Perpusnas sebut paradigma tentang perpustakaan telah berubah

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando menyebut saat ini paradigma perpustakaan telah berubah dan fokus pada transfer pengetahuan.

“Perpustakaan bukan lagi tempat kumpulan buku-buku, tetapi harus menjadi tempat transfer pengetahuan dengan prinsip perpustakaan menjangkau masyarakat,” ujar dia di Jakarta, Jumat.

Dalam pengembangan dan pembinaan kegemaran membaca, katanya, perpustakaan menjalankan program terkait pengembangan budaya literasi, salah satunya inovasi layanan Perpustakaan Nasional melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dalam mendidik pelaku kewirausahaan bagi masyarakat termarjinalkan.

Saat ini, Perpustakaan Nasional sedang menyusun konten terapan potensi lokal seluruh kabupaten/kota di Indonesia sebagai referensi dan tutorial bagi masyarakat. Rencananya, konten potensi lokal disajikan secara digital sehingga mudah diakses masyarakat dan diluncurkan pada awal Januari 2023.

“Literasi memiliki makna bentuk kedalaman pengetahuan seseorang pada ilmu pengetahuan tertentu yang diperoleh dari kegiatan membaca yang kemudian ditransformasikan dalam kegiatan produktif yang memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan kesejahteraan,” ujar dia.

Baca juga: Wakil Ketua MPR: Transformasi digital harus didukung regulasi/literasi

Terdapat lima tingkatan literasi. Pada tingkatan pertama, literasi adalah kemampuan untuk membaca, menulis, berhitung, dan pembentukan karakter. Tingkatan kedua, literasi adalah kemampuan mengakses bahan bacaan terjangkau yang akurat, terkini, terlengkap, dan terpercaya.

Pada tingkatan ketiga, literasi adalah kemampuan memahami yang tersirat dan tersurat. Pada tingkatan keempat, literasi adalah kemampuan melakukan inovasi dan kreativitas sebagai antisipasi terhadap perkembangan teknologi informasi.

Pada tingkatan kelima, literasi menyoal kemampuan memproduksi barang/jasa yang dapat digunakan dalam kompetisi global.

"Jadi pada tingkatan terakhir, bangsa yang memiliki literasi bukan hanya menjadi konsumen, tapi produsen,” kata dia.

Hal itu, katanya, yang menjadi konsep transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Ia mengatakan masyarakat diajak berpikir kreatif, inovatif, dengan kemampuan yang dimiliki sehingga mampu menjadi solusi atas ketidakberdayaan ketika menghadapi situasi sulit semasa pandemi COVID-19.

Baca juga: Boy Rafli sebut penguatan literasi karya sastra cegah intoleransi
Baca juga: Perpusnas berikan penghargaan pegiat pembudayaan membaca
Baca juga: Perpusnas luncurkan buku tematik dukung Presidensi G20