Perlombaan terbang layang bergantung kondisi cuaca

·Bacaan 2 menit

Pelaksanaan pertandingan cabang olahraga terbang layang PON XX Papua yang berlangsung di Bandara Mozes Kilangin Timika sangat bergantung pada faktor cuaca di wilayah itu.

Teknical Delegated Cabang Terbang Layang, Prasetyo Herminto, di Timika, Sabtu, mengatakan, selama tiga hari berjalan, pertandingan terbang layang dengan nomor ketepatan mendarat (precision landing) berlangsung pada petang hari.

"Kondisi cuaca di Timika sangat berpengaruh sekali terhadap pertandingan cabor terbang layang, ini menjadi kendala terbesar. Seharusnya jadwalnya dilaksanakan pagi hari, namun karena dua hari cuacanya kurang mendukung maka baru bisa kami laksanakan sore hari," kata Prasetyo.

Terbang layang sendiri diikuti tujuh kontingen yaitu Papua, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Terdapat 12 medali emas, perak dan perunggu yang diperebutkan oleh tujuh kontingen tersebut pada cabang terbang layang yang dipertandingkan mulai 23 September hingga 6 Oktober.

"Namun kami harus menyelesaikan seluruh nomor pertandingan. Selama masih cukup aman dan pesawat masih bisa terbang maka tetap kami terbangkan," jelas Prasetyo.

Pelaksanaan pertandingan cabor terbang layang hingga memasuki hari ketiga pada Sabtu petang masih menggunakan landas pacu (runway) Bandara Mozes Kilangin Timika lantaran arena yang disiapkan oleh PB PON XX Papua belum siap.

Prasetyo mengaku tidak berani menggelar pertandingan terbang layang di arena yang disiapkan oleh PB PON XX Papua di sisi selatan landas pacu Bandara Mozes Kilangin Timika lantaran belum diuji coba, terutama untuk pendaratan pesawat.

"Harus dites dulu, nggak bisa langsung disuruh terbang. Kalau sudah dites, nanti kami akan informasikan ke atlet hal-hal teknisnya. Kalau tidak dites, saya tidak berani. Ini menyangkut penerbangan, bukan naik mobil," ujarnya.

Dengan kondisi seperti itu, katanya, TD Terbang Layang memutuskan untuk terus menggelar pertandingan di landas pacu Bandara Mozes Kilangin Timika.

"Mendingan tetap di runway. Kalau di arena yang baru dibangun itu terlalu berisiko tinggi," jelas Prasetyo.

Pesawat terbang tanpa mesin dari salah satu peserta pertandingan cabor terbang layang PON XX Papua saat hendak mendarat di landas pacu (runway) Bandara Mozes Kilangin Timika. (ANTARA/Evarianus Supar)
Pesawat terbang tanpa mesin dari salah satu peserta pertandingan cabor terbang layang PON XX Papua saat hendak mendarat di landas pacu (runway) Bandara Mozes Kilangin Timika. (ANTARA/Evarianus Supar)


Pada hari pertama pertandingan cabor terbang layang, warga yang datang menonton membludak hingga ke pinggir landas pacu Bandara Timika.

Belajar dari pengalaman itu, Prasetyo mengingatkan semua petugas yang terlibat untuk lebih menertibkan warga yang hendak menonton.

"Sejak kemarin (Jumat), penonton tidak bisa lagi masuk ke dalam, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk. Saya tidak mau mengambil risiko. Ini demi kenyamanan dan keamanan sertra keberhasilan PON XX Papua," ujarnya.

Ia berharap seluruh nomor pada cabor terbang layang bisa dipertandingkan sehingga kontingen yang datang dari berbagai daerah yang jauh bisa membawa pulang medali emas, perak atau perunggu.

Selain itu, Prasetyo berharap pelaksanaan pertandingan terbang layang berjalan aman, lancar dan tertib, tanpa gangguan, dan juga didukung dengan kondisi cuaca yang cerah.

Baca juga: 10 atlet terbang layang Jateng siap berlaga di PON Papua
Baca juga: 1.500 personel TNI-Polri amankan PON XX Papua di Mimika
Baca juga: Garuda dan Batik Air tambah frekuensi penerbangan ke Timika

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel