Perkebunan kedelai boros lahan lima kali lipat dibanding kelapa sawit

·Bacaan 2 menit

Penggunaan lahan untuk perkebunan kedelai lebih boros lima kali lipat dibandingkan area yang dibutuhkan bagi kebun kelapa sawit untuk memproduksi minyak nabati.

"Palm oil produksinya tinggi banget tapi yang dibutuhkan lahannya sangat sedikit," kata anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Bandung Sahari di Jakarta, Rabu.

Bandung mengungkapkan data dari Oilworld tahun 2019/2020 bahwa tanaman kelapa sawit hanya membutuhkan lahan seluas 22,77 hektar untuk menghasilkan 76,06 ton minyak sawit mentah atau CPO. Sementara dibutuhkan 122,28 hektar lahan untuk menghasilkan 58,82 ton minyak kedelai.

"Soya (kedelai) membutuhkan lahan 122 juta hektar, lima kali lipat lahan sawit. Tapi di dunia ini tidak ada yang ngomong," kata Bandung menyinggung soal banyaknya isu negatif yang dialamatkan pada industri kelapa sawit.

Bandung mengungkapkan data dari Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) yang membandingkan penggunaan lahan yang diperlukan untuk memproduksi 1 ton minyak nabati dari berbagai komoditas.

Penggunaan lahan paling besar yaitu kedelai sebesar 2 hektar untuk menghasilkan 1 ton minyak kedelai. Urutan kedua adalah minyak bunga matahari yang membutuhkan 1,43 hektar, dan rapeseed membutuhkan 1,25 hektar. Sementara untuk menghasilkan 1 ton minyak kelapa sawit hanya membutuhkan lahan seluas 0,26 hektar.

Di dunia, perkebunan kelapa sawit hanya menggunakan 7,5 persen lahan pertanian. Dari segi lahan yang digunakan untuk pertanian, Indonesia memanfaatkan 56 juta hektar. Sementara Amerika Serikat menggunakan lahan 414 juta hektar dan Australia menggunakan 445 juta hektar untuk kawasan pertanian.

Bandung menegaskan tudingan yang menyebutkan industri kelapa sawit menyebabkan deforestasi di Indonesia adalah tidak benar. Bahkan sebaliknya, perkebunan minyak nabati lain seperti kedelai, bunga matahari, dan rapeseed yang membuka lahan lebih besar dibandingkan dengan perkebunan kelapa sawit.

Minyak kelapa sawit merupakan minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di dunia yaitu sebesar 34 persen, diikuti oleh minyak kedelai 27 persen, minyak rapeseed 15 persen, minyak bunga matahari 9 persen, dan lainnya 15 persen.

Baca juga: BPDPKS: Isu negatif sawit merupakan persaingan dagang minyak nabati
Baca juga: Kontribusi sawit terhadap ekonomi dari lapangan kerja hingga ekspor
Baca juga: Pemerintah masih telaah terkait moratorium sawit

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel