Perlakuan Berbeda Pramac kepada Johan Zarco dan Jorge Martin

Xaveria Yunita
·Bacaan 2 menit

Rider Prancis punya jam terbang lumayan di MotoGP. Ia sudah empat tahun berkecimpung pada kelas premier, hanya saja Zarco tidak benar-benar mengenal motor balapnya. Hal ini membuatnya sulit bersaing di papan atas.

Sejak memperkuat Monster Yamaha Tech3 pada 2017, Zarco pernah menjajal motor KTM, Honda dan Ducati seiring dengan pergantian tim.

Musim lalu, pria 30 tahun itu memperkuat Hublot Reale Avintia yang menggunakan Ducati edisi lebih lama, GP19.

Bersama Pramac, Zarco akan menunggangi Ducati edisi terbaru. Manajer tim, Francesco Guidotti, menaruh ekspektasi cukup tinggi kepadanya.

Guidotti melakukan interaksi dan pengamatan terhadap pembalap itu bertahun-tahun. Ia kini melihat sosok Zarco yang lebih matang.

“Menurut pendapat saya, Zarco bergabung dengan kami di waktu ideal. Dia pembalap yang dulu tidak tahu siapa dirinya. Saya berkesempatan bicara dengannya ketika dia masih balapan di Moto2 dan saya punya kesan dia tak tahu apakah itu ikan atau daging,” ucapnya dikutip dari Speedweek.

Baca Juga:

Ciabatti: Cara Kerja Zarco Berbeda dari Dovizioso dan Petrucci Zarco Yakin Jorge Martin Cepat Beradaptasi di MotoGP

“Saya bertemu lagi baru-baru ini, ia punya citra diri yang lebih baik sekarang. Berpisah dengan manajer lamanya, memberi kesempatan untuk membangun relasi yang lebih baik dengan keluarga dan dunia di sekitarnya. Dulu dia berpikir jarak sangat penting untuk jadi pembalap profesional.

“Sekarang dia 30 tahun, ini momen terbaik baginya untuk membalas dan untuk itu, dia datang kepada kami dalam momentum tepat. Ditambah lagi, dia mengendarai Ducati selama satu musim dan sekarang dia naik motor yang sedang dalam pengembangan. Saya harap saya tidak salah, tapi kami akan bersenang-senang bersama.”

Sementara itu, Pramac tidak menekan Jorge Martin pada tahun perdananya berlaga di MotoGP. Bahkan mereka akan permisif seandainya juara Moto3 2018 itu melakukan kesalahan.

“Ketika Anda memiliki rookie dalam tim, Anda hanya mencoba memberinya informasi sebanyak mungkin, tapi tanpa memberinya tekanan,” ucap Guidotti.

“Kami tahu dia harus membuat kesalahan agar belajar. Kami akan membiarkannya belajar, kami tidak boleh lupa bahwa seorang pembalap terbentuk ketika dia tiba di MotoGP. Anda harus memberinya ruang dan dukungan, tapi mereka mesti maju.

“Pengalaman pertama dengan motor juga berbicara banyak, di mana selalu krusial ketika Anda naik motor baru.”