Pernikahan adalah Sebuah Bahtera yang Harus Ditempuh dengan Kesungguhan Hati

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Bunga Monintja

Pernikahan adalah ikatan yang sakral. Hubungannya langsung dengan Sang Mahakuasa. Butuh persiapan matang untuk sampai ke jenjang ini, karena harapan bisa menjalani ibadah seumur hidup hingga maut memisahkan.

Pernikahan yang aku jalani saat ini, tentu adalah wujud dari perjuangan penuh liku selama proses dari mulai perkenalan hingga memutuskan untuk mengikat janji suci dalam bahtera yang Allah halalkan.

Banyak hal yang telah aku dan suami lewati sejak awal perkenalan kami, Mei 2007 di Cirebon. Saat itu dia tengah meliput kegiatan demo mahasiiswa yang tengah aku dan teman-teman lakukan di depan kampus. Profesinya sebagai seorang wartawan membuat nilai lebih di mataku yang juga menyukai dunia literasi. Tak hanya itu, sikapnya yang dewasa mampu membuatku merasa memiliki pelindung dan sosok yang selama dua puluh tahun tak pernah kudapatkan dari seorang ayah.

Tak lama pendekatan yang kami lakukan, hingga akhirnya memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Namun, tak mudah mengambil langkah itu di kala restu orang tua menjadi kendalanya.

Suamiku merupakan satu-satunya anak lelaki dari enam bersaudara, keturunan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Keluarga besarnya menginginkan anak lelaki mereka bisa berjodoh dengan perempuan dari keturunan yang sama dalam satu wilayah.

Hal itulah yang membuat suamiku menunda rencana pernikahan kami dengan menyusun rencana agar mendapat restu orang tua. Dengan perlahan mendekati satu per satu saudara perempuannya, dia pun mengakui tentang keberadaanku sebagai perempuan yang hendak dijadikan istrinya. Mereka bisa memahami keputusan suami yang tak bisa menolak perempuan yang telah ditakdirkan untuk menjadi jodohnya. Lagi pula, perasaan seseorang itu tak bisa dipaksakan.

Sempat Terhalang Restu

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/@takeshi2
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/@takeshi2

Saudara perempuan dan ibu suamiku pun menerima pilihan putranya. Tinggal memberitahu Bapak yang masih mengharapkan putranya mendapatkan istri sesama orang Lombok. Aku pasrah kala itu. Jika suamiku adalah jodoh yang terbaik, maka Allah pun akan mempermudah jalan kami bisa bersama.

Bapak sempat kecewa kala saudara-saudara perempuan suamiku memberitahukan tentang calon istri putra satu-satunya dalam keluarga mereka. Dengan pengertian dan bujukan dari suami dan keluarganya, akhirnya Bapak pun luluh juga, mau menerimaku dengan syarat harus datang terlebih dulu menghadapnya sebelum acara pernikahan dilangsungkan.

Sesuai kesepakatan keluarga, akhirnya aku dan suami pun menggelar pertunangan terlebih dulu sebelum berangkat ke Lombok. Ternyata lamaran yang diharapkan akan berjalan lancar pun, menghadapi kendala sebelum berlangsungnya acara.

Permasalahan baru muncul saat suamiku mengemukakan tentang wali pernikahanku nanti. Mama yang masih menyimpan rasa sakit hati karena perlakuan Papa yang telah menelantarkanku selama dua puluh tahun lamanya, tak setuju jika Papa menjadi wali nikahku nanti.

Pertengkaran sempat terjadi sebelum acara pertunangan yang dijadwalkan di awal September 2007. Permintaanku dan suami yang mengharapkan Papa menjadi wali nikah nanti, ditolak mentah-mentah oleh Mama. Meskipun aku pun harus mencari keberadaan Papa yang tak tahu di mana tinggalnya. Mama yang tak ingin Papa hadir, mengancam tidak akan menghadiri pernikahan kami jika tetap memaksakan hal itu.

