Perpusnas sebut pengguna layanan daring terus meningkat

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando mengatakan pengguna layanan daring terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

“Selama 2019 hingga 2021, tercatat pengguna layanan daring Perpusnas mengalami peningkatan. Pada 2021, kenaikan mencapai 55 persen dibandingkan 2020. Pada 2019, tercatat sebesar 7.111.746 pengguna, sementara pada 2021 mencapai 15.734.566 pengguna,” ujar Syarif di Jakarta, Selasa.

Hal itu disampaikannya dalam The 4th Forum of the Silk Road International Library Alliance (SRILA), yang mengangkat tema ““Praktik dan Tantangan Terbaik dalam Berbagi Konten Digital.”

Selain itu, jumlah pinjaman e-book di iPusnas mengalami kenaikan sejak 2019 hingga 2021. Tercatat pada 2019, jumlah pinjaman e-book sebesar 2.867.799, pada 2020 sebesar 4.378.753, dan pada 2021 sebesar 5.466.105.

“Sejak awal pandemi pada 2020, Perpusnas menyediakan layanan referensi virtual melalui live chat di www.perpusnas.go.id. Pengguna dapat membuat permintaan informasi dan referensi, yang dilayani oleh pustakawan referensi,” kata dia lagi.

Tercatat pada 2021, jumlah pengguna Tanya Pustakawan sebesar 17.827 permintaan informasi, sementara per Mei 2022 sebesar 35.522 permintaan informasi.

Syarif menambahkan pihaknya terus berusaha untuk mentransformasi perpustakaan, baik dalam ruang fisik maupun ranah digital.

Baca juga: IFLA sebut perpustakaan penting bangun masyarakat inklusif

Baca juga: Perpusnas sebut perpustakaan digital untuk perluasan akses bacaan

“Melalui upaya kolektif kita semua, perpustakaan akan terus berkembang dan menjadi warisan berharga untuk para generasi penerus kita jauh di masa depan,” terang dia.

Sejumlah layanan digital dikembangkan Perpusnas untuk melayani masyarakat di antaranya aplikasi perpustakaan digital iPusnas, portal penyedia publikasi ilmiah e-Resources, repositori Indonesia OneSearch, serta laman Khasanah Pustaka Nusantara (Khastara).

Selain itu, Perpusnas mengembangkan layanan pinjam mandiri menggunakan Smart Locker, di mana pengguna perpustakaan dapat mengambil secara mandiri buku yang dipinjam tanpa harus berinteraksi dengan pustakawan.

“Meskipun dalam situasi pandemi, pendayagunaan perpustakaan di Perpusnas terus melonjak. Jumlah pengguna online telah tumbuh dengan persentase dua digit dari tahun ke tahun sejak 2019, dan kami yakin tren ini akan terus berlanjut,” jelas dia.

Direktur Konten Digital dan Engagement, Qatar National Library (QNL), Marcin B Werla, menjelaskan salah satu tantangan besar yang dialami pihaknya adalah koleksi warisan budaya bangsa yang masih tersebar di berbagai negara.

QNL masih kesulitan dalam membangun koleksi bahan pustaka, terutama koleksi tentang Qatar dan negara teluk yang masih tersebar di India dan Inggris. Untuk itu, pihaknya berupaya mengumpulkan kembali koleksi tersebut melalui kemitraan dengan negara atau perpustakaan nasional yang memiliki koleksi tentang Qatar.

“Melalui kerja sama ini, QNL berusaha meminta kembali koleksi tentang Qatar dalam bentuk digital. Hal ini diharapkan akan semakin menambah banyak koleksi tentang Qatar, sehingga masyarakat dapat memanfaatkannya dengan baik,” ujarnya.

Asisten Direktur National Library Filipina, Edgardo Quiros, mengatakan Philippine eLibrary disetujui sejak November 2003 dan mulai beroperasi pada 2005.

Perpustakaan digital dibangun dalam tiga fase, dimana setiap memiliki target tertentu di antaranya pembangunan pusat data, pengembangan software, digitalisasi 25 juta halaman tentang Filipina, serta berlangganan database komersil.

“Kami juga menyediakan perpustakaan digital untuk perpustakaan umum yang tidak memiliki akses atau akses terbatas ke internet,” kata Quiros.

Direktur Eksekutif QNL, Tan Huism, mengatakan forum itu menjadi wadah penghubung antarperpustakaan nasional sehingga dapat bertukar pengalaman dan belajar dari satu sama lain.

SRILA merupakan organisasi kerja sama perpustakaan internasional yang bersifat nirlaba, terbuka, inklusif dengan prinsip saling belajar dan saling menguntungkan untuk mewujudkan perdamaian.

Saat ini anggota SRILA mencapai 26 negara yang dilalui jalur sutera. Sejak terbentuknya SRILA pada 2018, Perpustakaan Nasional Tiongkok sebagai pelopor telah menyelenggarakan berbagai kegiatan terkait kerja sama tersebut, seperti forum akademis, seminar, kunjungan, dan pelatihan.

Baca juga: Kepala Perpusnas: Literasi Indonesia terkendala kurangnya buku

Baca juga: Perpusnas: Rumah ibadah berperan tingkatkan kegemaran membaca