Permukiman kawasan Badui sepi kunjungan wisatawan

Budisantoso Budiman
·Bacaan 2 menit

Permukiman kawasan masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten sepi dari wisatawan sehubungan memasuki bulan Kawalu dan terdampak pandemi COVID-19.

"Sepinya wisatawan itu tentu omzet pendapatan menurun drastis hingga 95 persen," kata Yanti (40), seorang pedagang kerajinan produk masyarakat Badui di Kampung Kadu Ketug, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Sabtu.

Selama ini, para pedagang aneka kerajinan masyarakat Badui merasa terpukul, karena omzet pendapatan menurun drastis, bahkan terkadang seharian tidak ada pembeli.

Meskipun omzet menurun drastis, tetapi para pedagang tetap bertahan sambil duduk-duduk di bale rumah menunggu konsumen.

Menurut dia, para pedagang Badui itu memajang aneka kerajinan itu di depan bale rumah.

"Kami saat ini omzet pendapatan menurun drastis dibandingkan sebelum Kawalu dan pandemi COVID-19," kata Yanti tanpa menyebut pendapatan keuntungannya per bulan.

Begitu juga Jali (65), seorang pedagang warga Kadu Ketug, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak mengatakan sejak setahun terakhir ini omzet pendapatan menurun, terlebih bulan Kawalu dan pandemi COVID-19.

Saat ini, kata dia, perkampungan masyarakat Badui tampak sepi dari wisatawan, sehingga berdampak terhadap perekonomian warga adat setempat.

Bahkan, pedagang yang berjualan di kawasan permukiman Badui bisa dihitung dengan jari tangan.

"Kami meski wisatawan sepi, namun tetap berjualan di bale rumah," katanya menjelaskan.

Ia mengatakan, para pedagang aneka kerajinan Badui itu di antaranya kain tenun, pakaian batik, kaos, tas koja, suvenir, golok, minuman jahe, gula aren, lomat, selendang, dan madu.

Produk kerajinan Badui itu dijual mulai Rp10 ribu sampai Rp350 ribu, dan sebagian besar pembelinya wisatawan.

"Jika wisatawan ke sini sepi tentu pendapatan juga menurun drastis dan terkadang tidak laku," katanya pula.

Tetua adat yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Saija mengaku bahwa saat ini permukiman Badui memang dilarang dikunjungi wisatawan, karena memasuki bulan Kawalu atau bulan larangan.

Selain itu, juga saat ini pandemi COVID-19, sehingga dilarang terjadi kerumunan karena berpotensi menularkan penyakit yang mematikan.

Karena itu, sekitar 2.000 perajin Badui kini menghentikan kegiatan memproduksi kain tenun dan kerajinan lainnya, karena tidak ada wisatawan.

"Kami berharap tahun ini juga bisa terbebas pandemi Corona,sehingga perekonomian kembali normal," katanya lagi.
Baca juga: Warga Badui Dalam berjalan kaki ratusan kilometer memburu tupai
Baca juga: Tetua adat sebut warga Badui disiplin terapkan protokol kesehatan