Membangun Rumah Tangga yang Lebih Kuat

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Dilema besar menjadi masalah buatku dan suami. Di lain sisi, aku memang tak berharap Papa menjadi wali nikahku karena perbuatannya yang telah lepas tanggung jawab selama kurang lebih dua puluh tahun, tetapi sebagai seorang muslimah, tak mungkin mengabaikan aturan mengenai wali nikah seorang perempuan yang tak lain adalah ayah kandungnya. Namun, tak mungkin juga membiarkan Mama tak menghadiri pernikahanku nanti.

Akhirnya, kuputuskan untuk tidak mencari keberadaan Papa, demi tetap bisa terlaksananya pernikahan yang kami harapkan lancar dan tak menimbulkan permasalahan yang lebih besar lagi. Acara pertunangan pun akhirnya bisa berjalan sesuai jadwal yang telah ditentukan di kota tempat tinggalku, Majalengka.

Hambatan menuju hari pernikahan pun tak hanya sampai di situ. Setelah meminta restu Bapak dan keluarga besar suami, keluarga kami pun menyusun tanggal pernikahan yang diputuskan 2 Desember 2007. Aku dan suami mengurus semua keperluan pernikahan sendiri, dari mulai mencari perias pengantin, membeli cincin pernikahan dan seserahan, hingga harus bolak-balik Cirebon-Majalengka untuk mengurus administrasi ke kantor KUA tempat tinggalku.

Permasalahan kembali muncul kala Mama yang seorang ibu tunggal, harus mencari cara untuk menutupi kekurangan biaya pernikahan yang ternyata masih kurang dari uang dapur yang diberikan suamiku. Tak ada saudara yang bisa membantu keuangan kami kala itu. Kondisi kedua saudara Mama pun sedang dalam kondisi tak memungkinkan kala itu.

Mama harus berjuang sendiri mencari kekurangan itu dengan meminta bantuan dari teman-temannya. Tak mungkin meminta lagi kekurangan uang pada suami, karena yang kutahu, dia pun berjuang sendiri untuk mendapatkan biaya pernikahan kami yang tak sedikit, tanpa meminta bantuan dari orang tua dan keluarganya.

Tak hanya itu, masalah kembali datang saat udangan yang disampaikan Mama pada keluarga besar almarhum Kakek melalui sambungan telepon, ternyata ditanggapi sikap yang kurang sopan oleh keluarga besar yang rata-rata tinggal di Bandung. Mereka berharap kami datang langsung, tetapi karena kondisi Mama yang mengurus semua keperluan pernikahanku sendiri, hingga tak memungkinkan untuk bisa datang langsung ke Bandung.

Suamiku pun mengurus pernikahan kami sendiri di Cirebon, karena keluarga suami baru bisa datang beberapa hari menjelang hari pernikahan. Beruntungnya, suami mendapatkan teman-teman yang baik dan peduli, yang mau ikut membantu mengurus persiapan hingga acara sakral berlangsung.

Keluarga besar Kakek pun akhirnya tak menghadiri acara pernikahan kami. Hanya dua orang saudara Kakek yang datang. Hal itu tentu membuatku sedih. Hanya keluarga Mama yang terdiri dari keluarga kakak dan adik lelakinya saja yang ikut memeriahkan acara pernikahan kami. Namun, meskipun begitu, aku tetap bersyukur, karena lelaki yang telah menghalalkanku saat itu adalah sosok lelaki baik hati dan bertanggung jawab. Siap menggenggam tanganku kala suka maupun duka. Memeluk dalam setiap sedih dan bahagia.

Perjalanan cinta kami yang penuh liku itulah, yang membuatku berpikir tentang sebuah arti sebenarnya pernikahan. Bahwa sejatinya mahligai yang dibangun di atas janji suci adalah sebuah bahtera yang harus ditempuh dengan kesungguhan hati, karena untuk sampai dalam tahap ini, kami telah melewatkan banyak waktu dan keadaan yang tak mudah.

Hikmah yang bisa dipetik dari kisah ini mengajarkanku untuk tak mudah menyerah meski rintangan menghadang. Apa yang telah aku dan suami jalani selama ini adalah pengalaman yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup. Kisah yang mulai kutulis dalam sebuah catatan harian seorang istri, yang ingin kupersembahkan kelak untuk suami, anak-anak dan keluarga besar.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel