Perpindahan TV Analog ke Digital Bisa Tambah Pendapatan Negara

Merdeka.com - Merdeka.com - Pengamat ekonomi digital dari Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Nailul Huda, menilai bahwa perpindahan dari TV analog ke digital merupakan langkah positif dalam pemenuhan siaran yang berkualitas kepada masyarakat.

"Pita frekuensi jadi bisa dihemat dengan adanya digitalisasi siaran. Nantinya, pita frekuensi siaran TV analog juga bisa digunakan untuk pengembangan teknologi lainnya seperti 5G dan sebagainya," ujarnya saat dihubungi oleh Merdeka.com, Kamis (25/8).

Dengan demikian, dia meyakini bahwa sekarang ini sangat penting untuk migrasi dari TV analog ke TV digital. Menurutnya hal tersebut akan memberikan tambahan pendapatan negara karena frekuensi TV analog dapat disewakan untuk kebutuhan lainnya.

Menurutnya, dibutuhkan kerjasama yang kuat dari masyarakat dan pemerintah agar proses migrasi ini dapat berjalan lancar sesuai rencana. "Kesiapan masyarakat dalam migrasi ini tidak bisa dibilang sudah siap sepenuhnya. Karena ada lapisan masyarakat yang belum aware terhadap sistem TV digital ini," jelasnya.

Meski demikian, pembelian Set Top Box (STB) yang menjadi elemen penting untuk kebutuhan migrasi ini relatif masih belum masif. Sehingga peran pemerintah dalam memberikan bantuan STB sangat dibutuhkan.

"Namun kendala lain yang sangat mungkin terjadi adalah ketidaksinkronan data penerima STB dari pemerintah. Selama ini data yang ada masih sangat tidak sinkron karena ada banyak orang yang tidak miskin masuk ke database orang miskin," terangnya.

Dia menyarankan agar distribusi STB gratis dilakukan secara door to door melalui skema subsidi tertutup khusus untuk masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, pengadaan STB bersubsidi juga perlu dilakukan mengingat kebutuhannya juga besar. Terlebih bagi masyarakat ekonomi rentan yang terkendala biaya untuk membeli STB pribadi.

"Saya rasa dengan cara memberikan subsidi ke produsen akan membuat mereka menjual produknya dengan harga yang lebih rendah dibandingkan harga normal. Dengan itu, diharapkan produksi akan meningkat dan STB juga tidak langka," tutup Nailul.

Reporter Magang: Hana Tiara Hanifah [azz]