Perkembangan terkini di sekitar Laut China Selatan

Beijing (AP) - Telaah menyangkut perkembangan baru-baru ini di Laut China Selatan, tempat China bersaing dengan negara-negara tetangganya yang lebih kecil dalam persengketaan teritori atas kepulauan, karang dan laguna. Perairan itu merupakan rute utama pelayaran perdagangan global serta kaya akan ikan, dan kemungkinan cadangan minyak dan gas.

----

PRESIDEN XI AKAN BERKUNJUNG KE MYANMAR, SEKUTUNYA DI ASEAN

Presiden China Xi Jinping akan melakukan lawatan ke negara tetangga, Myanmar, pekan ini di tengah upaya untuk memperkuat hubungan dengan para anggota Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN).

Selain Laos dan Kamboja, Myanmar telah menjadi pendukung yang dapat diandalkan bagi China dalam gerakan yang dilancarkan Beijing untuk menepis kritik dari ASEAN terhadap klaimnya sebagai pemilik seluruh wilayah Laut China Selatan. Beijing belakangan ini sudah mendorong organisasi kawasan tersebut untuk menyetujui tata perilaku di antara negara-negara di perairan yang disengketakan tersebut. Tata perilaku tersebut kemungkinan bisa diupayakan untuk melarang operasi militer oleh negara-negara saingannya, seperti Amerika Serikat, Australia dan Jepang, di perairan itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying pada Jumat mengumumkan bahwa Xi akan berkunjung ke Myanmar pada 17-18 Januari.

------

JAKARTA MENGKLAIM KEPULAUAN YANG DIANGGAP CHINA SEBAGAI DAERAH PENANGKAPAN IKAN

Presiden Indonesia Joko Widodo pada Rabu menegaskan kedaulatan negaranya saat melakukan kunjungan ke kepulauan di ujung Laut China Selatan, yang diklaim China sebagai daerah yang sekian lama merupakan tempat penangkapan ikan.

Widodo, yang didampingi oleh para pejabat tinggi militer, berkeliling di Kepulauan Natuna dengan kapal angkatan laut, sebagai langkah untuk mengirimkan pesan kepada Beijing.

"Natuna adalah bagian dari wilayah Indonesia, tidak ada keraguan soal itu," kata Widodo saat berpidato usai kunjungan tersebut. "Tidak ada tawar-menawar untuk kedaulatan kita."

Klaim China soal hak memanfaatkan wilayah itu telah mengundang kemarahan di Indonesia serta memicu militer untuk meningkatkan kekuatan pasukannya di kepulauan tersebut. Kendati China sudah membuat klaim tersebut selama bertahun-tahun, baru-baru ini puluhan kapal nelayan China, yang didampingi oleh kapal-kapal penjaga pantai China, dilaporkan bergerak lebih agresif di kawasan itu dan tidak mengindahkan peringatan Indonesia untuk pergi.

-----

JENDERAL TOP ANGKATAN UDARA AS SERUKAN PENGGUNAAN PENIPUAN YANG LEBIH BESAR

Jenderal Charles Q. Brown, komandan Angkatan Udara AS untuk wilayah Pasifik, mengatakan pada sarapan pagi Grup Penulis Pertahanan di Washington bahwa militer harus lebih mengandalkan tipuan dan mengarahkan kembali perhatian musuh daripada sekadar kejutan dan kekaguman senjata mahal.

"Itu adalah sesuatu yang telah kami lakukan di masa lalu," kata Brown kepada para penulis akhir bulan lalu. "Yang benar-benar saya yakini adalah sesuatu yang kita, sebagai departemen, mungkin perlu mulai lebih memperhatikan."

“Kita harus melihat cara-cara lain bagaimana kita melakukan sesuatu dari sudut pandang kemampuan,” kata Brown. "Saya benar-benar percaya bahwa (China) tidak akan benar-benar pergi berperang kecuali mereka merasa yakin mereka benar-benar bisa menang."

Penggunaan tipu daya dan umpan akan membuat China terus menebak dan bisa mengurangi kepercayaannya pada kemampuannya untuk menang dalam konfrontasi dengan AS, mungkin atas Taiwan, kata Brown.

Brown juga menyebut perang elektronik sebagai "cara lain untuk membingungkan musuh."

"Hal-hal semacam itu yang mungkin tidak mengambil banyak uang, tetapi mungkin memiliki efek yang sama," kata Brown.