Perkumpulan Dokter Dunia Samakan COVID-19 dengan Flu Biasa, Jubir Satgas: Ini Misinformasi

·Bacaan 1 menit
Gambar ilustrasi diperoleh pada 27 Februari 2020 dengan izin dari Food and Drug Administration AS menunjukkan Virus Corona COVID-19. (US Food and Drug Administration/AFP)
Gambar ilustrasi diperoleh pada 27 Februari 2020 dengan izin dari Food and Drug Administration AS menunjukkan Virus Corona COVID-19. (US Food and Drug Administration/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito angkat bicara terkait pernyataan Perkumpulan Dokter Dunia yang menyatakan COVID-19 sama dengan flu biasa.

Menurut Wiku, hal itu termasuk misinformasi. "Saya ingin melakukan klarifikasi terhadap video pernyataan Aliansi Dokter Dunia tentang COVID-19," tegas Wiku saat konferensi pers di Media Center COVID-19, Graha BNPB, Jakarta, Selasa (27/10/2020).

Dia menambahkan, "Penting untuk diketahui oleh masyarakat bahwa konten video yang disebarkan oleh Aliansi Dokter Dunia masuk dalam kategori misinformasi."

Wiku lalu menyebut ada tiga bentuk disinformasi terkait COVID-19. "Pertama, misinformasi terhadap keyakinan yang bersifat umum. Kedua, keyakinan terhadap teori konspirasi. Ketiga, keyakinan dari agama," ujarnya.

Konten informasi dalam video Aliansi Dokter Dunia dapat diidentifikasikan sebagai misinformasi yang muncul dengan menyamakan COVID-19 dengan influenza.

"Penting untuk diketahui, penyebab dinamika transmisi dan akibat dari kedua penyakit tersebut sangat berbeda. Satgas COVID-19 mengingatkan kepada masyarakat, misinformasi dapat memengaruhi respons seseorang terhadap suatu informasi," jelas Wiku.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Evaluasi Kredibilitas Informasi

Wiku melanjutkan, masyarakat harus mengevaluasi kebenaran informasi yang diterima. Carilah sumber-sumber informasi yang kompeten dan kredibel.

"Oleh karena itu, masyarakat harus mengevaluasi kredibilitas informasi yang diterima serta merujuk informasi tentang COVID-19 pada lembaga yang dapat dipercaya, seperti Badan Kesehatan Dunia (WHO), Centers for Disease Control and Prevention (CDC)," lanjutnya.

"Khusus di Indonesia, tentunya sumber terpercaya diperoleh dari Kementerian Kesehatan dan Satgas Penanganan COVID-19."

Untuk jurnalis dapat melakukan konfirmasi informasi kepada pengamat, bisa tokoh masyarakat atau tokoh terpandang serta memiliki akses terhadap data dan informasi yang valid.

(Fitri Haryanti Harsono)