannah lagi sejak putrinya itu berusia 5 bulan. Semua orang bertahan dengan kondisi mereka masing-masing selama pandemi ini, bukan?

#Elevate Women