PERKI: Butuh kolaborasi kuat tekan kematian akibat penyakit jantung

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) mengatakan, dibutuhkan kerja sama dan kolaborasi yang lebih kuat untuk bisa menekan kematian semua pasien akibat penyakit jantung.

“Dengan angka kesakitan dan kematian yang cukup besar, kita (PERKI) tidak bisa berdiri sendiri. Kita dari organisasi profesi harus dibantu oleh kelompok kerja dan stakeholder baik pemerintah ataupun pemangku kebijakan,” kata Ketua Umum PERKI Radityo Prakoso dalam konferensi pers ISICAM 2022 yang diikuti di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Penyakit jantung penyebab utama kematian di Malaysia

Radityo mengatakan Indonesia masih memiliki tugas yang berat untuk dapat memberikan pelayanan secara merata dengan kualitas yang baik, terutama dalam menangani penyakit jantung.

Salah satu masalah yang saat ini harus diselesaikan adalah kurangnya dokter jantung untuk menangani pasien dengan penyakit jantung yang ada di Indonesia. Dalam data PERKI tercatat dokter jantung yang dimiliki negara saat ini hanya ada 1.621 orang.

Baca juga: Tekan kematian, Anies resmikan Layanan Jantung Terpadu RSUD Tarakan

Rencananya pada tahun 2030, PERKI akan mengupayakan mencetak lulusan dokter jantung yang mencapai 3.000 orang yang nantinya disebar ke seluruh pelosok Indonesia sesuai dengan lokus-lokus daerah yang membutuhkan.

Permasalahan lainnya yang harus dihadapi adalah kurangnya tenaga ahli intervensi kardiologi, dimana berdasarkan data PIKI jumlahnya baru sekitar 329 orang dan akan diupayakan meningkat menjadi sekitar 400 orang di tahun depan.

Baca juga: Studi: pola makan tidak sehat sebabkan 400.000 kematian di AS

Ia menambahkan PERKI sendiri, sedang mengupayakan memberikan pendidikan pada tenaga kesehatan yang membutuhkan peningkatan kemampuan di beberapa kota dan terus berusaha menjalin hubungan baik dengan rumah sakit lainnya baik dalam skala nasional maupun internasional.

Dengan sejumlah masalah tersebut, Radityo berharap pemerintah dapat menaruh perhatian lebih dan memperkuat kerja samanya baik dengan organisasi profesi maupun pokja dalam meningkatkan kuantitas maupun kualitas dokter jantung beserta sarana prasarananya.

“Jadi kita harus bekerja sama untuk mengatasi masalah ini. Kami pun seperti yang sudah dikatakan oleh Bapak Menkes, kita harus mulai dari semua lini kesehatan,” katanya.

Baca juga: Penyakit utama penyebab kematian di Indonesia
Baca juga: Vitamin C bantu kurangi risiko kardiovaskular