Permasalahan Ciliwung yang menggunung

MERDEKA.COM,

Setiap kali Jakarta terendam banjir, salah satu objek yang sering dijadikan kambing hitam adalah Kali Ciliwung. Sebab, jika kali yang memiliki panjang 120 kilometer meluap, otomatis akan merendam wilayah yang dilaluinya seperti Kampung Pulo, Bukit Duri, Bidara Cina, dan Cawang.

Kali Ciliwung kerap meluap saat hujan deras terjadi di daerah Bogor. Alih fungsi lahan yang berada di daerah hulu Ciliwung sering kali menjadi pemicu meluapnya air Kali Ciliwung. Akibatnya, jika debit hujan meningkat maka air mampu tertampung.

Berhulu di Gunung Pangrango, Jawa Barat, Kali Ciliwung yang bertanah subur, berhawa sejuk, sekarang sudah beralih fungsi. World Wildlife Fund (WWF) Indonesia mencatat, sejak tiga dekade terakhir, Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Ciliwung berubah fungsi dari hutan alami menjadi daerah komersial. Akibat komersialisasi lahan ini, DAS Kali Ciliwung masuk ke dalam kategori kritis di Indonesia.

Guru Besar Konservasi Tanah dan Air di Institut Pertanian Bogor Prof Dr Ir Naik Sinukaban menilai bencana banjir kerap melanda Jakarta dikarenakan penggunaan lahan di kawasan DAS (daerah aliran sungai) Ciliwung yang tak sesuai fungsinya. Penggunaan lahan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi tanah (penggunaan lahan dari hulu hingga hilir sungai).

"Kita bicara soal DAS sehingga air yang jatuh langsung mengalir ke Jakarta sebagai air baku. Oleh sebab itu bagaimana caranya semua air hujan tadi tidak cepat habis, vertical drain. Mudah dan murah serta efektif. Saya punya usulan kepada Pemprov bagaimana menahan air tetap di DAS," katan Sinukaban.

Dia menambahkan, untuk mengatasi permasalahan ini, perlu adanya kerja sama antara dua pemerintah daerah. Dalam hal ini DKI Jakarta dan Jawa Barat. "Perlu kerja sama untuk DAS antar pemerintah daerah," ujarnya.

Untuk membahas masalah tersebut, pada Oktober silam, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, secara resmi bertandang ke Bandung, Jawa Barat untuk menemui langsung Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Dalam pertemuan yang diadakan di Gedung Sate, Jokowi mengatakan ingin kerjasama penanganan banjir, terutama tentang penataan ruang dan program pembangunan segera dilaksanakan.

Sementara Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan memaparkan, pertemuan ini untuk lebih mempererat komunikasi dan kerjasama kedua provinsi dalam penataan ruang dan program pembangunan.

"Banjir yang diakibatkan Sungai Ciliwung. Dari hulu ke hilir kita selesaikan bersama. Di bawah Kementerian PU. Detailnya akan buat tim. Bagaimana di kawasan hulu konservasi. Kita buat masterplan bendungan di Ciawi," jelasnya.

Heryawan menambahkan, kedua provinsi juga akan meningkatkan kerjasama di bidang transportasi. Setiap hari, tercatat 2,2 juta jiwa warga Jawa Barat yang bekerja di DKI Jakarta.

"Semoga terwujud. Nantinya akan melewati Bekasi," ujar Heryawan.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.