Permintaan pupuk tinggi, SAMF catat pertumbuhan penjualan 103 persen

Emiten produsen pupuk PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 103 persen pada semester I 2022 seiring dengan permintaan pupuk yang masih tinggi.

Perusahaan berkode saham SAMF di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu mencatatkan penjualan Rp1,45 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp711,88 miliar.

"Kami bersyukur kinerja semester pertama 2022 sangat baik. Hal ini ditunjang permintaan pasar untuk pupuk NPK, khususnya dari kalangan perkebunan sawit yang masih sangat tinggi," kata Direktur Utama PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk Yahya Taufik dalam keterangan di Jakarta, Senin.

Yahya menyampaikan peningkatan penjualan pupuk perseroan tidak hanya didukung oleh adanya kenaikan harga, tapi juga karena naiknya volume pupuk yang terjual.

Ia menambahkan selain karena permintaan yang masih tinggi, kebijakan pemerintah juga ikut menambah positif iklim industri pupuk, seperti kebijakan pemerintah yang menghapuskan pajak ekspor (PE) CPO sampai 31 Agustus 2022.

Menurut Yahya, kebijakan tersebut tentunya akan mendongkrak harga minyak sawit mentah atau CPO dalam negeri yang berimbas pada kemampuan belanja pupuk untuk meningkatkan produktivitas sawit.

"Kami optimistis hingga akhir tahun bisnis pupuk di Indonesia masih potensial," ujar Yahya.

Yahya menyampaikan permintaan pupuk saat ini terus meningkat, bahkan perseroan sudah mengantongi pesanan hingga Oktober 2022.

Oleh karena itu, lanjut Yahya, manajemen Saraswanti merevisi target penjualan untuk tahun 2022.

"Kami melakukan peningkatan proyeksi penjualan tahun 2022, awalnya Rp2,4 triliun menjadi Rp2,88 triliun," kata Yahya.

Sementara itu, dari sisi bahan baku, perseroan juga telah mampu mengamankan pasokan hingga akhir tahun ini.

Per akhir Juni 2022, laba sebelum pajak Saraswanti melonjak 152 persen menjadi Rp174,69 miliar dibandingkan semester I 2021 sebesar Rp69,31 miliar.

Di sisi lain, perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan distribusi pupuk NPK itu mencatatkan aset sebesar Rp2,46 triliun dengan liabilitas Rp1,54 triliun, serta ekuitas sebesar Rp918 miliar.

Baca juga: BRI masih optimistis capai target pertumbuhan kredit 9-11 persen
Baca juga: Hasnur Internasional cetak laba bersih Rp45,1 miliar pada semester I
Baca juga: DMS Propertindo gencar ekspansi seiring pulihnya ekonomi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel