Perjuangan Senyap Perempuan Afghanistan Melawan Kebijakan Diskriminatif Taliban

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Penguasaan Taliban di Afghanistan menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat, terutama bagi para perempuan. Pasalnya, peraturan yang dibuat oleh Taliban sering kali berubah-ubah.

Beberapa waktu yang lalu, Taliban mengizinkan perempuan untuk tetap belajar di universitas meski harus memisahkan ruang kelas antara perempuan dan laki-laki. Pada akhir September lalu, Taliban malah melarang perempuan untuk belajar di Universitas Kabul hingga sistem Islami diberlakukan.

Meski begitu, para perempuan Afghanistan berusaha melawan. Melansir CNN, Rabu (6/10/2021), Atifa Watanyar, seorang guru Bahasa Inggris di sekolah Sayed Al-Shuhada, di pinggiran Kabul, tetap mengajar meski diselimuti oleh rasa takut.

"Apa yang harus kami katakan? Setiap hari saya melihat Taliban di jalanan. Saya takut. Saya sangat takut pada orang-orang ini," ujar Watanyar.

Pada Mei lalu, Sekolah Sayed Al-Shuhada diledakkan oleh teroris. Setidaknya 85 siswa yang merupakan gadis remaja tewas. Pada saat itu Watanyar berada di pintu masuk dan melihat ledakan berasal dari gerbang utama. Setelahnya, bom kedua dan ketiga turut meledaknya sekolah tersebut.

Beberapa minggu setelah sekolah dibuka kembali, tepatnya awal Agustus, Taliban kembali menduduki Afghanistan. Mereka mengklaim Afghanistan sebagai Islamic Emirate mereka.

Sebulan kemudian, Taliban melarang siswa perempuan dari pendidikan menengah (setara SMA) untuk kembali ke sekolah, hanya siswa laki-laki saja yang diperbolehkan. Mereka beralasan harus menyiapkan ‘sistem transportasi yang aman’ sebelum anak kelas 6-12 dapat kembali bersekolah.

Watanyar akhirnya tidak dapat mengajar murid-muridnya yang lebih tua dengan pelarangan tersebut. Kini, Watanyar berfokus pada gadis-gadis yang lebih muda untuk memastikan mereka masih memiliki semangat untuk bermimpi.

"Apa yang harus kita lakukan, apa yang harus kita lakukan? Ini adalah hal yang dapat kami lakukan untuk anak-anak kita, untuk putri kita, untuk anak perempuan kita," ujar Watanyar.

Pendidikan menengah di Afghanistan, yaitu kelas 10 sampai 12, dengan umur 16–19 tahun. Di sekolah menengah ini, para siswa memiliki pilihan pendidikan, yaitu melanjutkan pendidikan ke akademik yang nantinya akan membawa mereka ke universitas, atau mempelajari ilmu terapan, seperti pertanian, aeronautika, seni, perdagangan, dan pelatihan guru.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Kubur Mimpi

Aksi sekelompok wanita saat berunjuk rasa di Herat, Afghanistan, Kamis (2/9/2021). Para pengunjuk rasa mendesak Taliban menghormati hak-hak kaum perempuan, termasuk menempuh pendidikan. (AFP Photo)
Aksi sekelompok wanita saat berunjuk rasa di Herat, Afghanistan, Kamis (2/9/2021). Para pengunjuk rasa mendesak Taliban menghormati hak-hak kaum perempuan, termasuk menempuh pendidikan. (AFP Photo)

Sanam Bahnia (16), salah seorang murid yang terluka akibat serangan teroris pada bulan Mei lalu, cukup berani untuk kembali ke sekolah.

"Salah satu teman sekelas saya yang terbunuh, adalah orang yang benar-benar belajar dengan keras," ujar Bahnia.

"Ketika saya mendengar ia mati syahid, saya merasa kalau saya harus kembali dan belajar, demi ketenangan jiwanya. Saya harus belajar dan membangun negara, sehingga saya dapat mewujudkan keinginan dan harapan mereka," tambahnya.

Mata pelajaran favorit Bahnia yaitu biologi. Ia mengungkapkan bahwa mimpinya menjadi seorang dokter gigi pupus. Tantangan yang dihadapinya untuk menggapai mimpinya mengambil banyak korban.

Dengan larangan yang dikeluarkan Taliban, bahwa murid perempuan dari pendidikan menengah tidak boleh bersekolah, ia hanya membaca buku pelajarannya di rumah.

"Taliban adalah alasan saya berada dalam kondisi seperti ini. Semangat saya hilang, mimpi saya terkubur," ujar Bahnia sembari menangis.

Bergerilya

Sejumlah wanita yang berunjuk rasa terlibat adu mulut dengan anggota Taliban di Herat, Afghanistan, Kamis (2/9/2021). Dalam aksi protes yang jarang terjadi ini mereka mengaku siap menerima aturan burqa asal putri mereka tetap bisa bersekolah. (AFP Photo)
Sejumlah wanita yang berunjuk rasa terlibat adu mulut dengan anggota Taliban di Herat, Afghanistan, Kamis (2/9/2021). Dalam aksi protes yang jarang terjadi ini mereka mengaku siap menerima aturan burqa asal putri mereka tetap bisa bersekolah. (AFP Photo)

Arzo Khaliqyar, salah satu wanita yang kembali bekerja, mengaku dipaksa untuk menjadi sopir taksi setelah suaminya dibunuh setahun yang lalu. Sejak Taliban berkuasa, ibu lima anak ini kesulitan untuk mengemudi.

Khaliqyar secara rutin terus diancam oleh Taliban. Namun, dia beradaptasi dengan mengambil penumpang yang sebagian besar wanita dan keluarga.

"Saya tahu (risikonya) dengan sangat jelas, tetapi saya tidak punya pilihan lain," ujar Khaliqyar.

"Saya tidak punya cara lain, pada beberapa tempat di mana saya melihat pos pemeriksaan Taliban, saya akan mengubah rute. Tapi saya sudah menerima risiko demi anak-anak saya," tambahnya.

Taliban kini masih melanjutkan serangannya terhadap wanita, yang dapat dilihat di seluruh kota. Tidak jarang, para militan memerintahkan para perempuan untuk meninggalkan tempat kerja mereka. Namun, para aktivis perempuan tetap melanjutkan aksinya untuk terus berdemonstrasi. (Gabriella Ajeng Larasati)

Kejatuhan dan Kebangkitan Taliban di Afghanistan

Infografis Kejatuhan dan Kebangkitan Taliban di Afghanistan. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Kejatuhan dan Kebangkitan Taliban di Afghanistan. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel