Perjuangan Mendapat Momongan saat Berjauhan dengan Suami

·Bacaan 6 menit

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Nursittah Nasution

Memasuki tiga tahun pernikahan 2018-2021 terlalu banyak kejadian dan keajaiban yang kami lewati sebagai pasangan. Tiga tahun mungkin waktu sangat sebentar bagi orang-orang tapi waktu yang sangat panjang bagi kami berdua, sepanjang penantianku yang selalu menunggu kepulanganmu setiap bulannya karena kami menjalani long distance marriage (LDM) dan sehebat perjuangan kami dalam menanti sang buah hati hadir dalam kehidupan kami.

Menjadi istri yang akan ditinggal terus di rumah sendirian pasca menikah pada awalnya tak pernah menjadi mimpiku. Saat kau tanyakan kesiapanku dengan kehidupan LDM sebelum kita melangkah ke pelaminan, aku spontan menjawab IYA. Karena IYA aku mencintaimu bukan hannya ragamu tapi juga kehidupanmu yang juga akan menjadi bagian dari kehidupanku. Tepat 7 hari setelah resepsi pernikahan kita digelar, kita mulai menjalani biduk rumah tangga dengan jarak puluhan kilometer, kau di sana dan aku di sini. Kita hanya berjumpa lewat video dan suara.

Bagaimana kehidupan pernikahan jarak jauh kami? Bohong jika aku bilang baik-baik saja. Faktanya awal-awal menikah banyak kesalahpahaman yang terjadi di antara kami, rasa curiga dan cemburu yang tak berdasar tiba-tiba saja merasuki. Aku yang merasa kesepian tinggal di rumah sendirian dan merasa iri dengan kebersamaan indah pasangan baru lainnya menjadi terlalu sensitif dan seolah memojokkan pekerjaan suami yang tidak bisa membawa istri. Permasalahan inilah yang kerap memicu keributan di antara kami.

Memasuki 6 bulan pernikahan masalah baru muncul, aku belum juga hamil. LDR menjadi salah satu pembelaan ku setiap kali ada yang bertanya kenapa aku belum hamil juga namun LDR juga menjadi topik utama yang menjadi pokok utama pertengkaran kami. Entahlah aku seolah menyalahkan kehidupan LDR yang kami jalanilah menjadi faktor utama penyebab aku belum hamil.

Padahal aku tahu anak itu adalah rezeki dan amanah Allah, mungkin memang belum waktunya saja kami dianugerahi keturunan. Namun hasrat itu tak dapat aku tahan mungkin ditambah karena omongan dari kiri-kanan yang cukup pedas, akhirnya di bulan ke-6 pernikahan itu aku dan suami mengunjungi dokter kandungan. Hasil pemeriksaan awal aku dan suami dinyatakan normal dan baik-baik saja, keyakinanku semakin menjadi bahwa LDR penyebab aku belum hamil juga. Kami kembali melanjutkan ikhtiar dengan program hamil secara alami seperti mengonsumsi madu, kurma muda dan buah zuriat.

Menantikan Buah Hati

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/LightField+Studios
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/LightField+Studios

Delapan bulan pernikahan, keinginan untuk memiliki anak semakin menggebu-gebu, hal ini dipicu dengan kabar bahagia dari sahabatku yang baru saja 2 bulan menikah ternyata sudah hamil. Aku langsung merengek kepada suami untuk kembali ke dokter kandungan, kali ini niatnya untuk program secara medis dengan dokter kandungannya langsung. Mungkin terlalu dini tapi keinginan kami untuk segera menimang buah hati rasanya sudah di ujung hasrat. Dokter memberikan kami tiga opsi yaitu program hamil alami (dengan bantuan dokter tentunya), program inseminasi buatan, dan bayi tabung. Rasanya untuk promil secara alami sudah kami jalani, akhirnya kami mantap untuk mencoba program inseminasi buatan.

Sebelumnya aku dan suami kembali melakukan pemeriksaan awal seperti USG rahim, cek lab untuk suami dan cek darah. Hasilnya kami dinyatakan memenuhi syarat untuk memulai program insem. Bismillah semoga Allah rida. Dalam program insem ada proses penyuntikan di area perut sebanyak 8-10 kali selama 8-10 hari hanya untuk istri.

Berhubung aku dan suami LDR jadi aku sendirilah yang melakukan proses suntik-menyuntik tersebut tanpa bantuan suami. Itu adalah momen yang paling membekas dalam ingatanku karena saat itu adalah bulan Ramadan. Maka setiap pukul 16.00 di kantor, aku selalu melakukan ritual penyuntikan cairan gonal F 75 Iu di area perutku. Ada rasa yang kurasakan, bukan karena sakit bekas suntikan yang terkadang mengeluarkan darah namun sakit karena tak ada suami di sisiku yang mendampingiku dalam prosesnya. Hari ke 8 suntikan, sesuai anjuran aku disuruh periksa ke klinik. Namun dokter menyuruhku untuk menambah 2 suntikan lagi karena sel telurku ukurannya belum memenuhi syarat. Ya Allah apa lagi ini? 8 suntikan saja rasanya sudah sakit, ini ditambah lagi 2 suntikan.

Akhirnya suntikan ke 10 bertepatan dengan hari kepulangan suamiku. Aku dan suami mengunjungi klinik untuk mengecek ukuran sel telur. Namun ternyata sel telurku sudah pecah dengan sendirinya tanpa sempat diberi suntikan pemecah sel telur. Ya Allah kenapa lagi, sedih rasanya, seolah semua berjalan tak semestinya.

Seharusnya tindakan insem dilakukan hari ke 12-14 setelah proses suntik dan setelah diberi suntikan pemecah sel telur. Namun dokter membesarkan hati kami dan memberikan instruksi untuk melakukan tindakan insem hari itu juga. Kaget tentu saja karena kami sama sekali tak ada persiapan. Tapi ya sudahlah daripada tidak sama sekali karena kami sudah menghabiskan uang yang tidak sedikit.

Tinggal hitungan jam tindakan insem dilakukan, namun sebaik-baik manusia berencana Allah-lah yang membuat keputusan. Kami harus gagal untuk melanjutkan ke tahap akhir karena suatu hal medis yang tidak memenuhi syarat. Maaf aku tidak bisa cerita di sini. Tapi mungkin memang inilah jalannya bahwa kami gagal bahkan sebelum tindakan insem itu dilakukan.

Mendapatkan Momongan

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/November27
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/November27

Hari itu mendung, dengan langkah gontai kami berpegangan tangan keluar dari klinik, terlihat seperti dua sejoli yang sedang galau, aku yang masih berusia 25 tahun dan suami berusia 26 tahun. Kami pulang berboncengan di atas motor dengan hati gundah, aku peluk erat pinggang suamiku dan aku menangis seiring dengan gerimis yang mulai jatuh. Nak... lihatlah Ayah dan Ibu sudah berusaha menjemputmu, tinggal tangan Tuhan lah yang akan mengantarkan mu kepada kami.

Pasca gagalnya insem yang belum kami tuntaskan, aku dan suami memutuskan untuk berhenti promil. Kami mencoba mengalihkan hasrat itu dengan menghabiskan quality time berdua, menikmati masa-masa indah seperti pacaran dahulu. Mungkin saja Allah belum memberikan kami keturunan karena kami masih kekurangan waktu untuk berduaan karena LDR. Hasrat yang yang dulunya ada, sekarang kami simpan dalam doa, karena kami yakin suatu saat nanti Allah pasti luluh dan mengabulkan doa kami yang sudah menggunung.

Hingga tak terasa pernikahan kami genap 1 tahun dan keajaiban itu datang tepat sebulan setelah hari jadi kami. Test peck garis dua itu menjadi kado istimewa di satu tahun pernikahan kami. Aku masih ingat hari itu Senin, tanggal 14 Oktober 2019 tepat pukul 03.00 dini hari. Saat itu aku sendirian di rumah karena jadwal off suami masih seminggu lagi baru pulang. Gemetar rasanya badan ketika pertama kali melihat dua garis merah tersebut. Kegagalan kami langsung diganti dengan lunas oleh-Nya dengan janin yang sempurna sesempurna penciptaan-Nya.

Hingga akhirnya tepat 9 bulan kehamilan dan pandemi covid-19 lagi gencar-gencarnya menyerang Indonesia. Imbasnya suami tak bisa pulang karena perusahaan di-lockdown. Ujian lagi nih hehe. Namun atas kemurahan pimpinan akhirnya suami hanya diizinkan pulang selama 4 hari untuk melihat aku yang melahirkan. Begitulah akhirnya bayi kami yang masih 4 hari terpaksa ikut LDR dengan ayahnya. Dan sekarang suami hanya bisa pulang 1 kali dalam 3 bulan karena covid-19 yang semakin marak dan bayi kami sekarang sudah berusia 8 bulan.

Perjalanan hidup selama hampir 3 tahun ini rasanya nano-nano, tapi aku tetap bersyukur dengan cerita hidupku selama 3 tahun ini. Karena tanpa kisah itu aku dan suami tak akan bisa sekuat ini. Jarak yang membentang menjadi tabungan rindu untuk kami bertiga.

I love my life, bahkan jika aku dilahirkan kembali aku tak menyesali jalan hidupku ini. Tak apa-apa karena menjadi seseorang yang luar biasa bukan dari kondisi dan keadaan yang biasa. Aku mencintai jalan hidup yang spesial ini.

#ElevateWomen