Permintaan Maaf Pemerintah Belanda Dinilai Setengah Hati

Karawang (ANTARA) - Ketua Umum Komite Nasional Pembela Martabat Bangsa Indonesia, Batara Hutagalung menilai, permintaan maaf Pemerintah Belanda terkait aksi militernya pada 1947 hingga menyebabkan jatuhnya korban sipil di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, setengah hati.

Hal tersebut disampaikan Batara di hadapan para janda korban peristiwa Rawagede dan di hadapan Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd De Zwaan, di sela-sela peringatan Peristiwa Rawagede, di Monumen Rawagede, Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Karawang, Jumat.

Permintaan maaf yang disampaikan Duta Besa Belanda untuk Indonesia tersebut dinilai setengah hati, karena hanya ditujukan kepada masyarakat Rawagede. Padahal kekejaman yang merupakan kejahatan perang dan melanggar hak asasi manusia itu tidak hanya terjadi di Rawagede.

"Kami meminta Pemerintah Belanda memintaa maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Karena cukup banyak peristiwa kekejaman serupa peristiwa Rawagede, seperti yang terjadi di sulawesi Selatan," kata Batara.

Dikatakannya, permintaan maaf bukanlah sesuatu hal yang bisa menurunkan martabat suatu bangsa. "Karena bangsa yang kuat ialah bangsa yang mengakui kelemahannya. Dengan begitu, permintaan maaf itu justru menunjukkan kebesaran jiwa suatu bangsa," katanya.


Namun pengacara korban, janda korban serta ahli waris korban Peristiwa Rawagede, Liesbeth Zegveld menghargai sikap Pemerintah Belanda yang kini mau meminta maaf atas peristiwa Rawagede itu.

"Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan," katanya.

Menurut dia, bentuk kemenangan gugatan para janda di Pengadilan Den Haag, Belanda, pada 14 September 2011 ialah Pemerintah Belanda akan memberikan kompensasi kepada para janda korban Peristiwa Rawagede sebesar 20 ribu Euro perorang.

Tetapi, katanya, besarnya kompensasi yang akan diberikan kepada para janda korban Peristiwa Rawagede tidak akan mengembalikan kerusakan moral yang menimpa para korban dan penduduk di Rawagede. Permintaan maaf yang disampaikan pemerintah Belanda sudah cukup untuk mengobati luka batin yang terjadi selama ini.

"Sebagai orang Belanda, saya juga minta maaf, bukan kepada para korban saja. Tetapi juga kepada seluruh penduduk di Rawagede ini," katanya.


Maaf


Sementara itu, pada peringatan peristiwa Rawagede di Monumen Rawagede, Jumat, Pemerintah Belanda secara resmi meminta maaf atas aksi militernya pada tahun 1947 yang menyebabkan jatuhnya korban sipil di Desa Balongsari, Kecamatan Rawagede, Karawang, Jawa Barat.

"Hari ini kita mengenang anggota keluarga Desa Balongsari yang tewas 64 tahun lalu saat agresi militer Belanda. Saya atas nama Pemerintah Belanda memohon maaf atas tragedi tersebut," kata Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan.


Zwaan mengatakan, peristiwa Rawagede merupakan hal yang menyedihkan dan sebuah contoh mencolok tentang bagaimana hubungan antara Indonesia dan Belanda pada masa itu (tahun 1947) berjalan ke arah yang keliru.

"Anda masing-masing tentu mempunyai cara tersendiri untuk mengatasi kenangan pahit tragedi Rawagede. Saya berharap bahwa dengan bercermin bersama pada peristiwa itu, kita bisa melangkah bersama ke masa depan dan bekerja sama dengan erat dan produktif," kata Zwaan.

Pada 9 Desember 1947 tentara Belanda melakukan pembantaian terhadap 431 penduduk Rawagede. Aksi pembantaian itu dipimpin seorang militer berpangkat mayor, dengan mengepung Desa Rawagede dan menggeledah setiap rumah.

Tetapi mereka tidak menemukan sepucuk senjata pun. Setelah itu, para tentara Belanda memaksa seluruh penduduk desa itu keluar rumah dan mengumpulkannya di sebuah lapangan.

Saat itu, penduduk laki-laki diperintahkan untuk berdiri berjejer, kemudian mereka ditanya tentang keberadaan para pejuang Republik. Tetapi tidak satu pun rakyat yang mengatakan tempat persembunyian para pejuang tersebut.

Tentara Belanda kemudian menembak mati semua penduduk laki-laki, termasuk para remaja dan bahkan ada yang baru berusia 11 dan 12 tahun. Beberapa orang berhasil melarikan diri ke hutan, walaupun terluka kena tembakan.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.