Perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia dan Global

·Bacaan 3 menit

VIVA – Indonesia salah satu negara yang memiliki potensi yang sangat besar dalam menguasai sektor ekonomi syariah, dengan adanya sumber masyarakat mayoritas muslim terbesar di dunia.

Dalam upaya meningkatkan ekonomi syariah mengalami hambatan yaitu adanya virus covid-19 yang menyebar di seluruh dunia. Hal tersebut mengakibatkan dunia mengalami krisis ekonomi karena beberapa negara melakukan kebijakan lockdown.

Namun hal tersebut tidak menyurutkan pemerintah untuk mewujudkan indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.

Saat Ini Sektor Ekonomi Syariah di Indonesia berdasarkan data State of the Global Islamic Economy Report pada tahun 2019-2020 ditempat ke-4 dunia hal ini mengalami kenaikan dari tahun 2018 dan 2019 yang menempatkan Indonesia pada peringkat kesepuluh dan ke-5.

Hal ini dilihat dengan beberapa indikator enam sektor riil meliputi makanan halal, keuangan syariah, perjalanan ramah muslim, konsumen busana muslim, produk farmasi, konsumen di media dan kreasi.

Pada sektor makanan halal Indonesia berada peringkat ke-4 di dunia dibawah malaysia, singapura dan Uni emirat Arab. Sektor keuangan syariah berada peringkat ke enam, sektor perjalanan ramah muslim berada peringkat keenam, sektor farmasi dan kosmetik berada peringkat keenam dan sektor media dan kreasi peringkat ke-5.

Peringkat Global Muslim Travel Index (GMTI), pariwisata halal Indonesia berada peringkat 1 pada tahun 2019 dengan negara malaysia. Dengan meihat akses, komunikasi, lingkunan dan layanan.

Tantangan pengembangan keuangan syariah

Dalam mewujudkan indonesia menjadi pusat ekonomi dan keuangangan, namun indonesia memiliki tantangan dengan masih rendahnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat produk keuangan syariah, ditunjukkan dengan masih rendah indeks literasi dan inklusi keuangan syariah.

Dengan melihat suevei literasi ekonomi syariah 2020 menghasilkan indeks literasi syariah sebesar 16,3 %. Nilai tersebut mengindivikasikan dari sekitar 16 orang yang “well literate” terhadap ekonomi syariah. (Sumber dari Bank Indonesia)

Banyak masyarakat indonesia masih belum dengan akad pada produk-produk lembaga perbankan maupun non-bank.

Pada lembaga keuangan perbankan dan non- bank memiliki akad-akad seperti akad mudharabah, akad musyarakah, akad murabahah, akad Ijarah, akad kafalah, akad Qard , akad wakalah, akad rahn, akad wadiah , akad jualah , akad salamm dan istishna.

Perkembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah Global

Ekonomi dan keuangan syariah global mengalami perkembangan yang sangat pesat di negara muslim ataupun negara non muslim dengan melihat data pengeluaran konsumen sebesar US$ 2.02 triliun dari 1.9 milyar muslim yang mencakup enam sektor riil ekonomi dan memiliki US$ 2.88 triliun aset keuangan syariah global pada tahun 2019. (Sumber dari KNEKS)

Enam Sektor Riil meliputi makanan halal naik 3.1% di 2019 menjadi US$ 1.17 triliiun dari US$ 1.13 triliun di 2018. Keuangan syariah, nilai aset keuangan syariah naik 13.9% di 2019 dari US$ triliun ke US$ 2.52 triliun ke US$ 2.8 triliun. Perjalan rumah muslim naik 2.7% di 2019 dari US$ 189 milyar ke US$ 194 milyar, kurang dari separuh dari tinkat pertumbuhan 6.8% di tahun sebelumnya. Pembelanjaan konsumen muslim pada busana naik 4.2 % di 2019 ke US$ 277 milyar. Produk farmasi naik 2.3 ?ri 92 milyar dolar dari 2018 ke US$ 94 milyar di 2019, dan untuk kosmetika sebesar US$ 66 milyar di 2019, tumbuh 3.4 ?ri pengeluaran di 2018. Pengeluaran konsumen muslim di media dan kekreasi naik 3.7 % menjadi US$ 222 milyar di 2019 dari US$ milyar di 2018. (Sumber dari KNEKS)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel