Pernah Jabat Presiden, Tokoh Kiri Brasil Lula da Silva Menang Pilpres dari Bolsonaro

Merdeka.com - Merdeka.com - Tokoh kiri Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva memenangkan pemillihan presiden (pilres) Brasil, mengalahkan petahana Jair Bolsonaro. Da Silva (70) pernah menjabat presiden namun mundur pada 2010 setelah dipenjara selama 18 bulan karena tuduhan korupsi yang kontroversial.

Dalam pidato kemenangannya, Lula da Silva menyerukan "perdamaian dan persatuan".

"Negara ini butuh perdamaian dan persatuan. Rakyat Brasil tidak ingin berkelahi lagi," jelasnya kepada para pendukungnya di Sao Paulo, dikutip dari South China Morning Post, Senin (31/10).

"Tidak ada yang tertarik hidup di negara yang terpecah belah dalam kondisi perang yang permanen," lanjut tokoh Partai Buruh ini.

Lula juga menyinggung soal kesetaraan gender dan rasial dalam pidatonya dan mendesaknya penanganan krisis kelaparan yang mempengaruhi 33,1 juta rakyat Brasil.

"Hari ini kita sampaikan pada dunia bahwa Brasil telah kembali," ujarnya, sembari menambahkan negaranya siap merebut kembali tempat sebagai negara yang gigih berjuang melawan krisis iklim, khususnya di Amazon.

Bolsonaro (67) masih bungkam terkait kekalahannya. Sebelumnya tokoh sayap kanan ini menuding tanpa bukti sistem pemilihan elektronik Brasil dicurangi dan menuduh pengadilan, media, dan lembaga lainnya bersekongkol melawan gerakan sayap kanannya.

Komisi pemilihan umum Brasil mengumumkan, Lula meraih 50.9 persen suara dan Bolsonaro meraih 49,1 persen setelah dilakukan penghitungan di 99,9 persen tempat pemungutan suara (TPS).

Sejumlah pemimpin dunia seperti Presiden Amerika Serikat Joe Bidan, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, dan sejumlah pemimpin Amerika Latin menyampaikan selamat atas kemenangan Lula.

Para pendukung Partai Buruh di berbagai kota merayakan kemenangan Lula seperti di Rio de Janeiro dan Sao Paulo.

"Hari ini demokrasi menang, dan tidak mustahil memimpikan negara yang lebih baik," kata pendukung Lula, Maria Clara di Rio de Janeiro.

Sementara itu, sejumlah pendukung Bolsonaro berkumpul di luar kantor pemerintah di Brasilia, bersimpuh dan memanjatkan doa.

Bolsonaro dinilai gagal menangani pandemi Covid-19 sehingga menyebabkan lebih dari 680.000 warga Brasil tewas. Dia juga dikritik karena lemahnya perekonomian Brasil, polarisasi masyarakat, dan menyerang lembaga demokrasi. [pan]