Pernah dicibir, Jumiati kini sebagai pahlawan pangan

MERDEKA.COM. Semangat Kartini ada pada diri Jumiati. Perempuan satu ini teguh berjuang demi mengangkat perekonomian warga desa sekaligus melestarikan lingkungan.

Jumiati berjuang di Desa Sei Nagalawan, Perbaungan, Serdangbedagai, Sumatera Utara. Perempuan 32  tahun ini rela berkubang lumpur untuk menanami mangrove di tepi sungai dan pantai, kemudian mengolahnya sehingga mempunyai nilai tambah.

Bermula dari 2005, Jumiati memimpin Kelompok Nelayan Perempuan Muara Tanjung menanami mangrove di desanya. Dia tergerak menanami tetumbuhan ini karena menyadari pentingnya perbaikan ekosistem pantai yang kian hari semakin rusak.

"Awalnya masyarakat tidak tahu manfaat mangrove. Ada yang mencibir dan mengejek. Ada yang bilang saya kurang kerjaan," kata Jumiati kepada merdeka.com.

Meski banyak yang mencibir, Jumiati bergeming. Dia tetap memimpin kelompoknya menanami pohon mangrove di jalur hijau. Luas lahan yang ditanami pun terus bertambah. Kini sudah sekitar 7 hektare lahan penuh dengan mangrove yang mereka tanami.

Berkat kegigihan Jumiati dan kelompoknya, pandangan masyarakat mulai berubah. Kesadaran warga akan pentingnya melestarikan lingkungan terus tumbuh. "Warga mulai termotivasi menanam mangrove. Apalagi mereka melihat nelayan tak perlu lagi melaut sampai jauh. Anak-anak bisa menangkap kepiting di akar bakau.  Warga menyadari jika hutan bakau lebat, sangat baik untuk biota laut," jelasnya sembari mengatakan saat ini konservasi turut dibantu kelompok nelayan laki-laki.

Bukan cuma melakukan konservasi, Jumiati dan kelompoknya juga berhasil mendapatkan nilai tambah dari mangrove yang ditanami. Sejak 2006, bagian dari tetumbuhan itu mulai diolah menjadi makanan. Jumiati dan kelompoknya mulai membuat kerupuk dari mangrove jeruju (Acantus ilicifolius).

Tak terhenti hanya membuat kerupuk jeruju, Jumiati dan kelompoknya terus berproses. Mereka pun menjalin kerja sama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Serdangbedagai serta mengikuti berbagai pelatihan dan diskusi. "Pada 2009 kami mendapat informasi bahwa mangrove juga bisa jadi bahan sirup dan mangrove api-api bisa menjadi dodol, sehingga kami mulai membuatnya," jelasnya.

Hasil penjualan makanan dan minuman olahan dari mangrove yang dibuat Jumiati dan kelompoknya memberi tambahan penghasilan bagi perempuan di Desa Sei Nagalawan. "Karena sudah cukup lama, kerupuk jeruju cukup dikenal, jadi pasarnya cukup baik. Kalau sirup dan dodol masih perlu disosialisasikan. Kita juga perlu penelitian lebih untuk menyempurnakannya serta dapat mengetahui zat dan khasiat dari bahan mangrove ini," papar Jumiati.

Bukan cuma menanami mangrove dan mengolahnya menjadi bahan pangan, Jumiati juga menggerakkan lembaga simpan pinjam di desanya. Upayanya ini memberikan banyak manfaat bagi warga setempat. Mereka tak lagi terjerat utang dari rentenir.

Upaya positif yang dikerjakan Jumiati berbuah manis. Dia mendapat penghargaan sebagai perempuan berprestasi di Kabupaten Serdangbedagai.

Yang lebih membanggakan, awal Maret lalu, Jumiati didaulat menjadi salah satu pahlawan perempuan di bidang pangan. Dia merupakan satu di antara tujuh perempuan yang mendapat penghargaan Woman Food Hero Indonesia 2013 dari lembaga nirlaba Inggris Oxfam.

Meski telah mendapat penghargaan, Jumiati tak ingin berhenti. Dia masih punya rencana dan berharap hutan mangrove di Desa Sei Nagalawan dapat menjadi kawasan ekowisata seperti yang ada di Muara Angke, Jakarta. "Sekarang sedang pengurusan izin agar bisa dikelola kelompok nelayan," ujarnya.

Lewat kiprahnya, Jumiati membuktikan dia tak kalah dari laki-laki. Dia mempunyai semangat juang dan berhati pahlawan, layaknya RA Kartini.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.