Perlunya Komunikasi Bagi Penyintas COVID-19 untuk Mencegah Stigma Negatif

·Bacaan 1 menit

Bola.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 masih belum berakhir. Hingga kini, virus corona penyebab COVID-19 masih menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.

Dengan gejala yang mirip flu biasa, namun mudah menular, membuat beberapa kalangan menjadi cemas dan khawatir, tak terkecuali masyarakat di Indonesia.

Situasi tersebut membuat para penyintas COVID-19 merasakan stigma negatif dari sebagian masyarakat, yang merasa takut terinfeksi virus corona.

Satuan Tugas (Satgas) COVID-19, melalui anggota Sub Bidang Tracing Bidang Penanganan Kesehatan, Retno Asti Werdhani, menekankan pentingnya bagi pasien untuk berkomunikasi dengan orang terdekat, seperti teman atau keluarga, untuk mencegah dampak negatif dari orang-orang yang belum paham COVID-19.

"Kalau kita sendiri terstigma, berarti penting sekali membuka komunikasi dengan teman, untuk mencari dukungan yang bisa kita dapatkan, lalu tetaplah berkomunikasi, dan menghubungi media hotline yang ada,"ujar Retno, dalam diskusi virtual berjudul 'Stop Stigma: Sebar Cinta Saat Pandemi' yang disiarkan melalui Youtube BNPB Indonesia, Senin (28/12/2020)

Retno menambahkan, selain komunikasi dengan orang terdekat, para penyintas yang mendapat label negatif bisa meluruskan persepsi miring tentang COVID-19 kepada masyarakat melalui media sosial.

"Jadi, dari survei TIM Fakultas Psikologi UI didapatkan bahwa ada tiga media favorit di masyarakat yang bisa menjadi sumber informasi untuk meluruskan persepsi itu dan sekadar untuk menggambarkan apa yang dialami oleh teman-teman yang survive. Mereka bisa pakai media sosial, seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan WhatsApp grup itu sangat penting sekali karena viralnya cepat sekali," tambahnya

Melalui media sosial tersebut diharapkan para penyintas bisa meluruskan berita tak benar terkait COVID-19. Tak hanya itu, juga untuk mengingatkan tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan demi mencegah terinfeksi COVID-19.