Perkuat Produk Lokal Jadi Solusi Tekan Kenaikan Harga Pangan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pada awal tahun ini Indonesia menghadapi berbagai masalah komoditi pangan. Mulai dari kenaikan harga kedelai dan daging sapi yang berujung pada keterbatasan stok di pasar. Selain itu juga diduga ada kebocoran beras impor.

Menanggapi, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, menyarankan agar Pemerintah lebih memperkuat produk pangan lokal, daripada tergantung pada impor.

“Beberapa produk pangan yang impor perlu segera dicari solusi alternatifnya dengan perkuat produk pangan lokal,” kata Bhima kepada Liputan6.com, Minggu (31/1/2021).

Menurutnya masalah kenaikan harga pangan lebih bersumber dari sisi pasokan. Misalnya di awal Januari harga kedelai impor yang mahal membuat harga tempe dan tahu naik. Begitu juga terjadi pada harga daging sapi karena kendala pasokan impor khususnya dari AS.

“Untuk cabai lebih disebabkan oleh faktor cuaca yakni curah hujan tinggi. Bencana alam di beberapa daerah juga berpengaruh pada produksi pangan dan logistik,” ujarnya.

Sementara sisi permintaan masih lesu, apalagi ada Pelaksanaan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Jawa Bali yang diperpanjang dari 26 Januari hingga 8 Februari 2021. Sehingga berimbas kepada restoran yang biasa membeli bahan baku pangan jadi terbatas jam operasionalnya.

“Justru pemerintah harus antisipasi pasokan pangan khususnya jelas ramadhan, karena harga bisa naik lebih tinggi. Serta Pemerintah harus memastikan subsidi pupuk merata dan tidak terlambat serta inovasi pertanian bisa didorong secara paralel,” ungkapnya.

Bhima menegaskan, selama ketergantungan komoditas impornya tinggi maka ketahanan pangan bisa rentan. Dolar menguat sedikit saja harga naik di pasaran, ada kesulitan pasokan juga buat harga pangan naik.

Tembus Rp 100 Ribu per Kg, Harga Cabai Rawit Merah Diprediksi Normal Februari 2021

Permintaan yang banyak untuk cabai di awal ramadan membuat harga cabai mengalami kenaikan, Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Jumat (19/6/2015). Harga Cabai Rawit naik dari harga Rp16 ribu menjadi Rp20 ribu/kg. (Liputan6.com/Yoppy Renato)
Permintaan yang banyak untuk cabai di awal ramadan membuat harga cabai mengalami kenaikan, Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Jumat (19/6/2015). Harga Cabai Rawit naik dari harga Rp16 ribu menjadi Rp20 ribu/kg. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) memprediksi harga cabai rawit merah akan kembali normal pada Februari 2021, lantaran akan terjadi panen raya di akhir Januari ini.

“Saya punya keyakinan Februari baru pada posisi normal, karena panen raya juga akan terjadi akhir bulan ini kan kalau nggak salah,” kata Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri kepada Liputan6.com, Jumat (29/1/2021).

Abdullah mengatakan harga cabai rawit merah di awal tahun 2021 berada di kisaran Rp 85.000-Rp 90.000 per kilogram. Bahkan beberapa pedagang ada yang menjual di angka Rp 100 ribu per kilogram.

Kenaikan harga tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya pasokan dari petani minim. Sebab para petani tidak memproduksi atau tidak menanam cabai rawit merah. Ini kasusnya terjadi pada saat periode panen raya kemarin, lantaran tidak terserap dengan baik dan harganya drop.

“Sehingga petani tidak produksi lagi. Efek apa? ya banyak faktor salah satunya yaitu musim hujan terus, takut gagal panen, daya beli masyarakat menurun,” ujarnya.

Selain faktor cuaca dan petani, harga cabai rawit merah mahal juga disebabkan karena daya beli masyarakat menurun dan permintaan rendah.

“Walaupun produksinya kecil tapi permintaan rendah dan harganya tinggi tu sebenarnya yang harus di antisipasi,” ujarnya.

Oleh karena itu, untuk mengakali agar harga cabai rawit merah tidak terlalu mahal maka sebagian pedagang ada yang menjual secara dioplos atau dicampur dengan cabai rawit hijau.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: